
Jam di tangan Muntaz menunjukan pukul delapan malam. Belia yang dinantikan Muntaz masih belum muncul juga. Bahkan asbak di ruang tamunya sudah penuh dengan puntung rokok putih yang setengah jam yang lalu diisap Muntaz. Hati Muntaz mendadak kesal sekaligus khawatir memikirkan Belia yang belum pulang di jam hampir setengah sembilan malam.
Tidak lama dari itu, Belia pun pulang disambut wajah kesal Muntaz.
"Assalamu'alaikum!" salam Belia lalu masuk ke dalam tanpa basa-basi lagi pada Muntaz. Belia tidak kalah cuek dan datarnya saat dia melewati Muntaz begitu saja. Belia segera ke dapur menyimpan beberapa kantong kresek. Sepertinya Belia habis belanja, karena kantong kreseknya lumayan banyak.
Setelah menyimpan *asoy-asoy* itu, Belia segera ke kamar bermaksud mengganti pakaian dan membersihkan diri. Perlahan Belia menanggalkan kerudung segiempat hijau botolnya dan meletakkan begitu saja di meja rias. Muntaz sudah ada di belakang Belia, dengan perasaan kesal yang berkecamuk dalam dadanya.
"Kamu dari mana Bela, pulang-pulang dengan wajah datar dan tidak ramah sama suami. Kau anggap apa aku ini? Kau mulai belajar kelayapan, padahal kau punya suami yang harus kau sambut saat pulang kerjanya," serobot Muntaz dengan lantang. Mendengar itu, emosi Belia semakin terpancing. Belia menilai Muntaz sok benar padahal kenyataannya tidak.
"Maaf, Abang Belia cape!" ujar Belia seraya keluar dari kamar, lalu menuju dapur. Dengan santainya Belia membuka kantong kresek yang tadi disimpannya di meja makan, kemudian dibuka satu persatu. Sepertinya Belia membeli berbagai kudapan, ada pempek, tekwan, dan lain-lain. Dituangkannya pempek dan tekwan itu di wadah masing-masing. Kemudian Belia menuangkan ke piring lain untuk dia makan.
Belia makan tanpa menawari Muntaz, dengan santainya dia mengunyah makanannya dengan dicampur nasi. Rasa lapar yang tadi dia rasakan, saat mutar-mutar di pasar malam, kini perlahan sirna. Sejenak dia menatap tudung saji yang sempat dia isi dengan lauk yang tadi sempat dia masak, sebelum akhirnya di mendapatkan kiriman foto dari Serena temannya tentang keberadaan Muntaz dan seorang perempuan yang tidak lain adalah Novi.
"*Makanan ini jadinya mubazir tidak tersentuh* *sama sekali*," decaknya dalam hati penuh sesal. Seumpama tadi dia tidak mendapatkan kiriman foto dari Serena, tentang keberadaan suaminya di rumah makan sederhana, mungkin saja Belia tidak akan mengalami kecewa pada Muntaz sesakit ini. Belia mendapatkan kiriman foto dari Serena sekitar jam 16.30. Itu artinya Muntaz telah keluar dari PT jam empat sore, tidak ambil lembur seperti biasanya.
Belia kecewa dengan Muntaz, yang enak-enakan bahagia bersama perempuan lain di warung makan tanpa mempedulikan istri di rumah yang telah menyiapkan makanan seperti biasa. Oleh karena itu untuk sedikit menghibur hatinya yang sedih akibat melihat foto Muntaz dengan perempuan lain, Belia pergi ke pasar malam, jalan-jalan sekalian membeli kudapan khas setempat.
Tiba di rumah, Belia sudah disambut Muntaz yang seakan pura-pura sedang menunggunya pulang, dan menudingnya habis kelayapan. Hati Belia semakin sakit dituding seperti itu. Padahal kenyataannya Belia tahu, Muntaz keluar dari PT jam empat sore untuk menemui selingkuhannya, tanpa memperdulikan jam lembur yang biasanya begitu penting baginya dan tidak pernah terlewat.
__ADS_1
"Bela, ada apa kau ini? Tidak sopan mencuekkan suami, makan tidak menawari. Tidak tahu apa, suami kau ini lapar habis pulang kerja." Muntaz menegur Belia yg tidak peduli padanya. Buru-buru Belia menghabiskan makannya dan membereskan meja bekas makannya.
Belia berdiri hendak menuangkan air bening dari dispenser. Namun Muntaz berhasil menarik tangan Belia sehingga Belia terduduk kembali di kursi. "Apa-apaan Abang ini!" sentaknya tidak terima.
"Aku yang harusnya bertanya, kau itu kenapa. Pulang kelayapan, ditungguin suami malah makan sendiri tanpa menawari," keluh Muntaz sok benar.
"Ohhh, Abang masih belum kenyang rupanya ya setelah tadi habis kencan dan makan sore bersama selingkuhan Abang yang cantik itu di warung makan? Kalau Belia tawari Abang makan, percuma dong Bang. Belia takut Abang sudah kenyang." Belia membalas dengan telak. sehingga membuat Muntaz tidak berkutik.
Muntaz berdiri terpaku, dia diam dan tersentak mendengar penuturan Belia. Itu artinya kebersamaan dia dengan Novi sudah ada yang melaporkan pada Belia, Muntaz yakin pasti Serena yang memberi info ini pada Belia.
"Bela, aku minta maaf. Itu semua tidak seperti pikiran negatifmu, aku menemui Novi hanya ada perlu sama dia yang belum tuntas. Tolong percayalah, aku bukannya selingkuh," sangkal Muntaz risau. Belia tidak mendengar ocehan Muntaz, dia meninggalkan Muntaz ke kamar bermaksud mengambil baju ganti dan berniat membersihkan diri di kamar mandi dekat dapur. Dan malam ini dia bermaksud tidur di kamar sebelah tidak sekamar dengan Muntaz.
Belum sampai kaki Belia melangkah di mulut pintu, Muntaz sudah menarik tubuh Belia ke dalam dan mengunci pintu itu rapat-rapat kemudian kuncinya dia masukkan ke dalam saku celananya.
"Coba saja kau keluar dari kamar ini. Ambil kunci dari saku celanaku ini kalau berani," tantang Muntaz. Belia kesal dan menghempaskan tubuhnya di ranjang.
__ADS_1
"Tolong, Abang jangan halangi Belia keluar Abang juga dengan seenaknya jalan dengan perempuan lain tanpa memikirkan perasaan Belia. Kalau tidak cinta, lepaskan Belia. Dan Abang bisa kejar cinta Abang kembali."
"Kau jangan sembarangan tuduh aku selingkuh, aku tidak selingkuh. Aku hanya ada urusan sama dia, lagipula kau itu cemburu sama aku. Kau itu mencintai aku, jadi jangan kau besar-besarkan perasaan cemburumu, karena itu semua bisa membunuhmu," ujar Muntaz percaya diri. Belia semakin kesal dengan ucapan Muntaz yang menganggapnya sepele permasalahan ini. Seakan perasaan cinta Belia bisa dipermainkan begitu saja.
"Bukan masalah cemburu Bang, tapi mana janji Abang yang akan berusaha mencintai Belia. Tapi nyatanya Abang malah menemui perempuan itu, itu sama saja dengan memberikan harapan pada perempuan lain. Kalau seperti itu, lebih baik Abang lepaskan saja Belia, biar Abang tenang," lawan Belia masih sedih.
"Tolong buka pintunya, Belia mau keluar dan mandi di kamar mandi luar," desak Belia sambil tengadah meminta kunci kamar yang disimpan Muntaz di sakunya.
"Coba saja kau keluar, kalau kau berani keluar dari kamar ini tanpa rido dariku, maka jatuh talakku terhadapmu," ucap Muntaz yang berhasil mengejutkan Belia. Belia menatap tajam dan kesal pada Muntaz yang kini seakan egois.
"Dasar egois. Tidak cinta tapi malah memperlakukan sesuka hati. Hanya ingin memakainya saja tanpa pernah menghargai perasaannya sedikitpun," sentak Belia seraya menghempas tubuhnya di ranjang kemudian menyelimuti tubuhnya dengan selimut sampai tertutup rapat. Belia menangis sepuasnya di sana, dia benar-benar kecewa dengan sikap Muntaz.
Muntaz terkejut dengan sikap Belia, padahal tadi Belia bermaksud akan mandi tapi kini malah diselimut dengan tebal. Rasa bersalahpun kini menyelimuti Muntaz.
"Bel, katanya kamu mau mandi. Mandilah dulu biar segar. Kau tidak percaya apa yang aku aku katakan, itulah kai jadi sedih dan kecewa. Padahal aku berbicara y sesungguhnya," ujar Muntaz mencoba meyakinkan Belia yang terlanjur kecewa dan menangis.
__ADS_1
"Bel, ayolah kau bersihkan diri kau dulu," bujuknya yang hanya dibalas dengan isak Belia yang tertahan selimut yang menutupi penuh tubuhnya.