
Baik Aluna ataupun Juna, keduanya duduk dengan menunduk di hadapan Opa Jer seperti terdakwanya terpidana mati, di bawah tatapan tajam Opa Jer.
Tidak ada satu patah katapun yang terdengar di ruang kerja pria berusia hampir delapan puluh tahun itu.
Jemari Aluna yang sejak tadi bertautan dengan Juna, meremas jemari pria itu. Memberi tanda agar Juna mulai angkat bicara.
"A-apa kabar Opa?" tanya Juna mulai angkat bicara, meski sedikit grogi dan kikuk.
"Tidak perlu basa-basi. Apa yang membuatmu berani menemuiku?" tanya Opa Jer tegas. Sejak tadi melirik jemari keduanya yang masih saling bertautan. Dia tidak suka, karena sudah jelas apa artinya itu semua.
"Kau tidak perlu menanyakan kabarku. Sekarang kau pergi dari rumah ini! Aku tidak ingin melihatmu lagi! Dasar brengsek!" umpat Opa Jer menghentakkan ujung tongkatnya ke dasar lantai.
"Opa! Aku mohon jangan kasar begitu pada Juna!" seru Aluna mengangkat wajahnya. Dia tidak akan seperti dulu, menuruti kemauan Opa nya. Dia akan mati-matian bersama Juna memperjuangkan cinta mereka.
"Kamu masih bela dia? Kamu bodoh atau gila, Al? Apa kamu gak ingat apa yang sudah diperbuat pria brengsek ini terhadap mu? Apa kau gak ingat, penderitaan yang kau jalani selama lima tahun ini? Sendiri dalam kesakitan?"
Aluna sadar, dia harus segera menjelaskan semuanya pada Opa agar tidak ada lagi kesalahpahaman diantara mereka. Syukur-syukur Opanya justru berbaikan dengan Juna dan mau merestui mereka.
"Opa, semua ini hanya salah paham. Setelah kejadian itu, Juna datang mencariku. Bahkan dia seperti orang gila putus asa mencari keberadaan ku dengan bertanya sama teman dan orang yang mungkin mengetahui keberadaan ku saat itu. Aku juga sudah tanya sama pak Surip, dia mengaku kalau dulu Juna hampir setiap hari datang ke rumah kita mencari ku, menunggu kepulangan ku, Opa. Jadi, bukan dia gak mau bertanggung jawab."
Suasana di ruangan itu hening, tidak ada yang buka suara.
"Opa, aku minta maaf karena selama ini sudah buat Aluna susah, tapi percayalah Opa, aku sangat mencintainya. Opa, aku mohon izinkan aku menebus kesalahanku pada Aluna dan juga Dewa."
Bola mata Opa membulat. Jelas dia sangat tidak terima atas keinginan yang disampaikan Juna. Dia tebak, kalau Aluna sudah menjelaskan asal usul Dewa pada Juna hingga pria itu punya keberanian mengajukan diri untuk menikahi Aluna.
Jangan harap! Pekik Opa dalam hatinya.
"Kau ingin bertanggung jawab, katamu? Kau ingin menunjukkan figur seorang ayah yang bertanggung jawab di depan Dewa? Selama ini kau kemana? Jangan pikir kau bisa mendapatkan hakmu atas Dewa!"
__ADS_1
"Opa, aku kan udah jelaskan. Juna mencari kami, dia ingin bertanggung jawab. Opa jangan lupa, aku yang pergi meninggalkan Juna!"
Opa Jer menatap geram pada cucunya yang bersikeras berada di pihak Juna.
"Opa tetap tidak setuju!"
"Opa!" bentak Aluna, ingin melanjutkan perkataannya, tapi urung karena Juna menyentuh punggung tangannya lembut.
"Opa, mungkin dalam hati Opa, aku bukan lah pria yang pantas untuk Aluna. Tapi perlu Opa tahu, aku dan Aluna sangat mencintai, dan aku yakin, Aluna hanya mencintaiku seorang. Selama ini perpisahan kami hanya menyisakan kesedihan dalam hidup kamu masing-masing. Aku mohon Opa, izinkan kami bersama. Aku bersumpah dengan seluruh hidupku, aku akan membahagiakan Aluna dan Dewa. Hanya aku yang bisa membuat Aluna bahagia, dan begitupun sebaliknya. Kami hancur dan seperti hidup tanpa nyawa jika berpisah. Aku mohon, Opa."
Perkataan Juna sedikit banyak buat Opa terdiam. Terlebih lagi, ada tameng kuat di antara perseteruan dirinya dan Juna, yaitu Aluna, cucu yang paling dia sayangi. Kalau memang seperti kebahagiaan Aluna hanya Juna yang bisa memberikan seperti perkataan pria itu tadi, Opa Jer tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Sudah terlalu lama dia melihat cucunya menderita.
"Lantas, apa rencana kalian?"
"Dasar bodoh!"cibir Opa Jer mencemooh, lalu buang muka.
"Opa!" rengek Aluna kembali. Dia tidak ridho kalau kekasih hatinya diperlakukan cuek dan kasar oleh Opa.
"Untuk apa lagi kau melamar istrimu?"
Kali ini justru Aluna dan Juna yang dibuat tercengang. Keduanya saling adu pandang lalu bersamaan melihat ke arah Opa.
"Bukannya Opa bilang kami sudah bercerai?" lontar Juna spontan. Ini berita yang membahagiakan sekaligus membingungkan.
"Apa kau merasa ada menandatangi surat cerai?" serang Opa.
Keduanya serentak menggeleng. Ini bagaimana sih, bukannya pria tua itu dulu bilang tanpa tanda tangan keduanya, perceraian itu bisa dia urus dengan uang dan kekuasaan?
__ADS_1
"Jadi, maksud Opa kami belum bercerai? Masih berstatus suami istri?"
"Ck!" Gumam Opa Jer memandang remeh ke arah Juna. Merasa tuduhannya yang mengatakan Juna bodoh tadi tepat adanya. Masa ini saja tidak mengerti?
"Kau benar-benar bodoh. Apa kau masih belum mengerti? Aku tidak pernah mengurus perceraian kalian. Dasar anak muda ceroboh!"
"Kamu juga Aluna, kamu masih pikir Opa jahat? Saat Opa mengirimmu ke Jerman, Opa sudah mengatur pertemuan mu dengan pria brengsek yang kau cintai ini, tapi justru kau yang pergi. Harusnya kalau pun kau mau pergi meninggalkan dia, kau harusnya menghajarnya terlebih dulu."
Banyak sekali kejutan yang disampaikan Opa Jer pada mereka. Aluna terharu. Di balik sikap dingin dan terkesan kejam Opanya, pria itu justru mengatur agar dirinya bertemu Juna di Jerman.
Tidak tahan oleh rasa haru dan juga terima kasih pada pria tua itu, Aluna bangkit dan berlari memeluk Opanya.
"Opa...."
Tangis Aluna pecah di pelukan Opa Jer. Dia sesunggukkan. Kali ini dia benar-benar salah paham lagi pada Opa Jer. Padahal dia sudah bersiap, jika Opa sampai tidak mengizinkannya menikah dengan Juna, dia akan kawin lari dengan pria itu.
Syukurlah, diakhir cerita, Opa Jer menunjukkan sisi lembutnya.
"Sudahlah, jangan nangis lagi. Apa kau tidak malu menangis seperti anak kecil di depan pria brengsek yang kau cintai setengah mati ini?" ujar Opa yang melerai pelukan mereka.
"Opa! Namanya Juna. Jangan lagi bilang dia brengsek!"
"Nah, kan, kau membelanya ketimbang Opa mu sendiri. Dasar cucu durhaka!" celetuk Opa Jer menghapus jejak air mata di pipi Aluna.
"Kau! Kapan kau akan membawa ibumu ke sini?"
"Atau begini saja," potong Opa Jer kala melihat Juna yang sudah bersiap menjawab. Opa Jer ingat kalau dia sudah banyak salah pada Bu Salma. Menyuruhnya datang, akan membuat kesan kalau dia seperti dulu, pria tua yang suka kasih perintah.
"Kabari ibumu, kami yang akan datang berkunjung ke rumahnya."
__ADS_1