Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 15


__ADS_3

Gua sama sekali gak penasaran apa yang dikatakan kepala sekolah pada Juna, yang pasti aku tebak, kepala sekolah itu pasti terkejut, karena mendapati Juna yang datang menghadap sebagai wali gua, bukannya Opa.


Hari ini, Juna gak ngajar di kelas gua, tapi di sebelah. Pas di kantin, gua rasa sebal, karena dengar banyak banget cewek-cewek yang membicarakan Juna.


"Sumpah, Pak Juna emang cakepnya kelewatan, gua falling in love at first sight, loh," celetuk salah satu dari mereka.


"Gua setuju. Pak Juna emang man in dream para cewek-cewek. Dia udah punya pacar, gak sih?" sambung yang lain, diteruskan oleh komen dari beberapa gadis lainnya yang juga terpesona pada Juna.


Gua gedeg se-gedegnya. Pengen banget rasanya gua nyeletuk, "Hei, asal kalian tahu, dia bukan hanya punya pacar, tapi udah punya istri, gua istrinya!"


Eh, tapi, ngapian gua ngomong gitu? Ngapain gua peduli? Ngapain gua kesal? Juna gak penting buat gua!


"Heh, kalian! Ngapain sih ganjen banget sama pak Juna? Dia itu udah punya istri!"


Sontak mata gua membulat melihat Hanum. Kok, bisa gadis itu ngomong begitu, apa dia udah tahu kalau Juna nikah sama gua?


"Num, lu tau dari mana?" tanya gua diantara tatapan para siswi-siswi genit yang juga ikut menatapnya.


"Ta-hu aja, pak Juna yang bilang kemarin," sahutnya sedikit terbata.


Lihat apa lu, Jun, bisa-bisanya lu kasih tau teman gua! Apa lu gak ingat ucapan Opa? Jangan sampai ada yang tahu tentang pernikahan ini?


Bel masuk berbunyi, menghentikan huru-hara di kantin. Beberapa gadis yang gak terima atas pernyataan Hanum, mendekati gadis itu untuk mencari tahu kebenarannya. Bahkan, ada yang sampai mau berbuat anarkis.


Buru-buru gua tarik tangan Hanum menjauh, menuju kelas. "Mampus mereka, enak aja mau ambil gebetan gua!"


Lagi-lagi gua kaget, dan langsung menoleh ke arahnya. Tampak senyum puas di wajah gadis cantik itu. "Jadi, lu bohong? Juna, eh, maksud gua, pak Juna gak ada cerita apapun?"


"Ya, gak lah. Emang kita udah sedekat itu? Kalau besok lusa gak tahu ya, apa dia udah mulai jatuh cinta sama gua," jawab Hanum tertawa lepas.


Pengen bet rasanya gua jitak ubun-ubun gadis itu, tapi gak jadi, Hanum tiba-tiba ninggalin gua, demi menyusul Juna yang berjalan ke arah kita.


Di koridor, kita berpapasan, dan Hanum segera mencegat Juna.


"Bapak mau kemana? Mau saya temani, Pak?"

__ADS_1


Juna menoleh ke arah gua. Harusnya wajah Gua biasanya aja, tapi kok terasa panas. Wajah Juna juga tampak memerah. Gua memilih nunduk, sambil terus berlalu.


Anehnya, gua memperlambat langkah kaki, seolah ingin mendengar mereka bahas apa lagi. Kok gua penasaran, ya?


"Kamu ini, Hanum, ada-ada aja. Masuk dalam kelas sana," jawab Juna yang terdengar ramah di telinga gua. Lagi-lagi timbul perasaan gak suka sama reaksi Juna pada Hanum.


"Kali aja Bapak mau saya temani." Gadis itu masih bertahan merayu Juna, yang buat gua memutar bola mata jengah.


"Bapak mau ke toilet, kamu mau temani?" tantang Juna yang dalam nada suaranya menandakan dia geli mendengar ucapan Hanum.


"Boleh, Pak."


Gua gak mikir apapun lagi, langsung berbalik dan segera menarik tangan Hanum, berlalu dari hadapan Juna, dan gua sempat melayangkan tatapan gak suka pada pria itu, mengumpat dalam hati. "Dasar genit!"


***


Lagi-lagi saat tiba di rumah, gua gak ketemu sama Juna. Kata ibu, pria itu pergi setelah pulang sekolah.


Gua kesal banget. Padahal, dia yang menawarkan diri untuk jadi mentor gua, belajar di rumah, tapi dia justru gak ada di tempat.


Gua udah sampaikan sama Juna. Gua pikir, apa yang dikatakan kepala sekolah itu ada benarnya. Gua gak mau dihina be*go lagi sama Nuka.


Kepsek juga bilang kalau gak bisa mengerjakan ujian nasional, gak akan lulus. Gak ada bantuan, harus benar-benar kemampuan dari diri sendiri.


Jelas dong, gua takut. Ya, kali gua gak lulus SMA. Kelulusan gua juga satu-satunya tiket pisah dari Juna.


"Ibu tahu kemana Juna?"


"Juna?" ulang ibu seolah ingin mengingatkan gua sesuatu.


"Maksud aku, Mas Juna, Bu," jawab gua kikuk. Kemarin saat ibu minta gua panggil mas sama Juna, gua udah menyanggupi. Gak tau, kenapa gua jadi nurut sama ibu, yang jelas mata teduh dan sikap sayang ibu yang tulus sama gua, ngerawat dan menyiapkan kebutuhan gua, buat gua gak tega kalau harus membantah perkataan ibu.


"Tadi pamitnya ada kerjaan, tapi gak bilang ke mana," jawab ibu bangkit dari duduknya, melayani pembeli yang meminta gula sekilo dan minyak goreng.


"Cantik ya, Bu, mantunya," tukas wanita yang tadi disapa Bu Romlah sama ibu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, cantik rupa dan hatinya, Bu," sahut ibu yang buatku melayang. Wajah ibu semringah, tersenyum ke arah gua yang kembali buat gua salting (Salah tingkah).


"Wajar, sih, Juna juga tampan. Saya pikir dulu bakal jadi sama anak Bu RT, si Nela, kan saban hati datang mulu ke rumah Ibu," lanjut Bu Romlah, menebar cerita, memancing rasa ingin tahuku.


"Oh, gak, Bu. Nela kemari juga karena Juna jadi guru lesnya."


Tak lama setelah menyelesaikan belanjanya, Bu Romlah pamit.


"Jangan mikir gimana-mana ya, Neng. Juna gak ada hubungan apa-apa sama Nela, selain mentor dan murid."


Gua bingung, entah untuk apa ibu ngomong gitu ke gua, yang hanya gua balas dengan senyuman tanggung. Namun, sejurus kemudian gua merasa tenang mendengar hal itu.


"Neng, nyariin Juna ada perlu? Kalau Ibu bisa, biar Ibu yang kerjakan."


"Oh, gak kok, Bu. Itu, sebenarnya kepala sekolah nyuruh aku les. Mmmm...., sebenarnya, aku gak pintar di sekolah, malah banyak gak ngerti sama pelajaran, jadi aku minta duit sama Jun... Mas Juna buat les, dia bilang, dari pada duitnya terbuang, dia yang bakal ngajarin," jawab gua meremas sisi baju gua. Sumpah, kok gua jadi se-gugup ini.


"Bagus itu, Neng. Coba aja telepon. Atau Ibu aja yang ngubungi?"


Gelengan kepala dan senyum di bibir gua membuat ibu mengangguk. "Aku aja, Bu."


Panggilan sudah tersambung, tapi entah kemana Juna, pria itu gak mengangkat telepon dari gua. Kerjaan apa sih, sampai gak bisa ngangkat telepon.


Setelah mengamati ponsel yang gua lempar di atas selimut tadi, kembali ponsel itu gua ambil, lalu mulai menghubunginya lagi.


"Halo," Gua diam. Kesal bet rasanya nungguin sendirian di rumah, sementara dia enak-enakan di luar. Gua yakin, alasan kerjaan hanya modus.


"Al, ada apa? Kok diam?"


"Lu kemana aja? Bukannya lu bilang mau ngajarin gua? Kalau memang gak bisa, bilang doang, biar gua cari tempat les!"


"Sorry, Al, belajarnya malam aja, ya. Aku lagi ada kerjaan dikit, nanggung ini," jawabnya dari seberang, bersamaan dengan gua dengar suara samar seorang wanita.


"Mas, minumnya aku letak di sini, atau kita ke dalam aja? Mau bolu?"


Emosi gua naik ke ubun-ubun. Benar, kan, kata gua, kalau dia lagi enak-enak di luar, sementara gua terkurung di rumah, gak bisa jalan sama teman-teman gua, gak bisa shoping! Gua marah. Penuh kesal gua tutup sambungan telepon. Benci gua sama Juna, tapi gua lebih benci sama diri gua sendiri, kenapa pake acara emosi dan mewek dengar Juna sedang sama cewek?

__ADS_1


__ADS_2