
Terkutuklah Juna, karena apapun yang diperintahkan Aluna dia tidak mau menurutinya. Bukannya pergi, Juna malah memilin pindah duduk, lebih dekat dengan Aluna.
"Kita harus bicara!" Pernyataan Juna jelas sangat tegas. Dia sudah datang sejauh ini, tidak ingin mundur lagi.
"Aku tidak mau bicara denganmu!" tolak Aluna tidak kalah tegas.
Lidah memang tidak bertulang. Bibir boleh berkata tidak ingin bicara bahkan mengusir, tapi pada kenyataannya, baru kemarin dia ingin bertemu Juna, bahkan dengan tidak tahu malunya, gadis itu memimpikan Juna tadi malam, seolah pria itu memang berada dekat dengannya.
"Kita pergi dari sini!" Kali ini tidak ada sikap ramah diperlihatkan Juna. Wajahnya saja sangat tegas, tidak terselip senyum seperti selama ini yang ada dalam memori Aluna.
Juna sudah menunggu, tapi Aluna masih betah duduk di tempatnya. Sorot mata Juna sangat menakutkan, begitu tegas dan tidak ingin dibantah.
"Kita harus bicara serius, dan untuk itu memerlukan tempat yang tenang. Ikutlah denganku, Al!"
Aluna sadar betul, selama dia bersikeras menolak, Juna juga akan bertahan di sana. Jadi, agar ini semua cepat terselesaikan, dia memilih untuk mengikuti kemauan juga walau dengan keadaan terpaksa.
Aluna berjalan dengan pelan, berharap bisa mengulur waktu hingga Juna bosan dan tidak jadi mengajaknya.
Walau sebenarnya dia tahu itu sia-sia, tapi tidak ada salahnya mencoba.
"Haruskah aku menggendong mu?" tanya Juna yang sudah memimpin jauh. Mereka sudah meninggalkan ballroom dan menuju lantai bawah.
Aluna mendongak, dan sedikit malu karena Juna mendapati taktiknya. Tak hanya itu, ucapan Juna yang menawarkan akan menggendongnya kalau dia masih bertahan berjalan bak kura-kura membuat Aluna sedikit berlari.
"Aduh," pekiknya pelan, menghentikan langkah cepatnya tadi. Hiasan bunga dengan ukuran besar yang dia lalui berhasil menggores lengannya hingga bagian gaun yang terbuat dari tile pun sobek dan sedikit melukai lengannya.
__ADS_1
"Kau gak papa, Al? Apa yang terjadi?" Juna bergegas mundur mendekati Aluna.
"Gaunku sobek. Aku ingin ganti baju dulu ke kamar!"
Tempat acara resepsi pernikahan Hanum memang diadakan di Ballroom Hotel tempatnya menginap, jadi untuk kembali ke kamarnya tidak perlu susah, dan berjalan jauh.
Juna mengikuti langkah panjang Aluna hingga tepat di lorong lantai, Aluna berhenti dan menoleh ke belakang. Juna masih tetap ada di sana.
"Kenapa kau mengikuti ku hingga ke depan kamarku? Apa kau gak bisa menunggu di lobi aja? Aku pasti datang!" bentak Aluna kesal. Perasaan campur aduk bertemu pria itu membuat emosinya tidak stabil.
"Aku gak mengikuti mu. Silakan jau berbagi pakaian, aku juga ingin ke kamarku!" jawab Juna melewati Aluna yang termangu dan lebih syok kala melihat Juna masih tepat ke pintu kamar sebelah kamarnya.
"Kau nginap di sini juga?"
"Jangan bilang kau lupa siapa yang menolong mu, saat seseorang hendak menarik mu masuk ke dalam kamarnya, karena kau salah membuka pintu kamar!"
Seringai muncul di bibir pria itu kala menyadari ada seorang gadis mabuk salah kamar. Dengan cepat dia menarik Aluna, tapi belum sempat tubuh Aluna masuk ke dalam, Juna yang sejak awal sudah melihat kedatangan Aluna di lobi hotel segera mengikuti gadis itu dan beruntung masih bisa menyelamatkan Aluna.
"Jadi, kau yang sudah membawaku masuk ke dalam kamar? Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Aluna panik sekaligus malu. Mabuk membuatnya tampak bodoh!
"Inikah caramu berterima kasih? Aku tidak melakukan apapun padamu. Justru kau yang menarik kemejaku, meminta ku untuk ikut berbaring bersamamu!"
Wajah Aluna memerah. Jangan bohong! Dasar, pria brengsek!" maki Aluna semakin kesal melihat senyum menggoda di bibir Juna.
Juna mengeluarkan ponsel dari sakunya. "Aku sudah menduga, kalau akan ada tuduhan yang akan mau lemparkan padaku. Jadi aku sudah merekam semuanya sebagai bukti bahwa aku tidak melakukan apapun yang salah padamu!" seri Juna menunjukkan ponsel di atas udara.
__ADS_1
Semakin memerah lah pipi Aluna. Pantas saja tadi malam dia merasa ada seseorang yang mengikutinya, ternyata Juna menginap di lantai yang sama dengannya.
Gadis itu masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan apapun lagi. Butuh 10 detik bagi Juna berpikir di tempat setelah Aluna masuk ke dalam kamarnya, barulah Juna mengikuti gadis itu.
"Kau? Untuk apa kau masuk ke kamarku?"
Pekikan Aluna hilang menguap masuk ke dalam mulut Juna kala pria itu mema*gut bibir mungil menggemaskan itu.
Tangan Aluna menolak, menahan dada pria itu tapi tenaga Juna lebih kuat. Ciuman itu memabukkan, membuat tubuhnya bergetar, merasakan dahsyatnya aliran darahnya yang membara, terbakar oleh gairah.
Hujan di luar turun lagi. Membawa kenangan lima tahun lalu. Malam membara dan bergelora. Tampaknya malam ini akan kembali terulang momen indah seperti dulu.
"Lepaskan aku, Juna." Kesadaran Aluna kembali, dan mencoba menghalau hasratnya.
"Aku gak bisa, dan aku juga tahu kalau kau pun menginginkannya!" seru Juna lalu kembali menyatu bibir mereka.
Aluna tidak bisa berkata apapun. Lagipula, sejak kapan dia bisa menolak sentuhan pria itu. Satu-satunya pria yang sudah memiliki hati dan tubuhnya.
Dengan kelembutan, Juna menggendong Aluna dan membaringkan tubuhnya gadis itu di atas ranjang, dengan bibir yang masih saling bertautan.
"Aku tidak akan pernah melepasmu lagi," bisik Juna parau. Suaranya tercekat, dengan semua perasaan yang membumbung tinggi dalam dada. Tidak adanya penolakan gadis itu akan ciuman, bahkan sentuhan tangannya di setiap inci tubuh Aluna, menyakinkan Juna bahwa gadis itu masih menginginkannya.
Kecupan Juna yang panas menjelajah kulit Aluna, membuat gadis itu tidak henti mendesah. Aluna sadar, kalau dia sudah bersikap tidak tahu malu, tapi masa bodoh, dia tidak bisa mengabaikan hatinya yang sangat merindukan pria itu.
"Ju-na....," ******* Aluna kian nyaring menggema di dalam kamar, menjadi nada pengiring Juna lebih ingin bertindak liar. Adrenalinnya terpacu, sudah tidak kuasa menahan dorongan untuk kembali melebur bersama gadis itu.
__ADS_1
Juna yang berada di bawah sana, menciumi milik gadis itu, mendongak. Wajah Aluna tampak sudah memerah terbakar gairah. Dia kemudian mendaki dan merasai kembali kenikmatan bibir gadis itu, cukup lama dan dibumbui dengan hisapan serta gigitan pelan yang semakin membuat Aluna tak berdaya.
"Aku mencintaimu," bisik Juna setelah melepas ciumannya lalu mulai memposisikan dirinya di tempat semestinya.