Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 26 Mengancam Najid


__ADS_3

Muntaz masih menjalankan motor menuju rumahnya. Dalam perjalanannya masih terbayang kata-kata Belia tadi. Juga bayangan Belia bersama lelaki lain yang dia tahu bernama Najid. Muntaz melihat lelaki itu sudah beberapa kali kepergok bersama Belia, saat di Pulau Kemaro maupun di depan sebuah ruko showroom mobil.



Muntaz penasaran dengan lelaki itu, kalau begini caranya posisi dia kini terancam. Lelaki yang dikenal Bos showroom itu jelas lebih mapan dibanding dirinya. Usianya tidak jauh meski Najid lebih tua tiga tahun darinya. Dan wajahnya tidak jelek-jelek amat.



Tiba-tiba dalam hati Muntaz terlintas perasaan takut, takut jika Belia benar-benar meninggalkannya demi lelaki lain, sebab sejak penampilan Belia berubah dia melihat sendiri setiap lelaki yang kebetulan berpapasan dengan Belia, selalu berdecak kagum melihat Belia.



"Aku harus mendatangi lanang tak tahu diri itu, biar dikasih peringatan, supaya kapok dia," ujarnya sembari membelokkan motornya ke arah ruko tempat Belia bekerja.



Melewati toko buku tempat Belia bekerja yang sudah tutup, dua ruko lagi ke depan maka di situ ruko showroom milik Najid. Muntaz berhenti tepat di depan ruko itu dan memarkirkan motornya sejenak di sana. Dia langsung masuk ruko yang kebetulan belum tutup. Beruntung bagi Muntaz, Najid yang menjadi sasaran utamanya masih berada di dalam ruko itu. Muntaz langsung menghampiri dan berkata-kata penuh ancaman.



"Jauhi bini orang, jika tidak, maka kau tahu akibatnya!" ucapnya bernada ancaman. Najid yang kaget hanya melongo dan bergetar ketakutan. Perlahan Najid mulai menguasai dirinya dan berusaha tenang.



"Kau siapa, bini orang yang mana yang sudah aku dekati, jangan nuduh sembarangan! Jika tuduhan kau tidak benar maka mampus kau dikeroyok pegawaiku!" tandas Najid mengancam balik.



"Belia, kau tahu perempuan itu? Dio bini uwong dan uwongnya tuh aku. Aku lakinya, maka kau jauhi dia, jangan coba-coba kau dekati dia lagi. Kalau tidak, maka kau tahu rasa, apa yang akan terjadi dengan ruko kau ini!" Muntaz tidak kalah sengit mengancam balik Najid dengan mengangkat kedua kerah bajunya lalu dihempaskan begitu saja, sehingga Najid kesesakan.


__ADS_1


Setelah mengancam, Muntaz pergi begitu saja dengan wajah yang masih emosi. Meninggalkan Najid yang terengah-engah karena nafasnya yang kesesakan saat kerah bajunya ditarik Muntaz. Najid sebenarnya bingung juga kesal. Namun mau melawan dia merasa tidak pantas, sebab lelaki yang mengancamnya barusan seperti lelaki yang dia temui di Pulau Kemaro tempo hari. "*Jangan-jangan benar dia suaminya*?" pikir Najid penuh tanda tanya. Sebab laki-laki yang barusan memang mirip dengan laki-laki yang menarik tangan Belia saat di Pulau Kemaro.



"Tapi, apakah benar dia suaminya? Belia tidak pernah bilang bahwa dia sudah bersuami. Nampaknya dia kasar. Mau-maunya Belia jadi bininya," bisiknya kecewa.



Setelah mengancam Najid, Muntaz segera melajukan motornya menuju rumah. Dia berharap lelaki bernama Najid itu menjauhi Belia setelah diancamnya. Tiba di rumah, Muntaz heran melihat lampu teras masih gelap. Saat membuka pintu, di dalam pun ruangannya masih gelap. Muntaz langsung menuju saklar lampu dan menyalakannya. Suasana rumah hening seperti tidak ada kehidupan.



Muntaz berjalan menuju kamar yang juga masih gelap. Saat menyalakan lampu, juga tidak ditemukan Belia. Lantas Muntaz keluar kamar dan mencari Belia ke dapur juga ke kamar sebelah, namun nihil. Belia tidak dia temukan.



"Bel, Belaaa, kau di mana?" panggilnya. Muntaz mulai resah, Belia tidak ada di rumah. Belia pergi dari rumahnya. "Belaaa, kenapa kau pergi?" teriaknya seraya menampar tembok dengan sangat kesal. Muntaz mencoba menghubungi nomer Belia, namun nomer telpon Belia tidak aktif.




Saat berpikir begitu, terlintas ide dalam kepala Muntaz untuk mencari tahu keberadaan Belia ke Mamaknya, dia berpikir Belia di sana. Namun saat berhasil menghubungi Mak Susi, jawaban Mak Susi membuat Muntaz kecewa. Belia dari sejak sore tidak ke rumah Mak Susi.


"Kau bebala dengan bini kau sampai dio idak katek?" duga Mak Susi di pesan WA.


"Kau carilah ke rumah wong tuonyo, pandai-pandailah kau bujuk wong tuonyo," tukas Mak Susi masih pesan WA.


Sejenak Muntaz bingung. Apa yang mau dia katakan pada orang tua Belia jika sudah begini? Mungkinkan karena pertengkaran ini akhirnya Belia mengadu? Pikiran Muntaz sungguh sangat kalut, dengan memberanikan diri dia pergi ke rumah mertuanya untuk menyusul Belia, sukur-sukur Belia mau pulang.


__ADS_1


Saat Motor Muntaz sudah mendekati rumah mertuanya, Muntaz mematikan mesin motor dan mendorongnya, lalu menepikan motornya di pinggir rumah mertuanya. Muntaz berjalan pelan menuju depan pintu rumah mertuanya, lalu sejenak berdiri di depan pintu seraya termenung. Sepertinya Muntaz sedang berpikir sekaligus menenangkan gejolak di dalam dadanya yang sejak tadi bergemuruh.



Dari dalam rumah, tepatnya kamar yang dulu ditempati Belia saat gadis, yang letaknya di samping ruang tamu terdengar beberapa orang berbincang, sepertinya sedang membujuk Belia, setidaknya itu yang Muntaz dengar. Sebab, jarak pintu depan dengan jendela kamar itu sangat dekat, meskipun jendelanya ditutup.



"Kau pulanglah dulu Neng, jangan ketegangan dilawan dengan ketegangan. Berikan suamimu kesempatan sekali ini saja. Jika dia masih seperti itu juga, maka Ibu menyerahkan semua keputusan ada padamu. Apa yang mau kamu putuskan, Ibu terserah kamu, asalkan kelak kamu tidak menyesal," ujar Bu Enok sepertinya sedang memberi nasihat pada Belia.



Muntaz menarik nafasnya dalam mendengar ibu mertuanya sedang membujuk Belia. Kini dia harus berani ke dalam dan menghadapi kedua orang tua Belia dan meminta maaf atas kesalahannya pada Belia.



"Assalamu'alaikum!" Akhirnya ucapan salam keluar dari mulut Muntaz yang sontak dibalas semua orang yang berada di dalam.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua.


Muntaz tersenyum menghampiri Ayah mertuanya yang pertama kali menyambut, kemudian menyalaminya. Tidak berapa lama Bu Enok datang dari arah kamar yang tepat berada di samping ruang tamu. Muntaz juga langsung menyalaminya dengan hormat.



"Bu!" sapanya. Muntaz memang selalu mengucap salam kepada kedua orang tua Belia maupun pada kedua orang tuanya, kecuali pada Belia. Tidak berapa lama Cica adik Belia muncul dan menghampiri Muntaz lalu menyalami tangan kakak iparnya. Mata Muntaz memutar ke segala arah mencari sosok Belia. Namun yang dicari sepertinya enggan muncul. Tapi Muntaz tahu Belia ada di kamar samping ruang tamu.



Bu Enok masuk kamar terdengar sedang membujuk Belia. "Neng, ada suami kamu. Temui dulu ya, ambilkan air buat dia minum." Bu Enok membujuk seraya mengusap-usap kepala Belia dengan sayang. Belia tidak menyahut, pikirannya terlanjur hanyut dengan rasa kecewa yang ditorehkan Muntaz kemarin malam.


bebala \= bertengkar

__ADS_1


dio idak katek \= dia tidak ada


__ADS_2