
Novi masih saja menyangkal bahwa dia tidak menubruk Belia. Akan tetapi Muntaz keukeuh menuding Novi yang sengaja menubruk Belia.
"Aku jingok dari depan WC itu, kau sengaja numbur biniku," tuding Muntaz lagi. Novi makin terdesak dan terkejut dengan perubahan sikap Muntaz yang begitu kasar.
"Bang, aku tidak apa-apakan bini Abang. Dia jatuh *dewe* kok, dianya saja yang manja. Pilih bini kok manja dan lembek," ucap Novi masih menyangkal diakhiri kalimat ejekan yang membuat Muntaz emosi.
"Jaga mulut kau ya, jika aku tahu dari dulu kelakuan busuk kau, aku tidak sudi kenal kau. Pergi kau!" usir Muntaz seraya mengangkat tubuh Belia yang tercampak di bawah.
Novi terbelalak tidak percaya dengan ucapan kasar Muntaz baru saja. Padahal niatnya barusan ingin mempengaruhi Muntaz supaya tidak peduli sama Belia, namun dugaan Novi salah. Rupanya Muntaz begitu membela bininya.
"Tega kau Bang bicara seperti itu sama aku." Novi nampak kecewa setelah Muntaz bicara kasar padanya dan hendak berlalu, namun dari arah berlawanan seorang laki-laki dewasa sekitar 35 tahun datang menghampiri dan melihat heran pada Novi yang terisak.
Muntaz terperangah saat melihat lelaki yang baru datang itu. Muntaz mengenalinya, rupanya dia adalah orang yang mengaku suaminya Novi saat dia tiba-tiba datang ke kafe dan membogemnya waktu itu.
__ADS_1
"Kau lagi, kau yang ganggu bini uwong itu yang tempo hari aku bogem? Kau tidak kapok rupanya," tudingnya seraya hendak melayangkan pukulan ke arah perut Muntaz, namun Muntaz berhasil menghindar.
"Kau jangan asal mangap, perlu kau tahu, bini kau itu banyak bikin kasus dengan banyak lanang. Dia dekati lalu dia campakkan setelah dia dapat duitnya." Mendengar pengakuan Muntaz, suaminya Novi yang bernama Imam terbelalak tidak percaya.
"Dan saat aku kepergok oleh kau di kafe waktu itu, itu karena bini kau yang WA aku dan mengajak ketemuan dengan dalih mau bayar hutang," tegas Muntaz penuh penekanan.
"Kau lakinya wajar kau bela, tapi setahuku bini kau datang kembali ke Kota ini bukankah demi kabur dari kau? Bini kau cerita kau kasari dia dan dia tidak kau kasih nafkah beberapa bulan ini. Itu sebab aku pinjamkan duit sama bini kau, karena dia sudah jual derita, nangis-nangis minta dikasihani," beber Muntaz panjang. Imam terkejut dengan pengakuan Muntaz kali ini. Dia nampak geram antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Muntaz barusan.
"Kau sama saja, mau diajak dan mudah kena tipu daya," ujar Imam meremehkan.
__ADS_1
"Ohhh jadi, saat kau tiba-tiba datang ke kafe yang aku dan bini kau datangi, kalian yang sudah merencanakan semua. Kau pura-pura pergoki kami dan kau tuding aku sebagai selingkuhan bini kau. Kau bogem aku supaya aku pergi dan nelupakan duit yang dipinjam bini kau. Benar, kan? Ngaku kau!" tekan Muntaz membuat Imam semakin terdesak.
Imam terhenyak dengan tuduhan Muntaz barusan, dia akhirnya seakan mengalah dan meraih lengan Novi kasar seraya menariknya menjauh dari Muntaz dan Belia.
"Pergi kau, bawa singa betinamu jauh-jauh," usir Muntaz geram.
Setelah Novi dibawa pergi oleh Imam beberapa saat yang lalu, Muntaz lega. Kini dia kembali menghampiri Belia yang sejak tadi menunduk merasakan sakit di lututnya.
"Ayo, Bel, sebaiknya kita pulang," ajaknya seraya meraih Belia yang lututnya kesakitan. Muntaz terpaksa mengajak Belia pulang, padahal masih banyak tempat di BKB ini yang belum mereka putari.
jingok \= lihat
numbur \= nubruk, nabrak
dewe \= sendiri
__ADS_1