Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 22


__ADS_3

"Aku kangen banget sama kamu!" Aku gak bisa menolak saat Tania berlari memeluk ku erat begitu keluar dari pintu kedatangan. Gelagapan, aku membalas pelukannya.


"Jun, aku bilang aku kangen sama kamu!"


Aku hanya bisa tersenyum. Tania memang seperti itu, suka memaksa. Dia menuntut jawaban, dan itu harus memuaskan.


"Iya, aku juga."


Kami menuju restoran favorit Tania. Dia pemilih, dan kalau sudah suka satu hal, maka akan itu saja yang akan dia inginkan.


"Gimana pekerjaan mu? Aku masih belum ngerti, apa yang ada dalam pikiran kamu, sampai mau menerima pekerjaan jadi guru.


"Tania, kita udah membahasnya. Ibu menginginkan aku tetap berada di dekatnya. Ibu sudah tua, kalau aku ke Jerman, gak akan ada yang menemaninya."


Tidak semua alasanku bohong. Saat aku mengatakan niatku untuk bekerja di Jerman, jauh sebelum bertemu dengan Opa Jer, dan memaksaku menerima perintah menikahi Aluna.


"Ya, aku ngerti, kok." Ku dengar dia menghela napas panjang, ungkapan hatinya yang sedikit tidak puas, tapi tidak bisa berkata apapun lagi.


Sisa waktu yang kami habiskan hingga akan mengantarnya pulang, bercerita tentang kehidupannya di Jerman. Aku senang dengan kepulangan Tania, harusnya aku bersorak gembira dan menggenggam tangannya seperti saat ini aku lakukan. Oke, bukan aku yang menggenggam tangannya, tapi dia. Yang tidak ku mengerti, kenapa pikiranku justru melayang pada Aluna? Sejak tadi memikirkan gadis itu sedang apa.

__ADS_1


"Entah hanya perasaanku aja, tapi kenapa aku merasa kalau kamu itu sedikit berbeda?"


Lamunanku pada Aluna buyar seketika. Kenapa aku memikirkan gadis itu saat ini, di saat aku lagi bersama Tania.


"Berbeda? Mungkin itu cuma perasaan mu aja, karena kita udah lama gak ketemu." Aku tersenyum, meski sedikit kikuk oleh ucapan Tania. Berbeda? Apa benar ada yang berbeda? Atau itu hanya perasaan Tania aja?


"Oke. Aku tunggu."


"Tunggu apa?" Keningku berkerut. Entah apa yang aku janjikan sama Tania, aku benar-benar lupa.


"Cerita!"


"Kau janji cerita padaku!" ucap Tania menagih janji.


Malahan aku berharap kalau masalah ini tidak perlu diketahui oleh Tania saat ini. Jujur, aku belum siap menyakiti hatinya.


"Oh, itu, gak ada yang penting. Hanya karena saat itu aku sangat merindukanmu, dan tidak bisa bertemu dan impianku untuk segera menemuimu ke Jerman pupus hingga membuatku sedih."


Tania menatap tajam, menilik apakah yang aku katakan benar atau ada kebohongan.

__ADS_1


"Besok jam berapa kita ketemu? Sebenarnya aku belum mau pisah, masih pengen sama." Tania memeluk pinggangku erat. Ogah melepas diriku yang sudah dua kali pamit pulang.


"Sore, ya. Aku besok full ngajar di sekolah."


***


"Lagi apa?" Tanyaku saat melihat Aluna duduk diam di teras rumah. Ku lirik ke samping, warung ibu sudah tutup. Wajar sih, sudah terlalu malam. Pada akhirnya aku pulang kemalaman juga. Niat awal pulang jam tujuh pada akhirnya pulang jam sembilan malam juga.


"Nyari angin!"


"Ntar masuk angin, loh," ucapku hanya bisa tersenyum mendapati, wajah cemberut Aluna. Sudah biasa, kan!


Reaksi Aluna tetap seperti biasa, tidak bersahabat, seolah ingin menerkam, padahal kemarin sudah mulai melembut.


"Al..."


"Ingat janji, dong. Kalau mau ngajarin orang belajar, harus serius dikit kenapa, sih!"


Aluna segera pergi meninggalkanku, tak lupa menghempaskan daun pintu tepat di depan wajah ku. Segera ku susul langkahnya yang sudah masuk ke dalam kamar. Ibu yang melihatku, tidak sempat aku sapa hanya demi menyusul Aluna. Aku ingin segera tahu apa alasan gadis itu marah begitu besar.

__ADS_1


"Kamu kenapa?"


"Gak usah sok ramah, gak usah sok peduli!"


__ADS_2