
Muntaz tergesa menuju rumah mertuanya. Terlebih dia merasa was-was jikalau Belia menceritakan hal-hal yang tidak-tidak pada keluarga mertuanya tentang sikap dirinya pada Belia saat ini. Rasa takut Muntaz begitu besar dan dia tidak mau terkesan buruk di mata keluarga besar Belia.
Muntaz tiba di samping rumah orang tua Belia. Dari dalam terdengar suara obrolan ringan yang diselingi tawa gembira. Muntaz tadinya akan ikut masuk dan gabung serta meminta maaf karena datang terlambat ke rumah mertuanya. Namun urung, saat yang berada di dalam semakin seru bercerita. Malah Muntaz mendengar jelas saat Uwaknya Belia berkata mendoakan kesembuhan buat Muntaz yang sedang sakit.
Dari obrolan itu, sepertinya Belia sengaja menutupi keadaan Muntaz. Belia justru mengarang kalau Muntaz sedang kurang enak badan dan istirahat di rumah.
"Tidak apa-apalah Bel, biarkan suami kamu istirahat. Semoga cepat sembuh penyakitnya," ujar Wak Salamah penuh harap.
Muntaz juga mendengar Belia yang menanyakan dari mana asal suami Teh Jelita, kakak sepupunya itu.
"Calon suami Tetehmu orang Jawa, aslinya tinggal di Jogja. Alhamdulillah calon suami Teh Jelita baik dan penyayang. Suamimu juga pastinya baik dan sayang banget sama kamu, kan Bel?" Sebuah pertanyaan dan sekaligus sebuah keyakinan Uwaknya Belia tentang Muntaz yang dinilai baik oleh keluarga Belia. Belia tidak terdengar menjawab saat itu. Hanya Muntaz menyimpulkan bahwa di situ Belia sama sekali tidak menyinggung keburukannya.
Hati Muntaz sedikit lega. Rupanya Belia masih menjaga kehormatannya di mata keluarga besar Belia. "*Kamu begitu takut kehormatan Abang* *sebagai suamimu buruk di mata keluargamu, tapi* *untuk apa Bel? Abang tidak mencintaimu*," akunya dalam hati sembari menghembuskan nafasnya kasar.
Akhirnya Muntaz urung masuk ke dalam, setelah apa yang dia dengar semua di sana sangat jelas. Muntaz yakin Belia begitu sangat mengharap cintanya. Sehingga dia rela mengarang cerita bahwa Muntaz tidak bisa datang ke rumah mertuanya karena sedang sakit.
Muntaz membalikkan tubuh dan kembali bergegas menuju rumahnya yang hanya berbeda tiga lorong dari kediaman mertuanya.
__ADS_1
Sementara itu di kediaman orang tua Belia, masih terdengar riuh tawa dan celotehan gembira. Sepertinya mereka sedang menumpahkan rasa rindu yang sekian lama terbentang jarak. Jarak pulau Sumatera dan Jawa yang terpisah oleh Selat Sunda membuat persaudaraan mereka terpisah, hanya lewat telpon dan berkirim pesan via media sosiallah solusi yang paling jitu dan sering mereka lakukan untuk saat ini.
Karena waktu sudah hampir siang, dan kumandang azan zuhur akan segera diperdengarkan, Belia berpamitan kepada orang tua dan Uwaknya. "Belia pamit dulu ya!" Belia berpamitan dengan membawa beberapa kantong kresek bermacam oleh-oleh khas Jawa Barat.
"Kami juga sebentar lagi mau pulang, Bel. Zuhur dulu di sini, tapi sebelum pulang kami akan mampir sebentar ke rumah mertuamu," ucap Wak Salamah memberitahu.
"Ya, sudah kalau begitu Belia pulang ya, assalamu'alaikum," ucap Belia menyalami kedua orang tua juga Uwa-uwanya. Belia bergegas menuju rumahnya yang hanya beberapa ratus meter dari kediaman orang tuanya.
Cukup 10 menit perjalanan Belia ke rumah. Lumayan mengeluarkan keringat, sebab hari begitu panas. Belia menatap dari jarak beberapa meter, pintu rumahnya terbuka lebar. Dia berpikir karena udara begitu panas jadi suaminya sengaja membuka pintu lebar-lebar.
Semakin dekat dengan mulut pintu, Belia sepertinya mendengar suara dua orang yang sedang ngobrol. Kalau suara TV tidak mungkin. Sebab jika suara TV, maka iringan musiknya akan terdengar. Belia meyakini bahwa di dalam rumahnya ada orang lain. Tidak bermaksud mengintip, Belia berniat mengawasi terlebih dahulu. Namun semakin dekat tubuhnya di mulut pintu suara dua orang itu makin jelas dan Belia mengenalinya. Mereka Muntaz dan Mak Susi yang entah sejak kapan datang ke rumah.
"Aku tidak mau tahu, Taz. Kau baik-baiklah dengan Bela bini kau, mau cari perempuan kayak mana lagi. Dia baik, cantik, rajin ibadah dan tidak boros. Aku berani kehilangan kau jika kau sia-siakan Bela," tegas Mak Susi, sepertinya sangat berang sama anak bungsunya.
"Mamak ini memaksakan kehendak Muntaz, tahukah Mamak bahwa selama ini Taz tersiksa, harus berpura-pura mencintai Belia," tandas Muntaz membuat Belia terhenyak. Sebegitu lantangnya Muntaz mengakui dirinya tidak mencintai Belia.
"Kau itu keterlaluan Taz, dulu saat kami tawarkan perjodohan, kau tidak tolak mentah-mentah, malah kau *dewe* yang bicara langsung sama Bela dan melamarnya. Jangan kau jilat ludahmu sendiri, karena itu bisa fatal akibatnya," geram Mak Susi sambil menggebrak meja. Belia mendadak lemas mendengar pengakuan Muntaz yang terang-terangan mengakui semuanya pada Mak Susi tentang perasaannya selama ini. Sementara Muntaz sangat terkejut saat Mak Susi menggebrak meja.
__ADS_1
"Taz, minta maaf Mak. Saat itu Taz merasa tertekan dan terpaksa. Taz melakukan itu sebab Taz merasa kecewa karena ditinggal Novi menikah." Muntaz menjawab dengan suara yang sedikit melemah.
"Kau kecewa sama si Novi dua tahun yang lalu, tapi kenapa kau limpahkan kekecewaan kau pada Bela? Aku sungguh tidak paham dengan sikapmu, Taz. Kau membuat aku kecewa. Kau lebih memandang Novi yang bersuami dan berdandan menor serta berbaju kurang bahan. Itu yang kau harapkan?" serang Mak Susi bertubi-tubi seakan sangat geram dengan Muntaz anak bungsunya. Muntaz diam, dia lebih banyak mendengar daripada melawan.
"Coba kau belajar mencintai Bela, kurang apo dio? Jangan asik memuja bini *uwong*, tapi istri sendiri kau abaikan. Kau nikmati kecantikannya, kau decak kagumi bodi bahenolnya. Tapi kau biarkan bini kau lusuh dan redup cuma gara-gara memikirkan sikap kau yang tidak pernah peduli. Kau diluaran sana asik selingkuh dengan bini orang, si Novi itu datang ke sini karena sedang bermasalah dengan laki orang, lakinya marah dan si Novi kabur." Muntaz terhenyak mendengar penuturan Mak Susi yang seakan banyak tahu tentang Novi, mantan kekasihnya. Mak Susi sejenak mengatur nafasnya.
"Taz, tidak berselingkuh Mak. Taz hanya jalan ke Kafe dan duduk minum *bae* samo Novi. Tidak lebih," sangkal Muntaz.
"Lagipula, apa sedapnya memandang Belia. Dia kuyu dan sederhana, dandan saja cuma sisiran rambut. Lipstik saja warna hambar, tidak cerah seperti Novi," cetus Muntaz membuat Mak Susi semakin geram. Mendengar itu, seketika dada Belia terasa sesak dia menangis dalam diam, menahan isak tangis yang ingin keluar.
"Kau hina bini *dewe* yang ibarat berlian demi sebuah kerikil yang hanya menjadi *gulma* dalam kehidupan rumah tangga kau. Kalau kau mau Bela bersinar, kau kasih duit buat dia berdandan. Pantas saja dia kuyu dan sederhana, kau sebagai suami tidak pernah mengajaknya jalan. Kau hanya membuat dia sedih karena memikirkan sikap tidak peduli kau," tandas Mak Susi kesal dan penuh emosi.
"Tunggu akibatnyo, jika kau tidak menjauhi si Novi. Maka, aku tidak segan laporkan kelakuan bodoh kau sama abangmu, Haraz. Babak belur kau dibuatnyo. Aku tidak peduli jika kau mati sekalipun dihajarnya," ucap Mak Susi penuh intimidasi. Muntaz seketika berdebar-debar dengan ancaman Mamaknya, sebab jika semua ini sampai pada Abangnya, maka celaka bagi Muntaz dia akan habis dihajar Abangnya seperti apa yang Mak Susi bilang baru saja.
"Jangan, Mak. Taz, masih ingin hidup normal. Jangan katakan sama Bang Haraz. Taz, mohon!" Muntaz memohon pada Mak Susi dengan wajah yang terlihat takut.
dewe \= sendiri
__ADS_1
gulma \= tumbuhan pengganggu