
"Bela Hpnya tidak aktif. Diluar jangkauan katanya," keluh Mak Susi sambil membulak balikkan Hpnya. Walaupun kesal pada Muntaz, Mak Susi mengalah dia kasihan melihat anaknya sedih. Dengan terpaksa Mak Susi mencoba menghubungi Belia. Namun nomer Hp Belia ternyata tidak aktif. Sampai jam sebelas malam nomer Belia tidak aktif juga.
Pak Deny menatap Mak Susi sedih. Mak Susi tidak bisa apa-apa selain menyerah. Mak Susi heran kenapa nomer Belia tidak aktif dengan waktu selama itu. Mendengar itu Muntaz sangat kecewa, terlihat raut mukanya yang begitu sedih. Namun apa dikata, nomer Belia ternyata tidak bisa dihubungi.
Malam semakin larut, Muntaz yang tadi nampak sedih, kini sudah mulai tertidur dengan nafas yang mulai teratur. Mak Susi dan Pak Deny juga terlihat lelah, mereka berdua beranjak mendekati kursi pasien, kemudian duduk dan menyandarkan tubuhnya di sana sembari memejamkan mata.
Besok tiba, Mak Susi sudah terlihat mengemasi barang milik suaminya, yang terpaksa harus balik duluan karena pelanggan bengkelnya minta motor yang diperbaikinya selesai hari ini.
"Mak, aku balik dulu ya. Jaga Muntaz dulu *dewean*, nanti kalau sudah tidak repot, aku pasti kembali ke RS," ujar Pak Deny. Mak Susi mengangguk, lagipula siapa lagi yang mau tungguin Muntaz kecuali dia.
"Mak, apakah Bela sudah bisa dihubungi?" Muntaz menatap wajah Mak Susi penuh pengharapan. Mak Susi seketika menggeleng tanda nomer HP Belia masih belum bisa dihubungi. Mak Susi juga merasa heran.
*****
Sementara di tempat lain, Belia kini telah siap-siap berangkat kerja. Dari semalam. Hpnya yang selalu setia menemani kesedihan hatinya, tidak lagi diaktifkan. Dia sengaja mematikan Hp sampai pagi menjelang. Bahkan Belia belum mau menyalakan Hpnya. Belia yakin orang yang menghubunginya sudah pasti memberitahukan tentang Muntaz. Biarlah kali ini Belia dianggap pura belum tahu.
__ADS_1
Sore menjelang, kepulangan Belia dari toko sudah tiba. Belia dan Sela bersiap pulang. "Aku duluan, ya," ujarnya seraya berlalu meninggalkan Sela yang masih menunggu jemputan.
Belia pun bergegas meninggalkan depan toko buku itu dan segera pulang. Tiba di rumah, Belia menghampiri dapur dan duduk di kursi meja makan. Belia merogoh Hpnya lalu dia aktifkan, dengan begitu cepat pesan WA datang saling berbalas bunyinya.
Perlahan Belia membuka WA pertama, dan saat dia baca ternyata dari Ibunya yang memberitahukan berita bahwa Muntaz berada di Ruman Sakit. Kemudian saat di scroll kebawah, Belia melihat banyak panggilan tidak terjawab. Salah satunya adalah dari Mak Susi.
Setelah melaksanakan sholat Isya, Belia sudah cantik dengan kerudung birunya dipadupadankan jaket motif gradasi warna biru muda. Belia benar-benar nampak sangat cantik dan dan ,?terlihat muda.
Belia dengan tekad dan hati yang kuat kali ini dia akan menjumpai Muntaz di RS, sejenak dia akan melupakan sejenak perlakuan Muntaz terhadapnya.
__ADS_1
Belia menjinjing rantang berisi lauk dan nasi, dia sengaja tadi sore setelah pulang bekerja masak dulu untuk Mak Susi.
Sejenak Belia berdiri menunggu grabcar yang telah dia pesan beberapa menit yang lalu. Tidak lama dari itu akhirnya grab pesanan dia datang. Belia segera menaiki grab untuk mengantarkan Belia ke RS tempat di mana Muntaz di rawat.
Sementara itu di kamar Muntaz, Mak Susi kini sedang menunggu anaknya seorang diri. Muntaz yang sejak sore tadi kecewa karena nomer Belia tidak aktif.
"Makanya, Taz, jangan pernah sia-siakan Bela kataku juga, Nah sekarang dia ogah menemui atau mengurus kau yang masih suaminya. Jangan salahkan Bela, aku cukup paham perasaan Bela, dia terlanjur kecewa sama kau," omel Mak Susi kesal kembali dengan Muntaz.
"Ya ampun, Mak. Kalau Mamak mau tahu yang sebenarnya kenapa Taz menemui Novi, tidak lain hanya untuk menagih duit aku yang dia pinjam," tandas Muntaz akhirnya mengeluarkan isi di hatinya.
__ADS_1
Belia yang sejak tadi menguping dari balik tembok, sontak terkejut dan sedikit deg-degan. Saat Belia masuk ruangan, Mak Susi dan Muntaz nampak terkejut dan senang terlebih Muntaz.