
Kalau Juna bisa memiliki darah ayam, pasti saat ini dia sudah pingsan atau paling tidak sudah kabur dengan tatapan penuh kebencian Opa Jer. Namun, karena Juna tidak pernah takut pada siapapun, terlebih kalau dia tidak salah.
Keempat orang dewasa ditambah satu anak kecil duduk mengitari meja. Juna tidak menyesal menerima undangan Dimas, tapi kalau menjadi se-kikuk ini, lebih baik tadi dia bersikeras pamit pulang.
"Sebaiknya saya permisi," ucap Juna setelah Opa Jer dan Dimas juga sudah tiba dan berdiri di belakang Aluna.
"Terima kasih sudah menolong anak saya. Bagaimana kalau kita ngopi dulu sembari ngobrol. Bagaimana pun Anda sudah sangat berjasa menemukan Dewa." Dimas berusaha membujuk Juna. Dia bukan ayah yang tidak tahu diri, tidak tahu cara berterima kasih pada orang yang sudah menyelamatkan Dewa.
Tidak bisa menolak, dan akhirnya di sini lah mereka. Kembali memasuki cafe gaul yang menu utamanya menyajikan berbagai macam varian kopi dengan bentuk penyajiannya.
Hanya Dimas yang tampak lues mengajak Juna ngobrol. Aluna hanya menunduk, mencari kesibukan dengan berpura-pura bicara dengan Dewa. Dia menghindari tatap mata dengan Juna. Sejak tadi berusaha menenangkan debar jantungnya, tetap saja berdetak lebih kencang dari biasanya.
Lain lagi dengan Opa Jer, pria itu menatap Juna tanpa putus. Tatapan setajam singa seakan ini menerkam, mencabik tubuh Juna sebagai bentuk kebenciannya.
Padahal seharusnya tidak ada lagi tempat amarah di hati pria renta itu, semua yang diinginkan dari Juna sudah dia dapatkan. Pengorbanan terbesar adalah melepaskan cinta sejatinya, Aluna.
"Sudah malam, sebaiknya kita pulang!" Suara tegas Opa Jer menarik semua perhatian tertuju padanya.
"Iya, Dewa juga sudah mengantuk, Mas." Dari beberapa menit berlalu saat kebersamaan mereka, Aluna mengangkat wajahnya menoleh pada Dimas.
"Ya sudah, kita pulang. Jun, sekali lagi terima kasih untuk pertolonganmu. Kapan-kapan kita ketemu lagi, ngobrol. Sepertinya aku tertarik kerja sama dengan perusahaan mu," tukas Dimas.
Juna hanya mengangguk. Mereka jalan berbarengan. Dewa yang sudah tidur dalam gendongan Dimas, membuat pria itu berjalan lebih cepat, diikuti oleh Opa Jer, agar sampai di parkiran.
"Aku ingin kita bertemu lagi. Kita harus bicara," ucap Juna yang berjalan berdampingan dengan Aluna. Keduanya berada di belakang Dimas dan Opa, hingga Juna harus sedikit berbisik menyampaikan niatnya.
"Al....," bisik Juna meminta jawaban.
__ADS_1
"Aku tidak ingin bertemu denganmu dan tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi!"
Pernyataan Aluna begitu tegas, tapi Juna tidak mau menyerah.
"Kalau kau tidak mau bertemu denganku lagi, aku akan memberitahukan pada Dimas, tentang malam itu!"
Saat ini dalam benak dan pandangan Aluna, Juna adalah pria menyebalkan dan paling menjijikkan. Bagaimana bisa dia mengancam Aluna dengan masa lalu mereka? Dasar brengsek!
Namun, Aluna tidak mau menyakiti Dimas dengan cerita dari masa lalunya. Ada harga yang akan dia bayar jika sampai rahasianya terbongkar.
"Kau brengsek! Bajingan! Katakan dimana kau ingin bertemu!"
Kalimat itu dilontarkan Aluna tepat mereka sudah berada di parkiran.
"Sayang, kita pulang?" Teriak Dimas menunggu Aluna. Mobil Opa Jer sudah lebih dulu meninggalkan parkiran.
"I-ya, Sayang. Aku datang," jawab Aluna terbata. Matanya melirik Juna sesaat.
Tak menyahut lagi, Aluna segera melangkah. Dia tahu betul tempat yang dimaksud Juna.
***
"Aku tidak punya waktu banyak, jadi katakan yang ingin kau bicarakan padaku!" Ujar Aluna begitu sampai di cafe tempat mereka janjian, menarik kursi di hadapan Juna dan duduk di sana. Gadis itu sengaja tidak melepas kaca kaca mata hitam yang dia gunakan, demi menyelamatkan dirinya dari tatapan Juna yang pasti akan membuatnya lemah.
"Kau sudah menikah? Kau punya suami dan anak?"
"Tentu saja! Sepertinya yang kau lihat kemarin. Apa ada yang salah?" tantang Aluna. Jangan coba mengintimidasinya, Juna tidak akan berhasil.
__ADS_1
"Kau bisa menikah dengan pria lain, dan mengabaikan malam itu? Aku hitung, jika saat ini anakmu berumur empat tahun, tidak lama setelah peristiwa itu kau menikah dengan Dimas?"
"Tidak sampai satu tahun, aku memutuskan menikah dengan Dimas. Kenapa? Apa tidak boleh? Apa kau pikir, hanya karena yang telah terjadi malam itu, aku tidak bisa menikah dengan pria lain?" Bentak Aluna. Wajahnya memerah tersulut emosi. Berani bera Juna membahas soal malam itu!
Juna terdiam. Bukan karena intonasi Aluna saat menjawab yang meninggi, tapi karena dia kini menyadari kalau dirinya dan semua kenangan mereka selama ini, tidak ada artinya bagi Aluna. Toh, gadis itu bisa melanjutkan hidupnya dengan bahagia, tidak seperti dirinya yang menyedihkan, terkungkung dalam bayangan Aluna setiap hentakan napasnya.
Dua hari setelah malam itu mencari Aluna, Juna tidak bisa menemukan gadis itu. Juna yang sudah putus asa, mendapat saran dari Rizal untuk mengecek ke bandara, apakah ada nama Aluna kembali ke negeranya.
Bermodal teman Rizal yang bekerja di airport, pengecekan itu bisa dengan mudah dilakukan. Seperti tebakan Rizal, Aluna sudah kembali ke negara asalnya.
Hari itu juga, Juna membeli tiket menyusul Aluna. Dia tidak akan melepaskan gadis itu lagi, meski akan duel dengan Opa Jer.
Namun, semesta belum berpihak padanya. Juna tidak bisa bertemu dengan Aluna karena pelayan rumahnya mengatakan kalau sudah seminggu Aluna pergi bersama Opa Jer.
Awalnya, Juna tidak percaya hingga Juna memutuskan menunggu Aluna keluar dari ruang itu. Tidak punya cara lain, Juna mengamati rumah itu selama berhari-hari menunggu, di depan pagar yang menjulang tinggi menutupi rumah mewah itu.
Tiga hari berlalu, tidak sekalipun Aluna keluar dari sana, yang artinya perkataan para pelayan itu benar adanya bahwa Aluna saat ini tidak berada di sana.
Tidak ada yang bisa dilakukan Juna. Pria itu menyerah. Seminggu sudah dia menunggu kepulangan Aluna, tapi gadis itu seolah menghilang ditelan bumi. Kalau saja dia juga bertemu dengan Opa Jer, mungkin dia bisa menanyakan pada pria tua itu, tapi baik Opa Jer ataupun Aluna tidak pernah kembali.
"Apa kau bahagia? Dengan Dimas?"
"Bukan urusanmu, tapi ya, asal kau tahu, aku sangat bahagia dengannya. Aku sangat mencintainya. Tidak pernah merasakan cinta seperti yang kurasakan saat ini pada pria lain. Tidak juga kau!"
"Jadi, kau sudah melupakan semua tentang kita?" Pancing Juna getir. Kenapa dia masih berada dalam belenggu cinta sendiri? Lihat lah, Aluna sudah bahagia dengan Dimas seperti perkataannya.
"Tidak ada yang pantas dikenang. Hanya masa lalu yang tak berarti!"
__ADS_1
Perkataan sadis Aluna hanya bisa ditelan Juna dengan rasa sakit. Namun, kenapa hatinya merasa kalau mereka belum usai? Seolah ada penghubung diantara mereka yang sangat kuat. Entah apa yang ada dalam benak Juna, mungkin dia sudah jadi gila dengan melontarkan kalimat bodoh ini, tapi itu lah yang saat ini terbersit dalam benaknya begitu saja. Juna ingin menggunakan kartu As nya yang terakhir. Meski dia tahu itu tidak ada gunanya.
"Aku ingin melakukan tes DNA pada Dewa. Hatiku bilang dia anakku!"