
Akhirnya dengan bujukan Muntaz, Belia mau makan bubur walaupun hanya dua sendok. Belia benar-benar merasakan mulutnya pahit saat menelan makanan. Muntaz terlihat senang melihat Belia mau makan.
Mak Susi yang menyaksikan Belia sudah mau makan, hatinya senang dan wajahnya berbinar. Kali ini ada tersimpan harapan di dalam hati Mak Susi melihat kedekatan mereka seperti tadi.
"Ya Allah, semoga setelah ini ada cinta diantara mereka," doa Mak Susi tulus.
"Tidurlah, aku nemanin Mamak dulu. Kayaknya Mamak mau pulang." Muntaz beranjak keluar kamar. Belia menatap punggung Muntaz yang kini keluar dari kamar. Ada sedikit rasa hangat dalam hatinya saat Muntaz tadi menyentuhnya. Membetulkan bantal di kepalanya dan membenahi tubuhnya saat terbaring.
Belia memang sudah mencintai Muntaz sejak beberapa bulan yang lalu. Dia cinta walaupun Muntaz tidak pernah bersikap mesra padanya. Karena Belia pikir rasa cinta itu akan timbul seiring waktu, sayangnya rasa cinta itu hanya dirasakan Belia duluan tanpa adanya balas dari Muntaz.
Muntaz menghampiri Mak Susi yang kini sedang mengolah adonan pempek. Mak Susi sengaja membuat pempek, setelah tadi dia melihat ada bahan-bahan pempek di kulkas.
"Mak, nginaplah sehari di sini, Bela pasti masih mengharap Mamak di sini," bujuk Muntaz merayu.
"Aku tidak bisa nginaplah, Taz. Mak titip Bela yo, jangan kau buat dia sedih lagi. Kasihan dia lagi sakit. Aku merasakan kesakitan dia itu karena ulah kau," tuding Mak Susi ke arah Muntaz sembari dengan lihainya mengolah adonan pempek. Muntaz diam karena dia memang mengakui dalam hati.
Melihat Muntaz diam, Mak Susi yakin anaknyalah yang membuat Belia seperti ini, terbaring sakit.
"Taz, mulai detik ini belajarlah mencintai Bela. Kasihan dia Taz, dia mengigau nama kau terus. Juga bilang bahwa dia mencintai kau. Dia tulus mencintai kau, jadi belajarlah Taz mencintai Bela," bujuk Mak Susi berharap.
"Taz, tahu Mak," balas Muntaz pendek.
"Kalau kau sudah tahu kenapo kau tidak mencintainyo? Apakah kau selama enam bulan pernikahan tidak pergauli Bela?"
Muntaz nampak tersentak dengan pertanyaan dari Mak Susi barusan. Bagaimanapun hal itu privasi yang tidak boleh orang lain tahu.
__ADS_1
"Taz??" Mak Susi seakan ingin mengulang pertanyaan tadi tentang Muntaz yang sudah menggauli Belia atau belum.
"Taz, sudah menggauli Bela, Mak. Kalau ada yang halal kenapa harus dibiarkan? Lagipula Taz sudah dewasa," jawabnya membuat Mak Susi senyum tersembunyi.
"Nah, itu kau sudah menggauli Bela, tapi kenapo kau bilang masih belum mencintainyo?"
"Itu butuh proses Mak, kalau masalah menggauli itu kan sudah milik Muntaz, sudah sah milik, Taz. Tapi hati masih butuh proses," jawabnya berbelit-belit membuat Mak Susi kesal.
"Kau itu, mau enaknyo bae. Berusahalah untuk mencintai Bela, karena kalau dio sudah pergi maka kau akan menyesal," ancam Mak Susi serius. Muntaz hanya diam dan menatap pempek yang dibuat Mak Susi.
Sementara itu, Belia yang sejak tadi berdiri di muka pintu, kini kembali duduk di ranjang merasakan sakit kepalanya yang berat. Dia telah mendengar semua yang dikatakan Muntaz tadi kepada Mak Susi. Jadi kesimpulannya Muntaz memang belum mencintai Belia. "Kenapa Abang belum bisa mencintai Belia, Bang?" tanyanya pilu.
Untuk menyembunyikan kegelisahan atas apa yang dia dengar barusan, Belia kembali berbaring di ranjang dengan pikiran yang kalut.
"Bela, kau mau kemano?" tanya Muntaz heran. Bukan apa-apa, Belia yang dilihat Muntaz sungguh berbeda. Dia bersisir rapi dan mengikat rambutnya ke atas, serta berbedak padat dan berlipstik merah marun, tidak lupa di bawah matanya menggunakan celak mata. Sungguh hari ini Belia sangat berbeda, fresh dan cantik.
Bisa saja siapapun yang melihat Belia kali ini merasa takjub. Belia sungguh cantik dan menarik. Muntaz saja ternganga tidak percaya. Entah apa yang dipikirkan dia sekarang.
"Apakah kau sudah sembuh benar?" tanya Muntaz tidak yakin melihat Belia yang akan bekerja. Belia mengangguk dan duduk di kursi makan seraya menyiapkan sarapan pagi untuk Muntaz. Belia dan Muntaz sarapan dalam diam, sambil sesekali Muntaz mencuri pandang ke arah Belia. Sungguh dia heran dan penasaran. Muntaz menyudahi sarapannya dan berdiri.
"Bela, aku pergi dulu ya, assalamu'alaikum," pamit Muntaz diakhiri salam yang biasanya tidak pernah dia lontarkan sebelumnya. Belia menatap kepergian Muntaz dengan nanar. Tidak ada kecupan sayang atau salim tangan sebelum pergi, dan itu sudah biasa.
__ADS_1
"Abang!" tiba-tiba Belia memanggil Muntaz. Muntaz membalikkan badan dan menatap Belia. Belia menatap Muntaz sekilas, lalu kembalilkan badan dan memasuki rumah. Muntaz bingung, akhirnya dia menghidupkan mesin motor dan berlalu.
Kini giliran Belia pergi bekerja dengan jalan kaki menuju toko buku tempat dia bekerja.
Waktu terus berlalu jam di tangan Muntaz menunjukkan pukul 12 siang, tanda istirahat telah tiba. Muntaz bersama teman-teman satu timnya segera bergegas ke kantin PT untuk membeli makanan pengganjal perut.
Saat sedang makan itu, tiba-tiba bayangan Belia datang dalam pikiran Muntaz. Saat tadi menatap Belia, hatinya berdesir merasakan sesuatu hal yang tidak biasa. Muntaz merasa takut saat melihat Belia tadi akan berangkat bekerja dengan dandanan yang benar-benar cantik luar biasa.
"Bela, ada apa dengan dirimu? Hari ini kau beda dan sangat cantik?" Bayangan Belia terus menari-nari di kepalanya sehingga Muntaz tidak selesai-selesai makan.
"Taz, kau tuh sejak tadi seperti tidak fokus bae, apa yang sedang kau pikirkan? Jangan kata kau sedang ingat si Novi," gertak Ardan membuyarkan lamunan Muntaz.
"Kau tuh sok tahu, Dan!"
"Aku tuh, cuma mengingatkan bae. Kau jangan sekali-sekali terjebak atau terperosok ke dalam jebakan si Novi, sebab seperti yang telah menyebar beritanya, si Novi telah menipu salah satu kawan kita yang kemarin naik jabatan menjadi Manager." Ardan mencoba memberitahu Muntaz. Muntaz terkejut mendengar berita tentang Novi yang benar-benar baru dia ketahui.
"Yang benar, Dan?" Muntaz bertanya penuh penasaran.
"Iyolah, aku tidak bohong. Kau tanyo bae samo Zailan orang yang menjadi korban si Novi," tegas Ardan meyakinkan.
"*Gawat nih*!" bisik hati Muntaz tiba-tiba merasa khawatir.
Sementara itu Belia yang kini berada di toko, bekerja seperti biasanya. Namun teman satu profesinya sejak awal Belia datang ke toko, selalu menjahili Belia dengan menjodohkan Belia dengan Bos pemilik Showroom mobil di sebelah toko buku Buana ini.
__ADS_1
"Jangan bercanda, Sel! Aku sudah menikah. Buat kau saja tuh Bos Showroom, aku tidak mau pernikahan aku dikotori perselingkuhan. Daripada selingkuh lebih baik aku mati!" tegas Belia ngeri. Sela, teman Belia hanya senyum-senyum cuek menanggapi ucapan Belia.