
Jam 16.00 tiba, Muntaz keluar dari PT tempatnya bekerja. Dia seakan tergesa setelah tadi menerima telpon dari seseorang. Suara telpon itu kini kembali berdering membuyarkan fokusnya menuju parkiran PT.
"Iya, tunggu sebentar, ya. Abang baru keluar PT," ujar Muntaz pada seseorang di telpon dengan begitu lembut. Kata 'Abang' yang disematkan barusan di telpon, jelas ditujukan pada seseorang yang spesial, tentunya bukan Belia sang istri yang selama ini masih belum sepenuhnya dia cintai.
"Taz, tumben kau buru-buru, biasanya kau ambil lembur. Ada apa dan mau kemana? Jangan bilang kau mau menemui si Novi, seperti yang kau bilang tadi di telpon. Ayolah, Taz. Jangan hiraukan dia lagi. Kau belum kapok, kejadian pada Bang Zailan senior kita yang kena tipu si Novi yang hampir saja mengkandaskan rumah tangganya," tegur Ridwan memperingatkan Muntaz dengan muka khawatir.
"Sudah, kau tidak perlu risau dengan apa yang akan aku lakukan. Lagipula aku cuma mau nagih duit di si Novi yang kala itu dia pinjam. Siapa tahu sekarang dia mau bayar."
"Awas, Hati-hati kau, Taz. Jangan kena lagi jeratnya. Alih-alih dia bukan bayar hutang, melainkan menjerat kau untuk terus memberinya duit. Apalagi kalau kau sudah diiming-imingi tubuh bohay dan seksi, mata kau bisa kalap, Taz."
"Hati-hati, Taz! Kalau kau sudah dibutakan oleh perselingkuhan, bahaya kau! Jangan sampai kau nodai pernikahan kau dengan perselingkuhan apalagi kalau kau terjerat perzinahan dengan bukan mahrom, dosa kau!" Lagi-lagi Ridwan sang teman memperingatkan Muntaz dengan sebegitu khawatir jika Muntaz terjerat dengan Novi.
"Kau ini takut nian, lagipula aku ketemu si Novi bukannya di hotel atau penginapan, aku tuh mau nagih hutang. Lagipula aku bukan berselingkuh dengan dia," bela Muntaz menepis kekhawatiran Ridwan padanya.
"Aku bukan apa-apa, aku hanya takut saja. Sebab, laki dia sampai saat ini masih mencarinya, setahuku si Novi dan lakinya belum bercerai. Si Novi selalu bikin ulah, itulah makanya dia kabur-kaburan ke kampung ini lagi. Apalagi kalau bukan ingin menghindari kemarahan lakinya yang marah karena si Novi ganggu laki orang. Kalau kau ketahuan berduaan sama si Novi, salah-salah kau kena labrak lakinya, dia pasti nyangka kau selingkuhannya." Ridwan panjang lebar menjelaskan.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan takut! Aku cuma mau nagih saja duit lima juta di si Novi, setelah itu aku balik rumah," ujar Muntaz menenangkan kekhawatiran temannya.
"Ok deh, aku pamit yo. Aku sekali ini saja tidak lembur, besok aku lembur," ucap Muntaz seraya berlalu dan menuju parkiran PT, lalu segera menjalankan motor ke tempat yang dijanjikan bersama Novi.
Ridwan sang teman menatap khawatir plus jengkel dengan keras kepalanya Muntaz. "Hati-hati kau, Taz. Kalau kau tidak pandai jaga diri, bisa kena jerat Novi. Kalau kau masih begitu, aku tak segan laporkan kelakuan kau ke Abang kau, Haraz biar tahu rasa," gimana Ridwan geleng-geleng kepala.
Sepuluh menit kemudian, Muntaz tiba di sebuah tempat makan sederhana. Di pojok meja pengunjung sudah ada Novi menunggu dengan menyambut manja kedatangan Muntaz. Muntaz memarkirkan motornya di depan halaman tempat makan sederhana itu, lalu menuju ke meja yang sudah ditempati Novi.
"Abang!" sambutnya sambil mencium pipi kanan dan kiri Muntaz. Muntaz terpana dengan sentuhan bibir Novi di pipinya. Harum tubuhnya menyeruak masuk ke dalam hidung Muntaz. Rencana awal yang sudah dirancang Muntaz untuk menanyakan uang lima juta yang dipinjam Novi dua minggu yang lalu, buyar sudah terhapus oleh pesona Novi yang menggila.
"Kamu sudah pesan makanan?" tanya Muntaz menatap mesra ke arah Novi. Novi menggeleng dan menatap Muntaz manja. Muntaz terpesona dengan senyuman Novi yang seakan menghipnotisnya. "Ok, kita pesan makanan dulu ya," ucap Muntaz mengalihkan fokus Novi yang sejak tadi menatap mesra padanya.
Kedatangan Pelayan warung makan sederhana itu membuyarkan fokus Muntaz dan Novi, lalu keduanya memesan makanan pada Pelayan itu. Lima belas menit kemudian, makanan pesanan mereka datang. Muntaz makan dengan lahap, begitu juga Novi.
__ADS_1
"Taz, kau di sini rupanyo. Tumben, biaso kau jam segini masih di PT, lembur?" ujar seseorang menegur Muntaz. Saat Muntaz menoleh rupanya dia Sabqi, tetangganya beda satu lorong dengan Muntaz. Muntaz terkejut dibuatnya saat yang menyapanya adalah tetangganya, alamat kejadian dia sedang makan bersama Novi akan sampai pada Mak Susi atau bahkan Belia istrinya, sebab istrinya Sabqi adalah teman Belia dan lumayan dekat.
"Kau dengan siapa, aku pikir Belia?" ujar Sabqi seraya menatap tajam ke arah Novi. Sabqi langsung mengalihkan tatapannya ke arah Muntaz. "Ya, sudah aku balik dulu ya, kebetulan aku sama wong rumah tuh. Kau ajaklah kali-kali wong rumah, jangan betino lain kau tenteng," ucap Sabqi seraya berbisik di telinga Muntaz saat mengatakan kata-katanya yang terakhir.
Seketika tubuh Muntaz panas dingin saat Sabqi bilang bahwa dia datang bersama bininya, Serena. Seperti yang dia tahu Serena itu teman Belia juga yang mulutnya sedikit ember, jika Serena melihat kebersamaan Muntaz dengan Novi bisa jadi ini sampai pada Belia ataupun Mak Susi. Muntaz berharap Serena tidak melihat dirinya ada di sini.
Setelah Sabqi pergi. Muntaz segera berdiri, dan buru-buru pamitan pada Novi, tidak lupa meninggalkan uang seratus ribu ke hadapan Novi untuk membayar makan berdua. "Nov, Abang pamit dulu ya, Abang buru-buru," ujarnya tergesa dan meninggalkan Novi yang heran.
Novi menatap kepergian Muntaz yang buru-buru dengan kecewa, padahal dia belum sukses dengan maksudnya. "Huhh, gara-gara lanang *nyenyes* itu, gagal rencanaku," umpatnya mengata-ngatai Sabqi dengan kesal.
Jam 7 malam Muntaz tiba di rumah. Namun saat dia mau membuka pintu, pintunya terkunci. Dia pikir Belia ada di dalam, untuk beberapa saat Muntaz menunggu Belia membukakan pintu untuknya. Lima menit menunggu, namun Belia tidak kunjung membuka pintu. Lantas Muntaz berinisiatif untuk mencari kunci di atas ventilasi.
Rupanya pintu itu dikunci Belia dari luar. Muntaz heran, kemana Belia pergi sampai pintu dikunci segala? Muntaz membuka pintu itu lebar-lebar lalu memasukkan motornya ke dalam. Lampu tengah dan dapur sudah dinyalakan Belia rupanya. Lauk nasi sudah terhidang di bawah tudung saji saat Muntaz melihatnya ke dapur.
__ADS_1
Sejenak Muntaz menatap tudung saji itu yang biasanya selalu berselera saat dia pulang dari bekerja. Namun karena tadi sudah makan dengan Novi, rasa lapar itu hilang begitu saja. Mungkin Muntaz malam ini akan melewatkan makan malam masakan buatan Belia yang biasa dia santap.
Nyenyes \= nyinyir