
"Bener kamu gak perlu ku temani?" Dimas masih memaksa untuk menemani Aluna ke Surabaya menghadiri pernikahan teman satu kampusnya.
"Gak usah, Mas. Jangan khawatir, nanti aku bareng-bareng teman-teman. Kita udah janjian, kok," jawab Aluna.
Dimas tidak bisa berbuat apa-apa selain melepas Aluna dengan doanya. Dia berharap kalau gadis itu segera pulang agar hatinya tenang.
Aluna menatap pantulan dirinya melalu jendela pesawat yang belum lepas landas. Wajah Dewa membayang. Belum beberapa jam berpisah dari bocah itu, dia sudah rindu.
Aluna sudah merayu Dewa, mengajaknya turut serta, tapi bocah itu menolak, karena harus sekolah.
"Kamu gak nangis Mama pergi?"
"Kalau cuma sehari, gak papa. Mama pergi aja. Besok aku ada kegiatan outbound di sekolah," tolak Dewa memeluk leher Aluna.
Kadang Aluna tidak mengerti, kenapa anak sekecil itu bisa bersikap dewasa dan mandiri. Dia saja umur segitu sangat manja dan tidak bisa melakukan apapun tanpa ada bantuan orang tuanya dan juga pelayan. Selalu merajuk setiap apapun yang diinginkan tidak didapat.
Sudah jela, semua itu Dewa dapatkan dari Juna sebagai ayah biologisnya.
Ah, memikirkan pria itu, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Ada perasaan lain yang hingga di hati Aluna yang sulit dijelaskan. Perasaan yang dulu selalu dia rasakan setiap memikirkan pria itu. Kenyataan bahwa Juna tidak menikah dengan Tania, dan pria itu berulang kali mencarinya, membuat Aluna merindu dan ingin bertemu Juna.
Satu setengah jam lebih sudah berlalu, Aluna tiba di Surabaya. Dua sahabatnya, Anita dan Laura menjemputnya di bandara.
"Kita langsung ke hotel atau mau jalan-jalan dulu?" tanya Laura penuh semangat. Jarang mereka bisa mengajak Aluna pergi, jadi ingin membuat momen ini berkesan.
Aluna sendiri mengakui kalau dirinya lebih suka menghabiskan waktunya di rumah bersama Dewa. Kalau bukan karena sahabat baiknya yang menikah, dia juga belum tentu datang sampai ke luar kota begini tanpa Dewa bersamanya.
"Kita nongkrong dulu, dong. Udah sore juga, biar nanti bobonya nyenyak. Besok pas acara Hanum, wajah kita fresh dan pastinya jadi cantik," lanjut Anita.
__ADS_1
Ketiganya deal untuk nongkrong di salah satu bar kecil. Minum untuk menghangatkan badan malam itu yang kebetulan turun hujan.
Pandangan Aluna sudah mengabur, mungkin terlalu banyak minuman yang terasa membakar tenggorokan itu dia minum. Namun, setidaknya, dia masih mampu berjalan menuju kamarnya.
Tiba-tiba saja Aluna menghentikan langkahnya, seperti ada orang yang sedang mengintainya.
Namun, alih-alih mencari tahu dengan memutar tubuhnya ke belakang, Aluna justru berlari di koridor lantai dan begitu menemukan kamarnya, melesat masuk ke dalam.
***
"Benarkan, istirahat yang cukup membuat wajah tampak segar dan tubuh penuh semangat menghadiri pesta pernikahan Hanum. Lihatlah, kamu begitu cantik, Al," puji Anita menatap kagum pada Aluna lewat cermin.
Bertiga mereka sedang dirias oleh MUA yang diminta datang pagi ini ke kamar Aluna.
"Kamu juga cantik, Laura juga," jawab Aluna tulus. Kedua orang yang mereka minta datang untuk mengubah penampilan mereka nyatanya sangat profesional dan hasilnya bisa sangat memuaskan.
Acara berlangsung hikmat. Begitu tiba tadi, Aluna segera mencari Hanum dan memeluk gadis berbalut kebaya putih itu dengan erat.
Rasa haru yang disertai air mata tidak mampu dibendung lagi, hingga keduanya menangis.
"Kamu cantik banget, Num. Akhirnya kamu menikah juga. Aku ikut bahagia untuk mu. Semoga kau selalu bahagia, Num," ucap Aluna menghapus punggung Hanum agar berhenti menangis. Dia harus bisa menguasai hatinya, agar upaya sang perias pengantin yang sudah bekerja dari subuh tidak sia-sia.
"Doa yang sama untuk mu, Al. Aku juga ingin secepatnya mendapatkan kabar darimu, bahwa kau akan segera menikah dengan pria yang kau cintai dan juga mencintaimu," sambar Hanum kembali memeluk Aluna lagi.
Selama rentetan acara berlangsung, Aluna dan teman-temannya sangat menikmati acara itu. Mereka juga berdansa bersama dengan kedua mempelai, lalu dengan tahu diri mundur untuk memberikan waktu bagi pihak keluarga keduanya.
Aluna memilih duduk di meja bulat yang ada di barisan tengah. Sementara Anita mengobrol dengan pria yang baru dia kenal di pesta itu, sedangkan Laura, entah pergi kemana bersama pacarnya yang kebetulan bekerja di Surabaya hingga Laura meminta kekasihnya datang juga ke pesta itu.
__ADS_1
Aluna tidak masalah kalau pun harus duduk seorang diri. Dia menatap lurus pada Hanum yang saat ini diajak berdansa oleh ayahnya.
Ah, Aluna terharu. Dari segi materi mungkin dia tidak kekurangan, tapi dari segi kasih sayang orang tua, dia sangat miskin. Impian setiap gadis, pada saat menikah dapat berdansa dengan sang ayah, tapi Aluna tahu kalau dia ditakdirkan tidak akan bisa merasakan hal itu.
Jangankan untuk berdansa, menikah dengan pria yang dicintainya saja, dia tidak bisa. Aluna mengambil kembali gelas kristal yang berisi champagne, dan menenggak habis, entah sudah gelas keberapa dia minum selama duduk sendirian di meja itu.
Namun, ketika ingin mendekatkan gelas ke bibirnya, yang sudah berhasil diambil dari pelayan yang kebetulan lewat, tangan seseorang memegang pergelangan tangannya, menahan gelas itu di sana, lalu dengan tangan satunya, mengambil gelas itu dari sela jari Aluna.
Aluna punya self control, hingga bisa menahan diri untuk tidak menjerit ketika tiba-tiba seseorang memegang tangannya.
Kepala Aluna tidak perlu berputar untuk melihat siapa orangnya. Sapuan wangi parfum yang menyeruak penciumannya sudah mampu menegaskan siapa dia. Namun, justru itulah yang kini buat jantungnya berdebar tak karuan.
Akal sehatnya terus menampik, tidak mungkin orang yang saat ini ada di belakangnya adalah Juna!
"Kau sudah terlalu banyak minum. Jangan mempermalukan dirimu di pesta pernikahan Hanum. Dia akan malu jika kau bertingkah konyol nantinya kalau sampai mabuk.
Juna berjalan perlahan ke hadapan Aluna. Dengan ketenangan seorang profesional, dia menarik kursi dan duduk di depan Aluna.
Bola mata Aluna masih menatap lekat padanya. Tanpa berkata apapun, tapi jelas, sorot itu meminta penjelasan.
"Aku diundang. Jangan berpikir aku menguntit mu!"
Aluna kini meneruskan tatapannya pada Hanum. Boleh percaya, gadis itu saat ini juga sedang melihat ke arah Aluna.
Benar adanya. Ini semua adalah rencana Hanum. Dia mengetahui seberapa besar keduanya saling mencintai dan sebesar apa pula keduanya ingin saling menyakiti.
Jadi, saat pernikahannya tiba, penuh semangat Hanum mengirimkan undangan pada Juna. Tidak sulit mencari pria itu, karena saat beberapa kali mencari Aluna, Juna pasti menemui Hanum, siapa tahu ada kabar yang dia dapatkan tentang keberadaan Aluna.
__ADS_1
"Aku tidak ingin melihatmu. Silakan pergi dari meja ini!"