
Muntaz menyudahi makan malamnya. Belia dengan sigap membereskan bekas makan mereka. Belia masih diam, dan itu memang sikap dia sejak awal pernikahan bersama Muntaz. Namun diamnya Belia kali ini berbeda dan nampak lain dirasakan Muntaz.
Muntaz khawatir, Belia kembali hilang kepercayaan padanya tentang rasa cinta yang kini mulai dirasakannya pada Belia. Perempuan muda itu kini sudah mampu menyadarkan dan perlahan sudah menumbuhkan rasa cinta dalam dirinya.
Belia segera meninggalkan dapur dan pergi menuju kamar. Dia bermaksud istirahat dan melepas lelah dan pikiran kalutnya. Namun Belia juga ingin rasanya bertanya pada Muntaz tentang rasa yang Muntaz rasakan kini. Tapi dia ragu, seumpama jawabannya iya Muntaz masih mencintai Novi, alangkah sakitnya hati Belia.
"Bel, kenapa sih diam terus. Baru saja semalam kita begitu dekat tapi kau berubah perangai? Ada apa?" tanya Muntaz heran seraya menahan lengan Belia. Belia belum menjawab, dia kini sibuk membuka lemari dan mengambil baju tidur Muntaz untuk dipakai setelah mandi. Muntaz semakin heran dan penasaran akan perubahan Belia.
"Aku tidak mau mandi, jawab dulu pertanyaan aku. Kenapa kau berubah, coba ceritakan alasannya? Tadi pagi saja kau masih hangat sama aku," paksa Muntaz menatap wajah Belia yang kini saling berhadapan.
"Abang, mandilah dulu. Abang pasti sangat lelah dan keringatan setelah lelah bekerja," ujar Belia seraya meninggalkan kamar membiarkan Muntaz yang dilanda penasaran.
"Bel, kau jangan pergi dari kamar ini! Tunggu aku mandi, kita bicara." Muntaz ke kamar mandi dan segera mandi. Tidak butuh waktu lama Muntaz keluar dengan tubuh yang sudah segar. Muntaz setelah ini ingin mengajak Belia bicara dan mengorek apa yang sebenarnya terjadi sehingga Belia bersikap dingin seperti ini.
Muntaz keluar kamar dan mencari Belia. Dilihatnya Belia di ruang tengah, sedang menikmati semangkuk es campur yang entah kapan dibelinya.
"Bel, aku mau bicara, dan tolong katakan apa yang terjadi dengan perubahan sikap kau yang tiba-tiba beda seperti ini?" Ujar Muntaz dengan nada yang sedikit memaksa.
__ADS_1
"Apa yang mau Abang bicarakan? Toh biasanya kita akan seperti ini, diam dan tidak saling berbicara," sergah Belia tanpa menatap wajah Muntaz.
"Iya Bel, aku tahu. Dan itu aku yang jadi penyebabnya. Tapi sekarang kenapa kau berubah secepat itu, sedangkan tadi pagi dan malam tadi kau tidak marah dan bersikap diam begini. Ayo katakan Bel, apa yang membuat kau berubah?" desak Muntaz sangat ingin tahu.
Belia sudah menghabiskan es campur di tangannya lalu meletakkan mangkok tandas itu di atas ambal. Perlahan Belia menarik nafasnya dalam kemudian membuangnya. Sebenarnya Belia sedih untuk menceritakan ini pada Muntaz, dan rasa takut Belia lebih menguasai. Sehingga dia hanya mampu diam.
"Bel, aku mohon kau bicaralah. Aku ingin semua unek-unek yang ada dalam hati kau, kau ceritakan. Aku mulai sekarang ingin berubah, jadi ku harap kau mau berterus terang dengan apa yang kau rasakan kini. Bukankah kau masih ingat apa yang aku katakan waktu aku, aku janji akan berusaha mencintai kau?"
"Aku janji aku jawab jujur pertanyaan kau, tapi kau cerita apa yang membuat kau berubah."
Belia diam sejenak sebelum memulai berbicara, sepertinya Belia ragu untuk bicara, namun dia harus katakan apa yang menjadi unek-uneknya kali ini. "Tadi di jalan Belia dicegat mantan Abang, dia sengaja menghalangi jalan Belia dengan memepetkan motornya ke pinggir. Mantan Abang bilang Abang tidak menagih hutangnya yang lima juta karena Abang saking mencintainya, dan demi itu Abang bela-belain rela dibogem suaminya," papar Belia sesuai apa yang dikatakan Novi tadi dengan wajah yang terlihat sedih.
Muntaz nampak terkejut mendengar penuturan Belia barusan, dia sadar di sini pasti akan timbul salah paham dari Belia masalah uang yang dikatakan Novi tadi. Muntaz terpaksa merelakan uang itu sebab tidak ingin memperkeruh keadaan dirinya dengan suami Novi. Terlanjur kena jerat Novi, dan terlanjur dibogem suaminya Novi.
"Awalnya Abang ketemuan siang itu, karena mau menagih uang Abang yang lima juta yang dia pinjam itu, karena dia menjanjikan mau bayar siang itu. Tapi entah bagaimana mulanya tiba-tiba suaminya si Novi datang dan menuding Abang selingkuhan si Novi. Akhirnya pada saat itu juga Abang dibogem sama orang yang ngaku suaminya, dan Abang tidak sempat mengelak." ungkap Muntaz menjelaskan detail kejadian awal kenapa dia sampai masuk RS hari itu.
__ADS_1
"Tapi, kau harus percaya Bel, aku merelakan uang itu karena aku tidak ingin lagi ada urusan dengan yang namanya Novi dan suaminya. Dan bukan karena aku masih mencintainya seperti apa yang dikatakan dia. Tolong percaya aku kali ini, Bel. Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Aku akan berusaha mencintai kamu, Bel," ucap Muntaz sungguh-sungguh.
Belia hanya mampu diam mendengar semua penjelasan Muntaz barusan. Penjelasan Muntaz belum cukup menghilangkan rasa kecewa Belia pada suaminya itu. Malah kini Belia membayangkan seandainya kejadian itu dibalik, dan Muntaz bertemu Novi mulus-mulus saja dan tidak ada insiden masuk RS karena kena bogem, bisa jadi hubungan Muntaz dengan Novi masih berlanjut.
"Tapi seandainya Abang tidak kepergok oleh suaminya, dan Abang tidak masuk RS karena dibogem, bisa jadi sampai sekarang Abang masih berhubungan dengan Novi, dan ini membuat Belia jadi ragu dengan perasaan Abang pada Belia. Abang sedang bersandiwara, kan?" tuding Belia sembari beranjak dengan perasaan marah. Seketika Muntaz terhenyak, tidak sangka Belia akan berpikir ke arah situ, padahal Muntaz kini sudah betul-betul ingin melupakan Novi dan berusaha mencintai Belia yang tulus mencintainya.
Dengan cepat Muntaz menahan tangan Belia kuat, sehingga langkah Belia tertahan. "Lepaskan Abang, Belia tidak ingin lagi terbebani dengan perasaan cinta Abang yang pura-pura. Hati Abang masih untuk orang lain. Jadi, Belia mohon lepaskan Belia," cetus Belia dengan suara yang bergetar dan air mata yang mulai turun.
Muntaz dengan sigap membawa Belia masuk kamar, bagaimanapun juga dia harus bisa menyelesaikan masalah dengan Belia di kamar. Muntaz tidak mau Belia meredakan kecewanya dengan menyendiri di kamar sebelah. Kali ini Muntaz harus bisa meyakinkan Belia dan membuat Belia percaya bahwa kini dia sudah benar-benar berusaha mencintai Belia.
"Tidak Bel, kita masuk kamar dan kau boleh melampiaskan rasa marahmu di kamar. Aku tidak mau kau diam diri di kamar sebelah dengan rasa kecewa." Muntaz terus menarik tubuh Belia masuk kamar, lalu mengunci pintu kamar karena takut Belia keluar kamar.
"Abang egois!" pekik Belia sembari memukul dada Muntaz. Matanya memerah menahan tangis. Muntaz tidak tega melihat Belia seperti ini. Dia yang telah membuat Belia sakit hati dan kecewa, maka saat ini Muntaz akan berusaha membuat Belia kembali menaruh kepercayaan padanya, bahwa kini Muntaz telah mencintai Belia.
"Aku minta maaf, Bel. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, percayalah padaku. Aku sayang kamu, Bel. Beri aku kesempatan untuk memulai segalanya dan memperbaiki segalanya," ucap Muntaz seraya memeluk tubuh Belia erat dan berusaha menyalurkan energi positif supaya Belia perlahan tenang.
__ADS_1