Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 63 Muntaz yang Bahagia


__ADS_3

"Apa! Nian ini tespek milik kau, Bel?" tanya Muntaz tidak percaya. Dipegangi dan dipandanginya tespek itu dengan rasa tidak percaya. Sebulan yang lalu hampir tiap hari dia menyuruh Belia tes kehamilan dan hasilnya nihil. Namun kini di depan matanya dia pegangi alat tespek yang garisnya dua, tidak seperti sebulan yang lalu yang sering dilihat Muntaz adalah garis satu yang membuatnya kecewa.



"Bel, ternyata kau hamil. Aku senang nian, Bel," ujar Muntaz bahagia seraya menghambur ke dalam pelukan Belia. Belia apalagi, kebahagiaan tiada terkira, terlebih melihat Muntaz yang begitu antusias. Di sana tangisan Muntaz pecah, dia benar-benar tidak menyangka. "Mungkin ini jalan Tuhan untukku supaya tidak sedih karena dipanas-panasi Novi." Muntaz berbisik di dalam hatinya.



"Bel, mulai sekarang kau jangan begawe lagi ya, aku mohon. Jaga kesehatan bayi dan dirimu. Kau jangan sampai kelelahan. Aku mau kau dan bayi kita sehat sampai tiba lahiran. Aku senang nian Bel," ulang Muntaz lagi sangat antusias menyambut kehadiran darah dagingnya yang masih di dalam rahim Belia.



"Tapi kapan kau periksa, kenapa tidak bilang aku kalau kau mau periksa kehamilan?"


"Belia tadinya ingin kasih Abang kejutan, terlebih Abang sibuk begawe, Belia tidak mau ganggu Abang," alasan Belia membuat Muntaz terharu.


"Kau ini Bel, manis nian. Terimakasih pengertianmu, Bel. Tapi jika kau sakit dan tidak kuat lagi, kau harus kasih tahu aku. Aku tidak ingin kau pergi sendiri berobat," ujar Muntaz khawatir.



"Tidak apa-apa Abang. Selama Belia masih kuat, Belia tidak ingin merepotkan Abang, kecuali kalau Belia sudah benar-benar tidak kuat, maka Belia pasti minta tolong Abang.



"Tapi, Belia belum mau berhenti kerja sampai kondisi Belia masih memungkinkan. Apakah Abang tidak keberatan?" lanjut Belia memohon.



Muntaz terdiam, sebetulnya dia tidak ingin mengijinkan Belia bekerja lagi. Terlebih sekarang dia sedang hamil. Dan sekarang Muntaz sudah merasa nyaman dan menemukan rumah yang sebenarnya, yaitu Belia yang dulu awal-awal pernikahan sempat disia-siakan. Jika kini dia biarkan Belia cari nafkah juga dengan keadaan Belia sedang hamil, apa kata dunia? Tapi sisi hatinya yang lain, ini saatnya Muntaz belajar memahami Belia. Belia meminta masih ingin bekerja dan jika dia melarang, dia takut hal ini menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Muntaz takut Belia bosan dan lain sebagainya.

__ADS_1



"Baiklah, aku ijinkan kau masih bekerja. Aku hanya tidak ingin kau merasa dikekang, silahkan asal kau jaga kesehatan sendiri dan jabang bayi dalam kandunganmu. Aku tidak ingin mengekangmu atau melarang-larangmu, Bel. Selama kau kuat sialhkan. Dengan catatan kau sehat dan menjaga kandunganmu," peringat Muntaz memberi ijin namun penuh dengan kata-kata nasihat.



"Terimakasih banyak atas pengertian Abang. Belia masih ingin beraktifitas seperti biasanya, itu saja. Dan sepertinya tubuh Belia makin kesini makin sehat deh, Bang," ucap Belia meyakinkan Muntaz.



"Ya sudah, aku tidak masalah kalau kau masih kua. Eh, ngomong-ngomong, Ibu sama Mamak apakah sudah kau kasih tahu bahwa kau akan memberi mereka cucu?" Belia menggeleng.



"Ibu sudah tahu Belia mengandung, sebab Ibulah orang pertama yang mencurigai Belia berbadan dua. Dan saat sakit kemarin, Ibu datang ke rumah menemani Belia dan memberi Belia obat tradisional, dan saat Ibu mengurut badan Belia, di situlah Ibu curiga kalau Belia sedang hamil," tutur Belia dengan mata berkaca-kaca.



"Belum. Tapi tidak dikasih tahu oleh kitapun, Ibu pasti akan segera memberi tahu," ujar Belia yakin jika Bu Enok akan segera memberi tahu Mak Susi.



Benar saja, sehari setelah Belia diketahui hamil, Mak Susi datang ke rumah Muntaz dengan membawa beberapa asoy (kantong kresek) yang di dalamnya terdapat berbagai makanan untuk Belia. Rujak, buah-buahan, dan makanan khas untuk ibu hamil biberikan untuk Belia.



Belia senang dengan reaksi mertuanya yang menyambut gembira kehadiran calon cucunya yang kini masih dalam kandungan.


__ADS_1


Sebulan kemudian, tepatnya hari di mana jadwal pemeriksaan kandungan Belia. Belia memilih periksa kehamilan di Bidan Naura. Belia datang bersama Muntaz sore hari. Kebetulan Muntaz kerja sampai sore dan tidak lembur. Paginya sebelum Muntaz pergi bekerja sudah wanti-wanti pada Belia untuk pergi memeriksa kehamilan bersamanya. Beliapun tidak membantah. Sepulang bekerja Belia langsung ke tempat praktek Bidan Naura. Muntaz pun demikian, dia langsung ke tempat Bidan Naura sesuai kesepakatan bersama Belia.



Pulang dari Bidan Naura, Muntaz dan Belia mampir ke sebuah warung tenda pinggir jalan yang khusus menyajikan makanan khas laut kesukaan Belia. Terlebih sekarang sejak hamil Belia memang hobi betul makan makanan laut. Apa saja disantap kecuali kerang.



Saat Muntaz dan Belia sedang menikmati makanan yang sudah tersaji di mejanya, dari arah depan Muntaz melihat penampakan Novi. Cepat-cepat Muntaz berinisiatif ingin menyuapi Belia dengan semesra mungkin. Kini dalam diri Muntaz hanya satu tekad, ingin membuat Novi panas dengan memperlihatkan kebahagiannya bersama Belia.



Muntaz mulai beraksi menuangkan cumi asam pedas yang pedasnya sedang-sedang saja ke dalam piring Belia. Lalu satu suapan cumi bersama nasinya disuapkan ke dalam mulut Belia tepat saat Novi berjalan di samping meja Muntaz.



"Aaa, buka mulutnya, Bel. Ini enak sekali. Biar kamu yang sedang hamil ini tidak kekurangan zat besi sebab makanan laut ini banyak mengandung zat besi, supaya tidak terkena gangguan kurang darah," ucap Muntaz seraya menyuapkan sesendok cumi asam pedas ke dalam mulut Belia.



Novi yang berjalan di samping meja Muntaz, sontak melihat ke arah Muntaz dengan ujung matanya. Ada tersirat rasa cemburu di wajah Novi. Kemudian Novi berjalan lagi bersama seorang temannya menempati meja yang sudah kosong oleh pengunjung lain.



Muntaz dan Belia menyudahi makan di warung tenda pinggir jalannya setelah melihat Belia kenyang. Puas sudah Muntaz melihatnya, terlebih Belia dikehamilan pertamanya tidak sama sekali mengalami morning sick atau mual muntah parah. Malah yang Belia rasakan sekarang adalah selalu merindukan Muntaz. Pulang kerja saja Muntaz sudah ditungguinya di depan teras hanya sekedar mencium bau parfum yang dipakai di badan Muntaz.



"Ayo!" Muntaz menjulurkan tangannya meraih tangan Belia lalu digenggamnya, kemudian mereka keluar dari warung tenda sea food itu setelah membayar semua makanan yang sudah dipesannya.

__ADS_1



Muntaz keluar sembari meremat jemari Belia menuju parkiran motor. Keadaan ini rupanya tidak luput dari perhatian Novi. Novi merasa panas dan cemburu, terlebih tadi saat jalan di samping meja Muntaz, Novi mendengar bahwa Belia ternyata hamil, ironis dengan dirinya yang sampai saat ini ternyata belum bisa hamil juga. Kemarin saat sengaja kirim pesan pada Muntaz, sebenarnya Novi hanya pura-pura untuk menunjukkan bahwa dia bisa melupakan Muntaz dan sudah hamil. Tapi buktinya Novi hanya bersandiwara.


__ADS_2