Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu
Bab 48 Morning Kiss


__ADS_3

Pagi ini Belia dan Muntaz sarapan pagi bersama. Belia melayani Muntaz seperti biasanya. Mengambilkan nasi dan lauknya. Namun keheningan masih tercipta antara keduanya. Sembari menyuap sebenarnya Muntaz tengah memikirkan kejadian tadi malam yang indah untuknya.



Tentang kelincahan dan sikap manja Belia. Serta ungkapan cinta yang Belia katakan dengan berulang-ulang. Muntaz baru menyadari betapa Belia mencintainya dan takut kehilangan dirinya.



Muntaz menyudahi makannya, setelah minum dia bangkit dan bersiap untuk pergi. Sebelum pergi tidak seperti biasanya langsung beranjak, tapi kini dia memanggil Belia.



"Bel, aku pergi ya!" ujar Muntaz seraya menghampiri Belia dan membelitkan tangannya di pinggangnya. Belia nampak malu-malu dan sepertinya tidak menduga apa yang akan Muntaz lakukan. Muntaz tiba-tiba melabuhkan ciuman di pipi Belia. Dan Belia sangat kaget, dengan perasaan malu Belia masih menunduk dan memegangi tangan Muntaz yang kini membelit perutnya. Muntaz kini berhasil membalik tubuh Belia sehingga berhadapan.



Muntaz perlahan meraih dagu Belia dan menatap mata Belia dalam, lalu mendekati wajah Belia yang kini bersemu merah seperti tomat ceri. Dan sesuatu yang hampir tidak pernah terjadi sepanjang pernikahannya dengan Muntaz di pagi hari kini terjadi. Ini sangat diluar dugaan Belia. Muntaz tiba-tiba mencium bibir Belia dengan penuh perasaan. Belia jelas sangat kaget, sehingga ia hampir saja ingin berontak namun Muntaz berhasil menahannya.



Kejadian di pagi hari yang tidak terduga ini berjalan sangat lama. Muntaz mengulangnya setelah mengusap bibir basah Belia karena ulahnya. "Aku mencintai kamu, Bel. Sekarang kasih aku kesempatan untuk selalu mencintaimu," ujarnya sembari melabuhkan ciuman hangat itu. Hati Belia menghangat, sehingga tidak disadarinya sudah melilitkan tangan di leher Muntaz.



Muntaz melepaskan ciuman hangat pagi itu, dia nampak bahagia dan sumringah, ditatapnya mata Belia dalam sambil berbicara, "Bel, kita ulang kejadian tadi, nanti malam ya! Sekarang aku pergi dulu," pamitnya seraya melepaskan pelukan di tubuh Belia. Belia tidak menjawab dia tersenyum malu, lalu mengiringi kepergian Muntaz keluar rumah.



"Assalamualaikum!" ucap Muntaz sambil menatap Belia penuh cinta. Sepanjang pernikahannya, Belia baru kali ini diperlakukan seperti ini oleh Muntaz. Belia menatap kepergian Muntaz dengan tatapan penuh cinta.



"Benarkah Bang Muntaz sudah mulai mencintai aku?" tanya Belia pada dirinya sendiri dengan uraian air mata. Belia tidak mau senang dulu, dia harus tetap waspada dengan sikap Muntaz yang tiba-tiba begitu perhatian dan mesra. Siapa tahu ini hanya sementara, namun Belia berdoa semoga ini adalah awal yang baik bagi rumah tangganya kedepan, sebab dia memang benar-benar mencintai Muntaz.

__ADS_1



Tidak berapa lama, Belia pun bersiap dan pergi bekerja. Sepanjang perjalanan menuju toko buku tempat dia bekerja, Belia tidak lepas dari rona bahagia. Perlakuan Muntaz benar-benar membuat dia berubah ceria dan bahagia.



Keadaan ini terbawa sampai ke toko. Sela yang melihat pun nampak heran dan penasaran ingin tahu. "Bel, ada apa nih gerangan, sepertinya bahagia nian, ada kabar apa?" tanya Sela selalu kepo.



"Tidak ada Sel, aku hanya lagi senang saja. Memangnya aku tidak boleh, ya, gembira pagi ini?" Belia balik bertanya.


"Tidak dong Bel, kau berhak bahagia, dan semua orang berhak bahagia di pagi ini termasuk aku," kilah Sela seraya beranjak menghampiri pembeli yang tiba-tiba datang bergerombol dan membeli peralatan menulis dan lainnya.


Sela kembali lagi menghampiri Belia yang sedang membereskan buku tulis yang sempat dipilih sama salah satu pembeli tadi, setelah para pembeli tadi dilayaninya dengan baik dan tuntas.



"Dibuly kenapa sih, Sel? Belum apa-apa sudah takut aku buly, emangnya aku ini tukang buly?" Belia menyentak kurang senang.


"Jika aku dekati Bang Najid, kau tidak akan marah, kan, Bel?" tanya Sela ragu-ragu. Mendapatkan pertanyaan seperti itu Belia langsung mengerutkan keningnya.



"Marah, kenapa? Yang benar saja, Sel. Kok Marah sih?"


"Aku takut saja kau marah, sebab Bang Najid sempat suka sama kau, Bel." Akhirnya Sela mengungkap ketakutannya pada Belia. Belia tertawa kecil kemudian berkata.


"Aku sudah menikah Sel, kenapa aku harus marah jika melihat kau dekati Bang Najid? Justru itu bagus, sebab sejak awal sebetulnya aku ingin menghindari Bang Najid. Bahkan saat Bang Najid sengaja mencegat aku balik," ucap Belia jujur.



Sela diam mencerna ucapan Belia barusan yang dirasakannya jujur. Seperti yang sempat Sela ketahui bahwa hubungan rumah tangga Belia dengan Muntaz tidak harmonis alias Muntaz belum mencintai Belia, jadi ketakutan Sela beralasan. Karena Belia yang belum dicintai Muntaz.

__ADS_1



"Benar Bel, kau tidak marah?" yakin Sela ragu.


"Benar Sel, kenapa aku harus bohong? Toh aku dari awal memang tidak ada perasaan apa-apa sama Bang Najid. Jadi kau tenang saja. Kau boleh dekati Bang Najid sampai dia bisa mencintai kau dan bisa kau miliki sepenuhnya," ujar Belia mendukung. Sela menerbitkan senyum gembira di bibirnya setelah mendengar pernyataan Belia barusan.


"Kau naksir berat ya sama Bang Najid?" Belia bertanya sembari melayani pembeli yang datang.


"Heueuh," sahut Sela malu-malu.


"Kenapa kau malu-malu begitu? Pepet terus Sel. Lagipula Bang Najid masih single, dia Bos showroom pula." Belia mencoba mempengaruhi Sela.


Sela senyum-senyum bahagia, dia seperti mendapat dukungan dari Belia. Dan juga kini Sela merasa yakin bahwa Belia memang tidak ada perasaan apa-apa pada Najid.



Tidak terasa jam pulangpun tiba, Sela dan Belia bersiap dan membereskan peralatan kerjanya serta barang-barang toko yang tadi sempat tidak rapi akibat pembeli yang memilih barang.



"Aku balik duluan, ya, Sel. Kau tunggu saja jemputannya sambil menjumpai Bang Najid," goda Belia sembari berlalu. Sela tersenyum mendapat godaan dari teman seperjuangannya ini, lalu dengan memberanikan diri, Sela menunjukkan dirinya di depan ruko Najid.



Belia masih berjalan menuju rumahnya yang beberapa meter lagi sampai. Namun tiba-tiba dari arah belakang sebuah motor yang sudah dikenalinya mencegat perjalanannya sehingga membuat Belia terkejut setengah mati.



"Astaghfirullah!" ucapnya sangat terkejut. Orang bermotor itu menurunkan sebelah kakinya sebagai standar tumpuan menjaga keseimbangan motornya. Tidak salah lagi ini Novi mantan pacar Muntaz yang tempo hari mencegatnya dan mengata-ngatainya, lalu pernah juga menyerempet yang untungnya tidak mengenai tubuhnya.



"Kau lagi, bosan aku lihat muka kau. Kepedean banget kau bisa manjadi bini Bang Muntaz, kau tidak tahu bahwa dia itu masih sangat mencintai aku. Bahkan duit yang dia pinjamkan kini dia berikan untuk aku saking dia mencintai aku," ujarnya sombong. Belia diam saja dan tidak merasa penting melayani Novi.

__ADS_1


__ADS_2