Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 59 Gelora Cinta


__ADS_3

"Ini, bagi-bagi untuk bertiga sebagai uang rokok," ujar Muntaz memberikan uang dua juta rupiah kepada Sabqi setelah tadi sengaja mampir dulu ke ATM. Sabqi beserta kedua temannya tertawa bahagia.



"Wahhhh, kalau cuma kerja begini saja aku maulah tiap hari. Dapat duitnya lumayan," ujar salah satu teman Sabqi bahagia.



"Ok, aku pulang ya. Nanti jika aku butuh bantuan, maka kalian jangan nolak jika dibutuhkan."


"Asiapppp," seru kawan-kawan Sabqi sambil bersiap-siap menuju rumahnya masing-masing, setelah menerima persekot dari Muntaz.


Kini Muntaz melajukan motor ke arah rumahnya dengan perasaan lega. Tiba di depan rumah, dia sudah disambut Belia dengan was-was. Rupanya sejak tadi Belia mengkhawatirkan kepergian Muntaz. Sehingga dari sejak Muntaz pergi sampai kembali, Belia masih menunggu di depan rumah.



"Abang, Abang tidak apa-apa?" Belia nampak khawatir menghampiri Muntaz yang baru sampai. Muntaz hatinya senang mendapat perlakuan hangat dari Belia seperti barusan. Rasanya seperti seorang raja yang disambut ratunya.



"Aku tidak kenapa-kenapa, aku justru mendapat kabar bahagia," ujarnya sembari memarkirkan motor dengan benar. Belia mengerutkan keningnya tanda heran. Muntaz berjalan menuju Belia yang masih nampak bingung.



"Kabar bahagia apa?" tanya Belia sambil berjalan menuju ke dalam rumah diikuti Muntaz. Mereka kini duduk di ruang tamu.


"Abang tadi mendatangi rumah Novi, kebetulan lakinya ada. Saat itu mereka sedang ngumpul. Lalu Abang ceritakan maksud kedatangan Abang ke sana. Aku minta ganti rugi, awalnya si Novi mau ganti belanjaan kita sebesar 500 ribu dengan sombongnya. Namun aku tidak terima, lalu aku sekalian menagih uang lima juta yang dia pinjam dengan memperlihatkan bukti vidio si Novi yang sengaja menjegal motor kita," jelas Muntaz panjang.


"Terus, hal apa yang membuat keluarga mantan Abang mau mengembalikan duit lima juta itu?" Belia masih penasaran.


"Aku ancam bahwa vidio tidak menyenangkan si Novi akan aku laporkan ke pihak berwajib. Akhirnya lakinya mau membayar berikut uang ganti rugi belanjaan kita yang rusak menjadi enam juta." Mendengar penjelasan Muntaz, Belia mengusap dadanya, merasa bersyukur ikut gembira.

__ADS_1


"Mungkin jika tidak ada kejadian ini, duit Abang masih milik Novi," ujar Belia seraya berlalu meninggalkan Muntaz. Muntaz merasa tidak enak hati melihat sikap Belia yang tiba-tiba kembali muram. Pasti dia terkenang-kenang kembali masa-masa Muntaz bersama Novi.



Muntaz berdiri dan mengikuti Belia. Belia yang rupanya pergi ke dapur ternyata sedang menyeduh kopi untuk Muntaz. Lalu tanpa kata Belia menyodorkan secangkir kopi panas itu di hadapan Muntaz yang kini duduk di meja makan.



"Bel, makasih ya." Muntaz berdiri seraya meraih tangan Belia yang hampir beringsut pergi. Belia terpaksa menahan langkahnya. Sementara Muntaz sudah memeluk Belia dengan leluasa dari belakang. Kali ini Muntaz tidak ingin lagi kehilangan Belia yang selama ini sudah disia-siakannya. Cukup sudah masa-masa mengenang masa lalunya bersama Novi, kini hati Muntaz, dia labuhkan hanya untuk Belia. Namun sepertinya Belia kini masih menghindar darinya, sikap Belia sepertinya masih menyimpan kecewa terhadap Muntaz.



"Bel, percayalah aku sudah move on sekarang. Mungkin jalannya harus melalui mantan aku yang sengaja ingin menipu aku. Bukankah jalan orang untuk berubah bisa lewat apa saja, termasuk aku yang move on dari si Novi lewat cara dia yang licik? Percayalah Bel, aku sudah bisa melupakan dia. Beri aku kesempatan untuk berubah, dan ijinkan aku mencintaimu karena kini aku mencintaimu, Bela," ungkap Muntaz seraya membalik tubuh Belia lalu berhasil memeluknya erat di dapur itu.



Belia tidak bisa melepaskan pelukan Muntaz yang erat. Padahal dia masih menyimpan kecewa yang membuatnya ragu pada Muntaz, akan tetapi debaran rasa di dadanya mengatakan bahwa dia sangat merindukan pelukan hangat dari Muntaz, suaminya. Sehingga tanpa sadar Belia kini membalas pelukan Muntaz dengan sebuah pelukan rindu.



"Bel, sekali lagi percaya padaku. Aku akan berubah, aku ingin memperbaiki hubungan kita. Ijinkan aku mencintaimu," ucap Muntaz memohon seraya meraup wajah Belia mencoba meyakinkan lebih dalam. Lalu sebuah ciuman itu mendarat lembut di bibir Belia. Belia merasakan debaran di dadanya semakin menggebu. Sehingga dia juga larut dalam ciuman lembut itu dan membalasnya.


"Bel, aku rasanya tidak ingin melepaskan ciuman ini. Aku merindukan kamu, Bel," ungkap Muntaz sendu. Ucapannya seakan meminta sebuah keinginan besar yang harus segera dituntaskan bersama Belia. Dan kini tanpa disadari Belia, Muntaz telah membawa Belia ke dalam kamar, menarik lembut tangan Belia sehingga membuat Belia terbuai.



Deburan-deburan ombak cinta kini sedang mengombang-ambing keduanya dalam lautan asmara yang membara, baik Belia maupun Muntaz sama-sama ada dalam rasa yang sama, menginginkan asmara itu menuju puncak bahagia. Tanpa mereka sadari keduanya sudah sama-sama terjatuh dalam kobaran api cinta yang kini sudah menyala. Saling memercik dan menghangatkan satu sama lain. Langitpun mendung, seakan mendukung keduanya untuk saling menghangatkan satu sama lain. Hujan kini ikut bahagia menyiram kemarau cinta yang dulu ada, kini tumbuh subur menjelma dalam satu rasa.



Kopi buatan Belia yang tadi disuguhkan, hilang uap asapnya dan kini mendingin bersama derasnya hujan.

__ADS_1



"Mak, kali ini sepertinya Muntaz akan berhasil menghadiahkan cucu buat Mamak. Sebab, Taz sudah pergauli Bela dengan benar tanpa jarak aman lagi." Hati Muntaz bersorak gembira, akhirnya keinginan Mamaknya untuk dapat cucu sepertinya akan segera terlaksana. Terlebih sekarang Belia, nampak tersenyum bahagia diperlakukan begitu lembut dan penuh perasaan oleh Muntaz, sehingga kini dirinya pasrah dan menyerahkan jiwa dan raganya untuk Muntaz.



Besoknya saat Muntaz akan bersiap berangkat kerja, terjadi perdebatan kecil antara Belia dan dirinya. "Bel, aku rasa mulai sekarang kau tidak usah bekerja lagi, aku sanggup Bel penuhi hidup kita berdua," ucap Muntaz penuh permohonan. Belia menoleh ke arah Muntaz dan menatap sembari mencelupkan teh di cangkirnya.



"Belia tahu Abang sanggup biayain hidup kita berdua, bahkan sejak awal pernikahan kita. Tapi Belia masih nyaman seperti ini. Ijinkan Belia masih menikmati masa-masa ini ya, Bang?" ucap Belia menatap Muntaz penuh kesungguhan.



"Tapi sampai kapan Bel? Aku tahu aku salah, sejak awal nikah aku membiarkan kau berjuang sendiri dan mandiri, tapi jangan kau hukum aku dengan .... "


"Belia tidak sedang menghukum Abang, tapi kiranya Abang maklum dengan keinginan Belia, biarkan Belia menikmati rutinitas hari-hari Belia seperti biasanya, sampai .... " potong Belia, namun kini ucapannya tercekat. Belia menundukkan wajahnya dalam, ia sepertinya menahan sesuatu yang ingin diungkapkan, namun berat.


"Aku tahu Bel, kamu belum terbiasa jika harus di rumah duduk diam nungguin aku pulang. Maka dari itu, aku masih ijinkan kamu melakukan rutinitas yang selama ini biasa kau jalani. Lagipula selama kau bekerja, kau tidak pernah melalaikan tugas kau sebagai istri. Tapiii, jika masanya nanti kau mengandung, aku ingin kau di rumah saja, mengurus rumah tangga dan menjaga kandunganmu," ujar Muntaz seraya meraih tangan Belia. Belia seketika mendongak dari tunduknya. Matanya nampak berkaca-kaca, hatinya kini seakan tersentuh oleh ucapan Muntaz yang terdengar sungguh-sungguh.



"Sudahlah Bel, hapus air matamu, sudah banyak air mata yang kau keluarkan karena aku menorehkan luka untukmu selama ini. Cukup sudah. Aku hanya ingin melihatmu menangis karena bahagia bukan karena luka," hibur Muntaz seraya menyeka air mata di pipi Belia.



Muntaz memeluk tubuh Belia untuk beberapa saat merasakan getaran cinta yang lebih dalam. Lalu dilepaskan dan menatapnya penuh cinta kasih. "Aku pergi dulu, ya, hati-hati nanti pergi kerja," ucap Muntaz seraya mencium kening Belia lama. Kali ini rasa bahagia benar-benar terasa dari lubuk hatinya saat memeluk Belia. Cinta dan kasih sayang ini muncul begitu saja untuk Belia.



Muntaz berpamitan, Belia mencium tangan Muntaz untuk kedua kalinya setelah pernikahan. Hatinya berbunga melepas Muntaz pergi bekerja.

__ADS_1


"Hati-hati Abang," lambainya seiring melajunya motor NMix milik Muntaz pagi itu.


__ADS_2