Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 10


__ADS_3

Aluna benar-benar minggat! Begitu ibu melihat kedatangan ku di depan pagar, dengan suara tercekat, ibu mengatakan kalau Aluna tidak ada di rumah, lengkap dengan koper dan barang-barang lainnya.


"Kamu jangan diam bengong begitu, cari istrimu!" hardik Ibu melotot, terlihat kesal karena reaksi wajahku yang datar.


Aku bukan tidak terkejut, tapi hanya sedikit, karena memang sudah memprediksi kepergian gadis keras kepala itu.


"Jun..." Langkah ibu berhenti di sampingku yang tenang duduk dan menuang segelas air dan segera mengaliri tenggorokanku.


"Biarkan aja lah, Bu. Terserah dia mau kemana. Aku capek ngurus anak ingusan keras kepala itu!" jawabnya datar, lalu pamit masuk ke kamar.


Lirikan ku terkunci ke arah ranjang. Sudah rapi, tapi aku tahu kalau ibu yang mengerjakannya.


Aku bukan tidak khawatir sama sekali, hanya sedikit jenuh dan lelah mengikuti kemauan gadis itu. Terserah lah mau kemana dia pergi.


Ku putuskan untuk berbaring di atas ranjang, sekedar meluruskan urat dan tulangku yang terasa patah.


Semerbak wangi menjalari indra penciumanku. Semakin kepalaku bergerak gelisah, aku semakin mengendus wangi harum yang ternyata aku suka.


Ku putuskan untuk mencari sumbernya. Saat mencium permukaan bantal, barulah aku sadar wangi itu berasal dari parfum wanita, milik Aluna.


Wangi itu menenangkan, hingga membuat dan akhirnya aku terhanyut dalam buaian mimpi.


Tidurku pulas. Aku ingat saat mulai masuk kamar pukul tiga sore, dan ketika bangun, hari sudah berganti senja.


Aku mulai menapaki kakiku ke luar kamar. Rumah kosong, yang menandakan ibu ada di warung.


Sebegitu pulasnya aku tidur, sangat nyenyak hingga saat bangun tubuhku terasa sangat segar.


Sudah waktunya mandi sore, lalu sholat dan makan malam. Untuk makan malam kami ibu menyiapkan ikan asin sambal terasi lengkap dengan tahu tempenya. Jangan lupakan lalapan.


Air liurku ku telan entah sudah keberapa kali. Ku putuskan untuk bergegas membersihkan diri. Bayanganku malam ini akan makan dengan nikmat.


Detik demi detik yang bergulir, aku manfaatkan sebaik mungkin. Saat aku keluar kamar, ku dapati Ibu baru masuk ke rumah sehabis menutup warungnya.


"Bu, mandinya yang cepat ya, aku udah lapar, biar kita makan bareng," ujarku mengembangkan senyum.


"Kau masih bisa memikirkan makanan, sementara istrimu di luar sana gak tahu gimana keadaannya. Bisa kau telan nasi itu?"


Ibu menyatakan perang padak, setelah menolak permintaannya untuk mencari Aluna.

__ADS_1


Aku heran, kenapa sekarang ibu jadi lebih sayang pada Aluna ketimbang aku, yang anaknya sendiri?


Bayangan duduk di meja makan dengan menikmati hidangan yang tersaji di meja, seketika menguap.


Jangan sampai aku menjadi si Malin versi modern, yang menyakiti hati ibunya. Piring yang sudah aku balik, aku telungkupkan lagi.


"Mau kemana?" Salak Ibu yang galaknya udah kayak ibu kos yang membentak anak kosnya yang nunggak bayar bulanan.


"Keluar, Bu. Mau cari anak hilang!"


***


Hiruk-pikuk dan lalu lalang suara motor berlomba dengan jeritan lautan manusia dan juga dentuman musik. Aku yakin Aluna pasti kembali ke area balap liar ini. Ya, mau ngapain lagi kalau bukan untuk bertemu kekasih hatinya Digo.


Kemana lah gadis itu bisa pergi, kalau tidak ke pangkuan berandal itu.


Setapak demi setapak, aku melangkah masu. Sepanjang orang yang ku lewati, pasti langsung aku selidiki, berharap kalau salah satu dari banyak nya manusia ini adalah Aluna, tapi kenyataannya nihil.


"Lu cari siapa?" Seorang pria mencolek ku. Mungkin dia kasihan melihatku yang sejak tadi linglung, kayak anak ayam kehilangan induk, memperhatikan satu persatu gadis yang ku lewati.


"Aluna," jawab ku ramah.


Bukan menunjukkan tempat gadis itu, dia justru mengarahkan pandangan curiga dan ingin tahu.


"Mmm... Sepupu."


Ku coba sewajar mungkin, tidak kikuk apalagi gugup. Jangan sampai suatu hari mereka curiga padaku, dan mencari tahu siapa aku sebenarnya.


"Oh. Luna ada di belakang parkiran itu," jawabnya dengan jari mengacung ke depan, sedikit jauh dari tempat kami.


Benarkan firasatku, kemana lagi gadis itu kabur kalau bukan pada brandal sialan itu. Sangat mudah mencari Aluna, kompasnya ada pada Digo.


Untungnya aku sudah pernah ke sini bersama anak buah Opa Jer, kala mencari Aluna kala itu, hingga membuatku langsung memilih tempat ini guna mencarinya.


"Oh, thanks," Jawab ku dengan gaya sok asyik. Ingat, saat ini aku sedang berperan jadi sepupu, jangan terlalu kaku.


"Tunggu!" Pria itu menahan langkahku dengan merentangkan kakinya ke depan langkahku. "Lebih baik Lu gak usah ke sana dulu, dia baru ribut sama Digo, pacarnya!"


"Tenang aja. Aku tahu apa yang harus aku lakukan," tukas ku mendatangi tempat yang ditunjukkan pria itu.

__ADS_1


Dengan langkah perlahan aku menyusuri tempat itu. Rayuan gadis-gadis belia di tempat itu membuatku risih sebenarnya, untuk semakin dalam masuk ke dunia malam mereka ini.


Akhirnya aku berhasil tidak kepincut, (Jangan sampai, Ibu pasti akan ngamuk.)


Sosok Aluna mulai dapat ditangkap lensa mataku. Gadis itu berada di ujung sana, di taman yang tidak indah sama sekali karena tidak memiliki tanaman lengkap dengan bunga.


"Sedang apa kau di sini?"


Suara langkahku membuatnya terkejut, lalu menoleh padaku dengan tatapan tajam. Tatapan kebencian. Aku tidak peduli. Tujuan utamaku datang menjemputnya, jangan sampai dipikir oleh Opa Jer, aku mengabaikan cucunya ini.


"Kau menangis?" tanyaku mulai khawatir yang berlebih. Pikiran bercabang. Kenapa Aluna menangis di gelapnya malam. Bagaimana ini? Apa alasan kesedihannya. Jangan-jangan apa mungkin mereka sudah melakukan yang satu itu?


Mendengar hal itu, Aluna bukan menjawab malam melempar tas tangannya ke arahku.


"Pergi! Aku benci, aku muak! Udah gak ada yang sayang ku lagi. Pergi! Biarkan aku sendiri!"


Apa aku akan pergi? Nyatanya aku justru mematung di sampingnya.


"Masih di sini, Lu? Pergi sana, gua gak akan balik malam ini atau seterusnya."


"Lu kenapa? Kok nangis?"


"Bukan urusan, Lu!"


"Jadi, urusan ku karena ini menyangkut keselamatan diriku juga!" Jawab Juna jutek, mengambil tempat di samping Aluna.


Dia masih merangkul tas tangan Aluna yang sejak tadi dilempar ke arahnya.


"Kenapa nangis? Kamu minggat dari rumah mau ketemu Digo, sekarang kok malah nangis?"


Aluna menatap benci pada Juna, tapi anehnya rasa sesak di dada dan rasa kecewanya, ingin dibalut oleh siapa saja termasuk Juna.


Jangan salah paham dulu, dia bukannya suka pada pria itu, hanya saja, entahlah. Yang pasti tidak sampai hitungan menit, Aluna yang kembali terisak dengan kesedihan yang mendalam, Aluna menangis sejadi-jadinya.


Perlahan tangan Juna terulur ingin menarik tengkuk gadis itu agar menjadikan pundaknya sebagai sandaran saat menangis, tapi belum sempat dia lakukan niat luhurnya, Aluna justru sudah merebahkan kepalanya di bahu Juna.


"Gue benci, kenapa dia buang gue kayak gini!" jeritnya di tengah tangisnya. Alunan musik keras dan teriakan para kaum muda-mudi, menenggelamkan teriakan Aluna, tapi masih bisa aku dengarkan dengan baik.


"Kenapa Digo membuang Elu? Apa yang sudah dilakukan pria itu?" Aku terus mencerca Aluna, mencari tahu kenyataan yang terjadi.

__ADS_1


"Dia gak mau gua ajak kabur, kawin lari. Dia justru memaksa gua pulang ke rumah Lu. Gua benci, semua meninggalkan gua dalam kesusahan."


"Sudah jangan nangis lagi. Sebaiknya kita pulang sekarang!"


__ADS_2