Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 8


__ADS_3

"Aku gak mau tidur di sini, sempit, aku gak nyaman!" Aluna menatap kesal ke arah ranjang di kamar ku.


Gadis itu masih saja berhasil membangkitkan amarahku. Padahal ibu baru saja mengganti seprei bersih dan juga sarung bantal. Kamarku juga cukup luas, bahkan untuk ditempati tiga orang bahkan empat, sementara ini, hanya dia yang menempatinya, dan dikatakan sempit?


"Kau tidur di sini, aku akan tidur di luar!" jawabku ketus. Bagaimana mungkin aku bisa mendidik gadis culas ini. Tampaknya perjanjian dengan Opa Jer akan sulit bisa ku penuhi.


"Aku gak mau! Apa di rumah ini gak ada kamar yang lebih baik dari ini? Lihat aja, di sini gak ada AC!"


Ibu yang sejak tadi menguping di pintu, akhirnya masuk ke kamar guna menengahi kami.


"Di rumah ini hanya ada tiga kamar. Satu kamar Ibu, satu dijadikan gudang, dan satu lagi kamar Juna ini, dan kamar ini yang paling besar. Kalau Neng gak nyaman di sini karena kamar cowok, Neng boleh tidur di kamar Ibu," tutur ibu lembut.


Mendengar hal itu, Aluna hanya bisa diam. Kalau memang ini yang lebih bagus, maka dia tidak punya pilihan lain selain tidur di sini.


"Jun, kenapa kamu tidur di luar? Kalian kan suami istri, sebaiknya kamu juga tidur di sini aja," lanjut ibu mengarahkan pandangannya padaku.


"Apa? Ibu jangan ngomong sembarangan. Aku gak mau dia tidur di sini!" Potong Aluna cepat.


"Gak papa, Bu. Sementara ini aku tidur di ruang tv aja." Aku tidak lagi meneruskan perdebatan. Tubuhku sudah lelah, lebih baik segera istirahat. Bergegas ku ambil satu bantal dan juga selimut lama yang biasa aku pakai, lalu keluar dari kamar.


***


Dua kali sudah ibu membangunkan Aluna, tapi tidak berhasil. Dari ruang makan yang jaraknya tidak jauh dari kamar, aku mendengar teriakannya yang menyuruh ibu jangan mengganggu tidurnya.


"Udah jam 7, nanti Aluna terlambat," ucap ibu sembari melihatku. Aku terlihat tidak peduli, rasanya ingin segera menghabiskan sisa nasi goreng yang aku masak tadi, lalu pergi bekerja, tapi melihat wajah ibu yang tampak tidak tenang, buatku bangkit.


"Biar aku yang bangunkan, Bu."


Aku masuk ke kamar, tanpa mengatakan apapun untuk memberi salam, karena aku pikir itu adalah kamarku, tapi akhirnya aku menyesal tidak beri aba-aba dulu, karena begitu melewati pintu, langkahku terhenti. Poros mataku tertuju pada paha mulus yang terpampang nyata, sebelah menjuntai hingga ke tepi ranjang. Hanya itu? Tidak!


Bola mataku mulai naik ke atas menyusuri tubuh itu hingga berhenti di atas perut mulus tanpa ada pelindung, lalu naik lagi, benda tinggi menjulang. Debar jantungku semakin tak karuan, seperti baru saja menyelesaikan lari maraton dua hari dua malam.

__ADS_1


"Buruan Jun," ucap Ibu dari luar, menyebarkan ku dari pandangan cabul dan pikiran kotor. Wajar dong, aku pria normal. Lagi pula, dia kan istriku, boleh, dong.


Ku langkahkan kakiku, coba mengucap dalam hati. Dengan tangan sedikit gemetar, aku menggoyangkan kakinya dengan membuang wajah, takut saat Aluna buka mata, dia melihatku tengah menikmati tubuh moleknya.


"Bangun! Udah siang, kamu harus sekolah!"


Tidak ada jawaban, aku curiga, jangan-jangan gadis tengil ini mati bukannya tidur.


"Lun, Luna...," panggil ku terus membangunkan. Terlihat tanda dia akan menggeliat, lalu ku tarik tangan ku. Namun, bukan bangun, justru kembali mengambil posisi tidur.


"Bangun!" pekik ku kesal bercampur deg-degan, tubuhku sudah panas dingin melihat gadis itu menendang selimutnya hingga memperlihatkan pakaian dalam yang senada dengan bra nya. Tidak ada jalan lain untuk membaut gadis itu terbangun, langsung saja ku pencet hidungnya agar dia terjaga.


"Awwuuu! Apaan, sih?" salaknya terduduk. "Lu mau bunuh gua ya?"


"Makanya bangun! Sekolah!" jawabku segera berlalu, jantung ku tak karuan, masih belum stabil, bahkan bagian tubuhku paling bawah tampaknya mulai memberikan reaksi.


"Dasar mesum, lu, ya! Ngapain lu masuk ke mari!"


"Apa, Bu? Aku tidak melakukan apapun," ucapku menelan ludah dengan susah payah.


"Memangnya Ibu mengatakan sesuatu?" jawab Ibu sembari ngeloyor pergi.


Tak lama Aluna muncul di depan pintu, menatap ku dengan kesal. Aku tak peduli, ku seruput kopiku guna mengurangi rasa gugup.


"Ngapain lu masuk ke kamar? Lu grepek-grepek badan gua, ya?" Bola matanya melotot, sedikit lagi dia mengeraskan pandangan, mungkin akan keluar.


"Heh! Jangan asal ngomong. Fitnah itu dosa. Siapa yang grepek-grepek? Gak usah sok oke, aku juga gak minat," jawabku berbohong. Tengsin,dong, ketahuan sempat mengagumi kemolekan tubuhnya.


"Aku cuma mau bangunin. Kamu pikir jam berapa ini? Kamu gak sekolah?" lanjut ku.


"Malas! gua gak sekolah! Gua mau pergi dari rumah ini! Apa lu pikir gua sudi tinggal di sini?"

__ADS_1


"Bisa gak kamu gak usah menghina ibu dan menganggap rumah ini menjijikkan?"


Ini masih pagi, loh, tapi gadis itu sudah mulai menguji kesabaran ku.


"Memang kenyataannya, kalian kampungan, miskin dan aku gak bisa hidup dengan orang-orang seperti kalian!"


"Baik, kalau kamu gak mau tinggal di rumah ini, dan gak bisa ikut aturan, maka silakan pergi kemana kau merasa nyaman, aku gak peduli!"


Aku bangkit dari duduk, merapikan kursi dan bekas sarapanku menuju dapur. Tanpa berkata apapun, aku menyalim punggung tangan Ibu yang mencuri dengar dari arah dapur.


Sekali lagi, tanpa mengatakan apapun pada gadis itu, aku pergi. Mood Ku benar-benar rusak pagi ini, bagaimana bisa nanti aku mengajar di kelas. Aku ingat ada tiga lokal yang harus aku ajar.


***


"Mau makan siang bareng, Pak?" tanya Iren yang sudah berada di sisi mejaku. Cara pandang beberapa guru masih sama terhadap ku, hanya ada dua tiga orang yang sudah kembali ramah. Namun, dari semua yang mengherankan diriku, bapak kepala sekolah tetap bersikap ramah dan baik padaku, bahkan bisa dibilang sedikit segan dan hormat. Dia tidak ikut memusuhi atau menegurku, karena mengusir Aluna dari kelas, yang notabene adalah cucu pemilik sekolah ini. Aku tebak, mungkin kepala sekolah sudah tahu kalau aku adalah suami Aluna sekarang.


"Boleh," jawabku singkat, meski sebenarnya perutku tidak lapar. Pertengkaran pagi tadi buatku merasa tidak berselera untuk makan siang ini.


Jujur, setengah dari isi pikiranku, melayang pada gadis itu. Apa benar dia melakukan yang tadi dia katakan padaku? Akan pergi dari rumah kami? Ingin mencari tahu lewat ibu, tapi setelah aku pikir lagi, tidak usah lah.


"Pak Jun...,"


"Juna aja. Kita juga gak lagi di sekolah," jawabku membuang rasa sungkan. Aku dan Iren seumuran, jadi sedikit canggung manggil bapak ibu.


"Nah, aku setuju. Sebenarnya sejak awal mau bilang gitu."


"Jun, tahu gak rumors yang aku dengar dari ruang guru pagi tadi?"


"Apa?" Sedikit pun aku tidak tertarik sebenarnya, tapi hanya ingin menghargai Iren.


"Rumors nya Aluna sudah menikah!"

__ADS_1


__ADS_2