Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 67


__ADS_3

Tampaknya sudah menjadi tradisi di kedua keluarga itu, setiap awal pertemuan, akan selalu canggung, hingga suasana ruangan itu begitu menegangkan.


Juna melirik ibunya, 10 menit tamunya dianggurin. Teh yang sejak awal disajikan juga sudah dingin, tapi tidak satupun dari keempat orang dewasa plus satu orang anak kecil angkat bicara.


Eheem...


Juna sengaja membunyikan tanda, agar ibunya bisa mengambil sikap. Bagaimanapun kedatangan Opa Jer dan Aluna berniat baik. Bu Salma seolah mengabaikan semua orang yang ada di ruangan itu, fokus pada satu objek yang duduk di depan tv dan bermain bersama mobil robotnya.


"Ibu," kembali Juna menegur dengan lembut, menyentuh lengan wanita yang wajah cantiknya terlihat banyak keriput.


Panggilan itu berhasil menariknya dari dunianya sendiri.


"Dia Dewa, Bu. Anakku dan Aluna," ucap Juna masih berusaha mempertahankan nada suaranya.


Tanpa disadari Salma, air matanya turun. Dia bisa dengan jelas melihat kenyataan itu. Sedikitpun tidak meragukan kalau Dewa adalah anak Juna, cucunya, karena bocah itu begitu mirip dengan Juna pada saat anaknya kecil.


"Ibu tahu. Tidak ada yang bisa menyangkal hal ini. Dia adalah bentuk kecil dari dirimu. Kalian sangat mirip," ucap ibu masih dengan air mata yang menetes di pipinya. Perasaan campur aduk. Bahagia karena mengetahui kalau dirinya sudah menjadi nenek, dan merasa sedih, karena cucunya itu tidak pernah tahu kalau selama ini dia memiliki seorang nenek.


"Ibu, apa yang terjadi? Mengapa Ibu jadi menangis?" Juna bangkit, mengambil tisu dan berlutut di hadapan ibunya.


"Ibu sangat terharu. Bahagia sekali. Ibu ingin memeluk putramu, tapi tampaknya dia tidak mengenal Ibu sebagai neneknya," jawab Salma dengan suara bergetar, terdengar begitu pilu dan menyedihkan.


Opa Jer yang mendengar hal itu hanya bisa diam dan menunduk. Dia sudah berlaku tidak adil pada Salma. Bagaimana kalau dirinya diperlakukan seperti itu? Dijauhkan dari Dewa?


"Saya minta maaf, Bu Salma." Opa Jer memberanikan diri mulai buka suara. Dia ingin mengakhiri kesedihan wanita itu dengan mengabarkan kalau mereka akan melakukan resepsi pernikahan untuk Juna dan Aluna sebagai langkah menginformasikan kepada khalayak ramai kalau mereka sudah menikah.

__ADS_1


"Minta maaf? Untuk apa Tuan?" Tantang Bu Salma. Selama ini pria kaya raya itu sudah cukup merendahkan dan membuat anaknya menderita. Kedatangan mereka pun sebenarnya tidak ingin disambut oleh Salma, tapi Juna yang sudah menjelaskan sekaligus memohon membuatnya tidak bisa menolak.


"Untuk semua kesalahan saya selama ini. Saya mohon, maafkan saya dan mari kita buka lembaran baru. Kedatangan saya beserta cucu dan cicit saya, selain ingin minta maaf, juga ingin meminta persetujuan Ibu, untuk mengadakan resepsi pernikahan bagi Juna dan Aluna."


"Kenapa baru sekarang, Tuan? Setelah air mata kering dan luka di hati menganga, baru Anda datang untuk minta maaf?" suara Salma jelas tidak bersahabat. Dia masih belum bisa ikhlas memaafkan kesalahan Opa Jer.


"Itulah kesalahan saya, Bu. Saya sudah sadar, kalau mereka berdua saling mencintai, dan tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Kebahagiaan Juna ada pada Aluna, begitu pun kebahagiaan cucu saya. Hanya Juna yang bisa memberikannya. Lagi pula, semua ini juga demi masa depan Dewa, yang butuh sosok lengkap kedua orang tuanya."


Salma kembali melihat ke arah Dewa. Benar apa kata Opa Jer. Jika dia tetap mengikuti egonya, yang jadi korban adalah cucunya sendiri, Dewa. Apa yang coba dia pertahankan? Kehormatan? Bukankah Opa Jer sudah minta maaf?


"Baiklah. Aku akan mengikuti apapun perkataan Anda, karena semata-mata demi kebahagiaan cucu saya."


Aluna bangkit memeluk Salma erat. Sejak tadi dia sudah membendung air matanya, tapi kini rasa haru dan bahagia yang memuncah dalam hatinya buat Aluna tidak tahan untuk berdiam diri di tempatnya.


"Ibu, aku minta maaf karena sudah jauh dari Ibu. Tidak pernah menanyakan kabar Ibu atau sekedar mengunjungi Ibu lagi. Maafkan aku, Bu," isak Aluna jujur akan kesedihannya.


"Sudahlah, Non. Jangan menangis lagi. Ibu paham dengan keadaan Non, juga perasaan Non saat itu."


Dengan lembut tangan Salma membelai punggung Aluna, menenangkan gadis itu agar berhenti menangis.


***


Semuanya sudah dirembukkan. Acara akan diadakan Minggu depan. Ibu sudah memaafkan Aluna juga Opa Jer.


Opa Jer sudah menugaskan beberapa karyawannya untuk mengurus gedung dan persiapan untuk resepsi.

__ADS_1


Masalahnya hanya tinggal satu. Dimas. Mereka harus bicara dengan Dimas. Aluna sudah menawarkan diri untuk bicara seorang dirinya saja pada pria itu, tapi Juna memaksa untuk menemaninya.


Di sinilah mereka berdua, duduk saling berdampingan dengan Dimas berada di depan mereka, menatap lekat dan penuh tanya.


"Terima kasih sudah menerima undangan kami untuk bicara, maaf kalau sudah mengganggu waktu Anda, Mas," ucap Juna dengan sopan. Dia pernah berada di posisi Dimas, akan kecewa setelah mendengar kebenaran dari Aluna.


"Apa semua ini? Al, ada apa ini?" tanya Dimas menatap lekat wajah Aluna. Kening pria itu berkerut, mencoba menebak apa yang sedang terjadi. Juna yakin kalau Dimas sudah bisa menebak apa yang terjadi, dilihat dari tangan Aluna yang terus saja menggenggam tangan Juna.


"Mas," sambar Juna meminta perhatian.


"Aku ingin bicara dengan Aluna, bukan dengan mu!" bentak Dimas menatap tajam penuh dendam pada Juna.


"Tapi apa yang akan dia bicarakan berkaitan dengan ku. Aku mohon, Anda adalah pria sejati, jangan melayangkan tatapan mengintimidasi seperti itu pada Aluna." Juna juga sudah masang kuda-kuda. Kalau Dimas berbuat rusuh pada pertemuan mereka kali ini, maka Juna tidak akan segar bertindak demi melindungi Aluna.


Dimas terlihat semakin geram karena Juna menguasai keadaan saat ini. Kembali dia melayangkan pandangan pada Aluna.


"Aku menunggu, Al!"


"Mas, aku minta maaf. Maaf yang sebesar-besarnya karena sudah mengecewakan, Mas Dimas. Tapi aku benar-benar tidak bisa membalas perasaan, Mas. Aku mencintai Juna, cinta pertama, suamiku, sekaligus ayah Dewa."


Pernyataan Aluna bagai tamparan keras di pipi Dimas. Kenyataan pahit yang tidak pernah dia duga. Awalnya dia pikir mereka hanya saling suka setelah Juna membantu menyelamatkan Dewa.


"Kamu jangan main-main, Al. Aku gak suka, bercandaan mu kelewatan. Apa maksud semua ini? Kalau kamu memang gak mau menikah denganku, tidak perlu mengarang cerita!"


"Ini kebenarannya, Mas. Aku adalah suami sah Aluna hingga saat ini dan ayah dari Dewa. Aku berterima kasih karena selama ini Mas Dimas sudah menjaga dan bersikap baik pada mereka berdua. Budi baik Mas akan selalu saya ingat. Tapi kami saling mencintai, tidak ada stau orang pun yang bisa memisahkan kami lagi. Dan aku harap, Mas mengerti dan merelakan Aluna dan Dewa."

__ADS_1


__ADS_2