Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 39


__ADS_3

Gua membeku, tubuh kaku dan rasanya sulit untuk bernapas. Tidak ada lagi jarak diantara kita. Bahkan gua sudah bisa merasakan deru napas beraroma mint di tiap embusan napas Juna yang membelai pipiku.


"Jangan pernah lagi buat aku ketakutan seperti ini. Aku mohon, aku bisa mati kalau kamu sampai celaka."


Air mata gua menetes, hanya karena dia takut sama Opa makanya dia peduli.


"Se-takut itu kamu sama Opa, hingga takut aku terluka? Semua kepedulian mu ini karena perintah Opa?"


Ck! Satu senyum mengejek terbit di bibir gua, menarik sudut bibir mencibir.


Tanpa gua duga, telunjuk Juna menelusuri lekuk bibir gua, dengan tatapan tajam mengunci mata gua.


"Aku khawatir padamu, bukan karena Opa, tapi karena kamu begitu berarti dalam hidup ku," bisiknya sembari menyatukan bibir kami.


Sentuhan bibir ke bibir itu berubah jadi ciuman dalam dan menuntut. Terlebih dari dalam diri gua. Ini yang gua mau. Perasaan getir dalam hati ini hanya bisa ditawarkan oleh sentuhan Juna. Ini obat gua.


Tubuh gua terasa melayang. Tanpa melepas ciuman, Juna membopong tubuh gua ke kamar. Gua gak mau ini semua berlalu, tanpa malu dan mengesampingkan harga diri, gua melingkar tangan di lehernya. Menarik bibir manis dan memabukkan itu lebih intens lagi.


Kenikmatan ini jangan sampai berlalu, gua gak ridho. Pagutan berubah liar saat tubuh lemah gua sudah dibaringkan di atas ranjang.


Ayunan lidah Juna sangat memabukkan dan menggoda. Dia mengisap, mencercap dan memainkan lidahnya ke semua sudut rongga mulut gua.


Gua megap, sesak terasa, hingga sulit bernapas, tapi anehnya gak gak ingin ini berakhir.


Suhu tubuh gua memanas, ingin menuntut lebih, tapi gua malu. Juna tampaknya menyadari kalau gua kesulitan menghirup udara hingga melepaskan ciuman yang sudah buat tubuh gua terbakar. Parahnya gua merasa kesal.


"Jangan pernah membuatku khawatir setengah mati seperti ini. Kamu terlalu berharga," bisiknya di atas bibir gua, sementara fokus gua tetap melihat ke arah bibirnya yang ingin gua **** lagi.

__ADS_1


Gila, senikmat itu bibir Juna. Ini ciuman kita ke tiga, tapi ini yang mamu meruntuhkan semua harga diri gua, menghilangkan rasa kesal berganti mendamba.


"Apa artinya semua ini kalau kamu gak menyukaiku? Kenapa kau menciumku kalau kenyataan aku gak ada di sini?" ucap gua mewek, sambil menunjuk dadanya dengan telunjuk. Gua melo, se-melo-melo nya.


Juna diam, mengamati wajah gua dengan lelehan air mata di pipi. Lalu menunduk untuk mencium kelopak mata gua.


"Banyak kata yang tidak bisa aku katakan. Aku pengecut, aku sadar itu. Tanganku tidak bisa menggapai, tapi hatiku meminta untuk meraih mu."


Ucapan Juna tidak lagi ku mengerti, karena akal sehatku sudah puntung, teralihkan rasa nikmat yang kembali menyerang ku dengan ciuman panas dari Juna.


Gua melepaskan semua kerinduan yang selama ini mengekang, kembali gua melingkarkan tangan ke lehernya membalas ciuman Juna dengan meliukkan lidahku di dalam mulutnya.


Berdua kami terbakar dalam api yang kamu ciptakan sendiri. Juna tampak sudah kehilangan kendali. Bibir gua bukan lagi satu-satunya objek yang ingin dia cercap.


Dengan ragu tapi pasti, bibir itu turun menyusuri leher gua yang jenjang. Menghi*sap pelan kulit lembut sepanjang leher hingga tulang selangka.


Rasanya gemes banget karena jarinya begitu lambat membuka kancing dan rasa tak sabar itu buatku membantunya.


Bisa gua lihat tatapan mata Juna yang membulat kala melihat dada gua yang penuh, menyembul di atas permukaan sisi bra yang tampak tidak mampu menampung isinya. Awalnya gua kurang percaya diri, gua pikir dadaku yang tidak sebesar milik Tania akan buat Juna ilfil, tapi tatapan lembut dan juga senyum penuh damba dari Juna mengembalikan rasa percaya diri gua.


Tatapan Juna seolah meminta izin, apakah dia boleh menyentuh dua gundukan lembut itu.


"Juna," rengek ku sudah tidak tahan. Entah dorongan dari mana, tapi gua ingin dia menyentuh gua di sana. Gua ingin mencari kebenaran dari cerita dalam novel online yang gua baca tentang betapa nikmatnya jika bagian puncaknya disentuh bahkan dihisap.


Penggambaran dalam novel saja terkadang bisa buat gua basah, jadi sekarang gua ingin membuktikan.


Juna paham. Sejurus kemudian, gua menyesalinya. Gua kelimpungan merasakan nikmat yang luar biasa, yang ditimbulkan Juna. Dia mencium, menjilat permukaan hingga mendaki mendapatkan puncak yang tampak merah muda.

__ADS_1


Dia yang pertama bagi gua, dan tidak akan ada penyesalan. Gua begitu menikmati cara Juna menyentuh gua dengan penuh kelembutan serta rasa damba yang besar, meski bisa gua rasakan saat ini dia sudah terbakar rasa panas oleh gairahnya sendiri.


Lama Juna bermain dengan keduanya. Berganti menyentuh kiri dan kanan seolah lupa akan keberadaan gua yang juga sudah basah. Mainan barunya tampak akan menjadi favorit pria itu. Gua senang, Juna menyukai apa yang ada dalam diri gua.


"Kamu cantik sekali, Al. Aku benar-benar beruntung memiliki istri secantik kamu," ucapnya mencium keningku.


Gua gak bisa berkata-kata lagi. Gua menginginkan lebih yang gua sendiri gak tahu apa. Gua ingin Juna menyentuh bagian inti gua yang sudah berkedut dan ingin dipuaskan.


Apa gua sehina itu? Tapi Juna suami gua. Rasa cinta gua sama dia buat gua ingin memberikan milik gua yang paling berharga. Malam ini gua sadari, kalau gua gak akan bisa menerima pria mana pun menyentuh gua selain Juna. Hanya dia yang gua mau!


Juna menaikkan wajahnya menatap gua. Tatapannya penuh kilat dan terlihat sangat tersiksa.


"Al, aku menginginkanmu. Sangat menginginkan mu," bisiknya parau. Gua hanya bisa menggigit bibir karena hanya dengan mendengar ucapan Juna sudah mampu buat gua melayang dan semakin basah.


"Lakukan, Jun."


Juna membelai pipi gua lalu mengecup pipi dan juga kening. Gua bukan ge-er, tapi bisa gua rasakan, kalau ciuman itu tulus tanda dia sayang sama gua.


"Aku ingin sekali. Percayalah, sangat. Tapi aku gak ingin merusak mu. Ada janji dan tanggung jawab yang harus aku pegang," ucapnya lirih.


Seketika dunia gua runtuh. Gua pikir malam ini akan jadi malam penyatuan kami. Malam pembuktian cintanya sama gua.


"Kamu kenapa, sih? Bukannya tadi kamu bilang kalau aku ini sangat berarti buat kamu? Aku istrimu, kamu berhak atas diriku!" Seruku masih gak percaya.


Momen romantis seketika jadi pertengkaran. Juna bangkit dari atas tubuh gua, duduk di tepi ranjang sambil menatap sendu tak berdaya. Dia mencoba menarik tangan gua, tapi sedetik itu juga langsung gua tarik lagi.


"Aku benci sama cowok plin-plan kayak kamu. Jangan pernah menyentuh aku lagi, kamu brengsek!"

__ADS_1


__ADS_2