Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 62 Manja


__ADS_3

Besok menjelang, Muntaz sudah siap dengan seragam kerjanya. Wangi parfum yang menyeruak di ruangan langsung menyuruk hidung. Belia merasa wangi parfum yang disemprotkan Muntaz membuat sakit kepalanya yang semalam dia rasakan berangsur hilang, hanya sesekali terasa cenat cenut tapi tidak sakit seperti semalam.



Muntaz segera ke dapur untuk sarapan. Tadi pagi Belia sempat memasak karena dia merasa sudah sehat. Rencananya kali ini Belia akan ke Bidan memeriksa apakah dia benar-benar hamil atau tidak. Belia ingin memastikan dan mengetahui kondisinya sekarang yang sering mengalami sakit kepala yang tiba-tiba.



Meskipun kemarin dia sempat diperiksa oleh tespek dan hasilnya positif, namun Belia ingin meyakinkan kembali mencari opini kedua yang lebih akurat yaitu dengan mendatangi Bidan. Tapi semua rencana ini masih ditahasiakan dari Muntaz. Belia akan memberi kejutan pada Muntaz nanti saat pulang kerja.



Muntaz sarapan ditemani Belia, yang sesekali terlihat manja pada Muntaz. "Bel, kau tidak makan?" tanya Muntaz seraya melihat heran ke arah Belia. Belia menggeleng dengan wajah yang masih manja. Muntaz merasa tidak biasa dengan tingkah laku Belia yang manja hari ini.



"Kau tidak makan, Bel?" ulang Muntaz.


"Tidak, Belia nanti saja. Abang saja duluan," sahut Belia. Wangi parfum Muntaz sekali lagi membuat Belia merasa betah dekat Muntaz dan seakan tidak ingin pergi.



"Ya sudah aku pergi dulu ya, tapi kau benar nih sudah baikan?" Muntaz merasa khawatir dengan keadaan Belia yang tadi malam masih merasakan sakit kepala.


"Belia sudah baikan, Abang. Jadi Abang tidak usah khawatir," ucap Belia menenangkan Muntaz yang khawatir.


"Tapi kamu mau masuk kerja, tidak?" tanya Muntaz. Belia mengangguk, hari ini rencananya Belia akan bekerja, setelah pulang dari toko ia akan langsung ke Bidan Naura untuk periksa kehamilan.



"Ya, sudah kalau begitu aku pergi, ya!" Muntaz kini benar-benar pamit, namun dengan cepat Belia meraih tangan Muntaz dan memeluknya erat.

__ADS_1



"Abang jangan dulu pergi, Belia masih pengen mencium wangi parfum Abang," rengek Belia dengan tatapan memohon. Muntaz semakin heran dengan sikap Belia yang tidak biasanya.



"Bel, aku harus pergi. Kamu kalau mau pakai parfum, pakai saja kalau kau pergi kerja," ujar Muntaz seraya menatap Belia. Namun Belia membalas tatapan Muntaz dengan sendu.



"Ya, sudah, aku pergi ya!" pamit Muntaz dan sekarang dia benar-benar pergi. Belia memberi lambaian pada Muntaz sebagai pengantar kepergian suaminya.



Kini Belia segera bersiap untuk pergi bekerja, sebab Bidan Naura buka prakteknya mulai jam tiga sore. Sebetulnya pagi ini pun Belia bisa diperiksa jika memang dia mau ke Puskesmas terdekat ke tempat Bidan Naura berdinas. Namun karena keadaannya merasa sudah mulai membaik, Belia akhirnya memutuskan saat pulang kerja saja langsung ke rumah Bidan Naura.




"Bel, sebenarnya aku mau cerita sama kamu, tapi janji kamu jangan kaget, ya," kata Sela serius. Belia mengangguk, dia juga sama penasaran dengan cerita Sela yang sepertinya menarik.



"Bel, aku saat ini sudah mulai dekat dengan Bang Najid, apakah kau tidak keberatan?" tanya Sela ragu.


"Keberatan apa maksudnya Sel? Aku tidak merasa keberatan kau ada hubungan dengan Bang Najid," sergah Belia tidak paham.


"Serius, nih?"


"Serius dong, Sel. Aku sudah punya suami dan sejak awal pun aku tidak ada niat dekat dengan Bang Najid," sanggah Belia serius.

__ADS_1


"Nian, Bel?"


"Nianlah, masa bohong?"


"Kalau begitu makasih, ya, Bel. Doakan kami jadian," ujar Sela senang. Belia pun sama merasa senang mendengar kabar Sela ada kemajuan dalam hal asmara.


Pulang dari bekerja Belia langsung menuju rumah Bidan Naura seperti yang dia niatkan sejak pagi. Tiba di sana Belia menunggu dua pasien lagi untuk menunggu antriannya. Dan akhirnya setengah jam kemudian nama Belia dipanggil.



Bidan Naura menyuruh Belia untuk diperiksa urinnya sembari dibekali alat tespek. Beberapa menit kemudian akhirnya hasil tespek Belia keluar dan dinyatakan positif hamil. Tespek Belia bergaris dua, hal ini membuat Belia gembira.



Kemudian Belia berbaring untuk pemeriksaan selanjutnya. Kehamilan Belia ternyata baru menginjak usia tiga minggu. Bidan Naura memberi resep obat dan pereda mual dan vitamin untuk Ibu hamil serta menyarankan Belia untuk minum susu ibu hamil yang kaya asam folat. Belia pun dipersilahkan pulang oleh Bidan Naura dengan perasaan bahagia.



Belia meletakkan obat ibu hamil dan tespek yang kemarin di atas meja rias yang berada dj kamar supaya dilihat Muntaz.



Kemudian jam 20.30 malam suara motor Muntaz sudah terdengar. Belia bersiap menyambut Muntaz dengan perasaan bahagia. Muntaz memasukkan motornya, kemudian langsung masuk kamar untuk segera mandi karena dia sangat merasa gerah.



Setelah keluar dari kamar mandi, Muntaz masih belum sadar bahwa di meja rias ada hasil tes kehamilan dan vitamin ibu hamil. Saat Muntaz membalikkan tubuhnya, tiba-tiba Muntaz menjatuhkan sesuatu dari meja itu. Pada saat akan dia ambil, benda itu ternyata tespek. Muntaz merasa heran, dia mencari Belia dan menanyakan tespek itu milik siapa.



"Bel ini tespek milik siapa?" tanya Muntaz heran dan berharap jawabannya adalah milik Belia. Belia sejenak diam lalu menjawab.

__ADS_1


"Itu milik Belia." Jawaban Belia membuat Muntaz ternganga.


__ADS_2