Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 24 Hutang Makan dan Numpang Tidur


__ADS_3

"Najid lagi, Najid lagi. Lagi-lagi lanang itu. Kau sampai selembut itu mengucapkan namanya. Apa kau jatuh cinta dengannya?" tuding Muntaz marah.



Belia masih berdiri ketakutan melihat Muntaz marah, kali ini hanya tatapan kecewa dan sedih mendominasinya. Dia kecewa dan sedih dengan sikap Muntaz yang sudah keterlaluan merusak semua alat make up nya dan menudingnya mencintai lelaki lain selain Muntaz. Padahal selama ini mati-matian dia mencintai Muntaz, dan dia berdandan begini demi menarik hati Muntaz.



Dan alat-alat kecantikan yang baginya sederhana itu hanya bagian dari usahanya untuk menarik simpatik hati Muntaz dan cinta Muntaz. Namun pada kenyataannya dia malah dituding tidak benar seperti itu. Dan tentang foto yang diperlihatkan Muntaz dari Hpnya tentang dirinya dan lelaki bernama Najid, Belia benar-benar tidak tahu kenapa ada orang yang bisa memotonya dan mengirimkannya pada Muntaz. Padahal dirinya dan lelaki bernama Najid, benar-benar tidak ada hubungan apa-apa. Murni hanya kenal biasa. Mengingat itu, Belia merasa sangat sedih, pengorbanan dan cintanya pada Muntaz seakan sia-sia.



Belia mendongakkan kepalanya perlahan menjadi tegak, dia akan berusaha melawan ketidakadilan ini, ketidakadilan yang dituduhkan Muntaz padanya. Hatinya berkobar menjadi panas, sebab dia bukan perempuan yang binal seperti apa yang dikatakan Muntaz. Belia berusaha menyeka sisa air matanya, dia kini harus berusaha meluruskan kata-kata Muntaz.



"Apa hak Abang merusak alat-alat make up sederhana Belia ini? Tidakkah Abang tahu, ini dibeli dari hasil keringat Belia sendiri, bukan dari uang Abang?" Belia mencoba tegar memulai pembelaan buat dirinya sendiri.



"Kau pikir semua ini tidak dibeli dari uangku, daripada kau pakai untuk membeli make up- make up ini dan dandanan kau hanya buat lanang lain, percuma. Hanya buang-buang duitku saja," cetusnya keras masih menyudutkan Belia. Belia jelas tidak terima sebab selama beberapa hari dia berdandan seperti ini hanya untuk Muntaz, ingin menarik hati Muntaz.



Belia menggeser tubuhnya mendekat ke arah Muntaz dan menatap wajah tampan yang berubah seperti serigala lapar malam ini, tanpa rasa takut.

__ADS_1


"Jangan pikir uang pembelian make up yang harganya tidak seberapa ini, uang dari pemberian Abang. Perlu Abang tahu, uang yang Abang berikan setiap bulan yang hanya dua juta itu hanya cukup untuk biaya makan, bayar listrik dan banyu saja, kalaupun ada sisa seribu dua ribu itu Belia sisihkan untuk membeli gula dan kopi Abang."


Belia menjeda sejenak kata-katanya yang semakin memburu, nafas dan ucapan yang keluar dari mulutnya berlomba-lomba ingin keluar lebih dulu, terasa sesak baginya sebab dia tidak biasa bicara dengan setegang itu di hadapan siapapun, terlebih ini di depan suami. Air matanya yang tadi surut kini turun lagi, menandakan betapa dia sangat sakit.



Sementara Muntaz masih berdiri di tempatnya, menatap tajam tatapan mata Belia yang menusuk masuk melalui retina matanya, ada desiran aneh dalam dirinya saat tatapan mata itu tajam menusuk matanya, seperti ada rasa tidak tega dan perasaan bersalah dalam dirinya yang tiba-tiba menyeruak dari mata langsung menuju dalam hatinya.



"Kalau Abang tidak percaya, mari kita hitung biaya hidup kita sebulan berikut biaya banyu dan listrik, semua dua juta itu pas-pasan dan kadang tekor lima puluh sampai delapan puluh ribu, Abang mau tahu kekurangannya dari mana? Belia tutupi dari gaji Belia. Tidakkah Abang tahu, semua kebutuhan yang serba naik membuat Belia pusing kepala mengelola uang dua juta dari Abang sebulan. Tapi semua bisa cukup jika Abang cuma makan nasi, tahu, tempe doang," jedanya dengan suara yang bergetar, Belia kini tidak gentar berkata-kata di hadapan wajah suaminya yang tampan tapi kini menyebalkan baginya.



"Tapi semua itu masuk dalam tubuhmu juga Bel, aku mencukupi makanmu dari uangku, jangan kau sangkal itu!" Muntaz kini bersuara walau dalam hatinya ada rasa terenyuh melihat perempuan muda itu menangis sambil berkata-kata.




Muntaz terperanjat dengan ucapan Belia barusan. "Bukan itu maksudku, aku hanya ingin katakan jika uang itu habis buat makan aku dan kau, jika ada kekurangan, kau sebagai istri wajar menutupinya. Kau juga *begawe*," Muntaz memberikan pembelaan.



"Anggap saja hutang makan Belia dan numpang tidur di sini sejuta sebulan, akan Belia bayar besok."

__ADS_1


"Bela, apa-apaan kau ini, bukan itu maksudku. Apa yang kau makan dan tempat tinggal ini, aku tidak perhitungkan, kau jangan salah paham!" ucapnya memegang kedua tangan Belia.


"Aku hanya kecewa, kau berdandan cantik-cantik dan berubah berkerudung tapi hanya untuk memikat lanang diluaran sana, haram hukumnya Bela. Aku suami kau, apa kata orang memiliki istri yang *lanja lenje* di hadapan lelaki lain? Seperti kekurangan kasih sayang dari suaminya," tukas Muntaz masih menyudutkan Belia. Mendengar itu Belia semakin berkobar amarahnya. Padahal kalau melihat kenyataan, Belia memang kurang kasih sayang dari Muntaz.



"Cukup, jangan sudutkan Belia dengan tuduhan tidak benar Abang, asal Abang tahu, Belia berdandan seperti ini untuk siapa kalau bukan untuk Abang, untuk memikat hati Abang, bukankah Abang suka dengan dandanan menor seperti mantan pacar Abang si Novi itu, iya?"



"Di sini Belia sedang berusaha mencari simpatik Abang dan cinta Abang, tapi apa? Hanya sia-sia. Dan make up murah itu, yang bela-belain Belia beli untuk berdandan lebih terang seperti yang pernah Abang sampaikan di depan Mamak Abang tempo hari, itu hanya Belia beli dari uang gaji Belia yang tidak seberapa dibandingkan gaji Abang yang tujuh juta sebulan itu," lantangnya diiringi tangis yang semakin pecah.



"Jadi, jangan sembarangan menuduh Belia tidak benar. Mengenai laki-laki itu, hanya dia saja yang mengejar-ngejar Belia, Belia tidak binal seperti yang Abang tuduhkan, dan Belia tidak berselingkuh seperti Abang yang berselingkuh dengan mantan pacar Abang," tegas Belia lagi dengan cucuran air mata sembari berlari ke arah kamar sebelah dan masuk lalu menutup pintu dan menguncinya.



Muntaz terkejut mendengar semua pengakuan Belia barusan, saat menyadarinya Belia sudah tidak ada di hadapannya. Belia sudah berlari dan masuk kamar serta mengunci pintunya.


"Bel, Bela, buka pintunya. Aku mau bicara sedikit dengan kau. Ayo buka!" desaknya yang hanya dibalas isak tangis Belia dari dalam kamar.


Hati Belia sakit dan kecewa begitu dalam oleh perlakuan Muntaz. Kali ini benar-benar perlakuannya tidak bisa dimaafkan lagi. Belia bertekad akan mengembalikan semua uang yang dianggapnya hutang makan dan numpang tidur selama enam bulan menjadi istrinya. Dada Belia sakit, kini dia hanya mampu menangis atas kesedihan yang menimpa dirinya.


Bersambung

__ADS_1


lenje \= ganjen (tapi bukan konotasi negatif) bersikap manja yang menggemaskan/menjengkelkan sekaligus menyebalkan.


begawe \= kerja


__ADS_2