Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 31


__ADS_3

Perasaan gua campur aduk. Rasanya air mata gua sudah habis, tumpah selama di perjalanan, bahkan pundak Juna yang saat ini tetap fokus membawa motornya menuju rumah sakit. Aku terus menangis memikirkan keadaan Opa saat ini.


Mumpung hari ini libur sekolah, gua udah berencana mau pergi jalan sama Hanum. Udah siap-siap, dan Juna juga udah kasih uang saku.


Mendadak telepon dari Pak Kim, orang yang selalu mengurus keperluan Opa di rumah, menghubungi Juna dan mengabarkan keadaan Opa jatuh dari tempat tidur, pingsan dan saat ini sedang dilarikan ke rumah sakit.


"Udah dong, Al jangan nangis lagi ya."


"Opa, Jun...."


"Opa pasti baik-baik aja. Kita doakan yang terbaik buat Opa."


Hampir tiga bulan menikah dengan Juna dan hidup jauh dari Opa, tiba-tiba saja mendengar kabar bahwa pria itu itu masuk rumah sakit, tentu saja hati gua hancur. Pikiran gua juga gak bisa terkontrol, memikirkan hal terburuk yang mungkin saja terjadi. Gimana kalau Opa sampai meninggal?


Sebenarnya gua masih marah sama pria tua itu karena memaksakan kehendaknya, menikahkan gua dengan Juna, bahkan gua masih gak mau ngomong sama dia, terlebih setelah beberapa kali gua datang ke rumah, tapi beliau gak mau ketemu sama gua. Namun, kalau sampai terjadi hal buruk pada Opa, gua juga gak akan terima. Rasa sayang gua jauh lebih besar dari pada rasa benci.


Cuaca yang terik buat hati gua semakin kacau. Untung jalanan siang ini sedikit ramah, tidak terlalu macet. Setelah kurang dari satu jam menempuh perjalanan, kita sampai di rumah sakit.


"Non, Al," sapa Pak Kim yang datang menyongsong kedatangan kami.


"Gimana Opa?" jawab gua dengan suara tercekat, bayangan Opa yang sekarat buat gua sesak untuk meraup napas.


"Masih ditangani dokter. Kita doakan yang terbaik buat tuan Jer."


Wajah Pak Kim terlihat sangat sedih. Sudah pasti, bertahun-tahun melayani Opa, mereka sudah seperti sahabat. Pak Kim juga tidak pernah kembali ke keluarganya di Busan, Korea.


Gua memilih duduk di salah satu kursi tunggu yang tak jauh dari ruangan Opa saat ini di rawat. Juna memilih bicara dengan Pak Kim setelah pelayan itu memberi isyarat.


Gua gak penasaran dengan apa pembahasan mereka. Cukup melirik sekilas ke arah mereka lalu kembali merajut asa. Semua kemungkinan yang ada di benak gua lebih menyita perhatian gua saat ini.

__ADS_1


Entah apa yang mereka bahas, tapi sepuluh menit kemudian, Juna kembali dan duduk di samping gua.


"Jangan sedih lagi, Opa pasti baik-baik aja. Opa sudah ditangani oleh dokter hebat, kita hanya bisa berserah pada yang Maha kuasa, dan berdoa yang terbaik buat Opa. Kita sholat, yuk," ucap Juna lembut, saking lembutnya menenangkan gua, air mata gua justru jatuh.


"Jangan menangis, Al, please."


"Gua takut."


"Sssst, jangan ngomong gitu. Aku akan selalu bersamamu melewati semua ini. Sekarang kita sholat, ya," ulang nya lagi.


Gua diam seribu bahasa. Gua bukan gak mau, tapi masalahnya gua udah lupa cara sholat dan kalau sampai Juna tahu, gua bakal malu banget.


"Al, ayo."


Pipi gua terasa panas, pasti udah memerah, tapi gak punya pilihan lain, gua harus mengangkat wajah dan melihat ke arah Juna yang saat ini sedang menunggu jawaban dari gua.


"Kenapa? Kamu gak mau doain Opa?"


Aduh, gua harus bilang apa lagi, nih, sebagai alasan buat nolak? Tengsin banget gua.


"Bukan gitu, aku... Aku gak tahu caranya sholat."


Detik demi detik, gua nungguin Juna menertawakan gua, tapi hingga beberapa lama, seperti pria itu tidak melakukannya, justru mengangkat dagu gua.


"Aku akan mengajari mu." Setelahnya gua hanya bisa menurut pasrah mengikuti langkah Juna.


***


Gua gak bohong, dan ini benar-benar gua rasakan. Ada perasaan damai yang gak gua mengerti, merasuki hati gua saat ini. Gua udah lebih tenang dan percaya kalau Opa akan sembuh. Ternyata sholat sehebat itu. Rasa cemas dan takut seketika sirna.

__ADS_1


Sejak tadi, tatapan gua gak pernah lepas dari Juna. Mukenah udah gua lepas, dan gua masih merhatiin dia yang melipat sajadah mushola.


Awalnya gua canggung kala Juna mengingatkan kembali cara sholat. Gua malu, sumpah gua malu. Umur gua udah mau 19 tahun, tapi gua minim pengetahuan tentang ajaran agama gua.


Apa mungkin, keputusan Opa yang menikahkan gua sama Juna adalah keputusan yang benar? Dia bisa buat gua yang bebal dan ogah belajar agama sejak dulu ini, mendirikan sholat dan berdoa buat Opa. Gua sendiri udah lupa kapan terakhir gua berdoa sama Tuhan.


"Kita balik lihat, Opa," ucapnya lembut. Juna sama sekali tidak merendahkan gua yang bahkan untuk sholat pun udah lupa caranya ini. Setiap kekurangan gua, diajarin tanpa menjatuhkan mental gua.


Kenapa selama ini gua gak pernah melihat kebaikan hati Juna? Apa karena bermula pada hari perkenalkan kita udah debat dan saling menunjukkan rasa gak suka?


Namun, kalau dipikir-pikir, apa mungkin kita memang jodoh? Sebelum Opa menikahkan gua dengan Juna, justru semesta buat kita terpaksa menikah di sebuah desa oleh tuntutan warga desa kala itu.


Hingga saat ini, tidak siapapun yang tahu, bahkan juga dengan Opa. Jadi, wajar kalau saat bertemu Juna di rumah Opa, dan dijelaskan kalau dia pria yang akan menikahi gua, kaget nya setengah mati.


Kalau kata orang bijak, kemana pun pergi, sejauh apapun berlari, dan dimana pun bersembunyi, kalau sudah jodoh pasti akan bertemu juga.


Sepanjang koridor rumah sakit menuju ruangan opa yang ada di lantai atas ruang VVIP, gua sama sekali gak keberatan kala Juna menautkan jemarinya di jemari gua, justru gua butuh itu. Kekuatan dan energi positif dari tubuh Juna dapat membantu gua jadi tenang.


Setelah menunggu beberapa jam yang panjang dan menyiksa, dokter yang menangani Opa pun keluar dan tentu saja gua orang paling depan yang menghadang dengan berbagi pertanyaan.


"Tuan Jer sudah keluar dari kondisi kritis, tidak ada yang perlu ditakutkan lagi, hanya saja ya begitu, beliau belum sadarkan diri. Operasinya berjalan lancar, tapi kita harus tetap memantau perkembangan transplantasi jantungnya."


Tidak banyak yang gua ngerti dari keterangan dokter, otak gua gak nyampe, tapi yang bisa gua simpulkan dokter bilang Opa sudah keluar dari keadaan kritisnya. Biarlah Juna yang mendengar keterangan dokter, nanti gua bisa tanya sama dia dengan bahasa yang lebih sederhana.


"Jadi kami sudah bisa menjenguk Opa, dokter?" tanya Juna. Gua berdoa semoga dokter segera kasih izin.


"Silakan, Pak. Tapi jangan mengganggu ketenangan pasien. Kita harus bersabar menunggu sampai pasien siuman."


"Terima kasih, Dok," ucap Juna sebelum merangkul pundak gua dan segera bawa gua masuk.

__ADS_1


__ADS_2