Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 21


__ADS_3

(Arjuna)


"Kenapa gelisah? Kamu belum ngantuk?"


Aku mengamati punggung yang sejak tadi bergerak gelisah, kadang menghadap padaku, lalu tak lama berbalik membelakangi ku. Mencoba menebak apa yang saat ini diperkirakan gadis itu hingga mengganggu tidur nya.


"Kamu gak mau cerita?" Aku mencoba memancing, terselip kekhawatiran akan apa yang saat ini di pikirkan gadis itu.


Setelah tinggal seatap dan lebih banyak mengetahui keadaan Aluna dari Opa Jer, yang diam-diam memanggilku untuk bertemu, membuatku merasa bersimpati pada gadis itu. Lagi pula, Opa Jer juga sudah mengingatkan ku berulang kali tentang isi perjanjian kami.


"Kamu tidak hanya menikahinya, menjaganya tetap masih gadis tidak tersentuh, tapi juga harus mengubah perangi kasar gadis itu. Mengubahnya menjadi gadis lemah lembut dan juga santun, agar kelak, setelah kalian berpisah, dia bisa mendapatkan calon suami yang layak, meskipun menyandang status janda."


Ucapan Opa Jer yang lebih pada perintah, membuatku mengubah metode dalam mendidik Aluna. Tidak bisa lagi bersikap cuek, justru sebaliknya, menjinakkan gadis itu dengan kelembutan dan perhatian, setelahnya akan mudah untuk dibentuk menjadi karakter yang baru, yaitu gadis manis, penurut, dan penurut.


Opa Jer juga membahas penyebab terbentuknya sikap manja dan juga sesuka hati Aluna, karena salah didikan dari kecil.


Kehilangan orang tua sejak kecil, membuat Aluna dididik Opa Jer dengan memanjakan gadis itu, memberikan apapun yang dia mau, asal bisa membuat Aluna tidak bersedih. Opa Jer tidak ingin melihat Aluna sedih dan terluka. Dia menjaga Aluna dan tidak membiarkan satu orang pun menyakiti perasaan cucunya.


Hal itu membuat aku pun berempati dan ingin melindungi gadis itu, terlebih karena Aluna adalah istriku, yang artinya adalah tanggungjawab ku.


Itulah yang menjadi alasanku mengapa begitu marah saat tahu Nuka memukul Aluna saat keduanya ribut dan saling mengejek. Segera aku bicara pada Nuka dengan tegas saat itu.


"Bapak tidak ingin kamu mencari masalah dengan Aluna. Jangan pernah menyakitinya, bahkan seujung kuku. Kamu lihat, bibirnya sobek karena kuku panjangmu?"


"Bapak, kok, jadi pilih kasih? Belain Aluna dan nyalahin saya sepihak?" ucap Nuka protes. Aku memilih diam sesaat, memikirkan jawaban apa yang pantas aku berikan. Aku mengutuk kebodohan ku, harusnya memang tidak langsung membabi buta memperingatkan Nuka. Emosi melihat wajah Aluna saat diminta bapak kepala sekolah ke ruang BP, membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak memperingatkan Nuka.


Tubuh gadis itu lebih tinggi dan besar, tentu saja Aluna akan habis babak belur dibuat gadis itu, belum lagi pakaiannya yang sobek hingga buat ku memberikan jaket untuk dipakainya.


"Bapak bukan membela Aluna sepihak, hanya saja Bapak tidak suka melihat gadis sepintar kamu punya riwayat sebagai siswa bar-bar yang suka berkelahi. Ingat, Aluna cucu pemilik sekolah ini, jangan sampai niat kamu yang ingin mendapatkan beasiswa kuliah ke Cambridge university digagalkan oleh power Opanya."

__ADS_1


Akhirnya aku berhasil menemukan alasan yang masuk akal. Ku lihat Nuka terpengaruh. Raut wajahnya yang tadi antipati padaku, tampak kembali bersahabat, yang artinya membenarkan perkataanku.


Setelahnya, Nuka berjanji, tidak akan mencari masalah dengan Aluna yang membuatku merasa tenang.


Kembali aku mengamati punggung Aluna. Hatiku tampaknya sudah mulai melembut pada gadis itu.


Aluna tetap diam, memilih dalam posisi memunggungi ku. "Kenapa lu egois, lu ngelarang gua jalan bareng Digo, tapi lu seenaknya jalan sama cewek lain."


Suasana hening. Keningku berkerut. Berusaha untuk memikirkan maksud perkataan Aluna. Gadis? Gadis yang mana maksudnya.


"Gadis? Yang mana?" tanyaku masih belum menemukan sosok yang dimaksud Aluna.


"Pikir aja sendiri, hari ini lu sama siapa di mall!"


Kalimat itu membuatku tersenyum setelah sekian detik berpikir. Oh, jadi, dia melihat semuanya?


Aluna seketika membalikkan tubuhnya hingga kami saling berhadapan. Tatapannya ragu-ragu di awal, tapi entah apa yang mendorongnya memutuskan untuk bertanya. "Siapa dia?"


"Kalau mau ngomong, duduklah, biar aku cerita."


Lihatlah, gadis ini sebenarnya begitu manis, penurut, terlebih kalau bicara dengan nada lembut padanya.


"Bu Yuli CEO di salah satu supermarket yang baru dibuka, memintaku untuk membuat aplikasi jaringan dan juga sistem untuk pembayaran di supermarket miliknya yang baru dibuka di kota ini."


"Tapi, kok, terlihat dekat?"


"Gak dekat, Aluna. Saat tadi kita ketemu, hanya membicarakan kerja sama aja. Oh iya, mulai lusa, kamu udah bisa les di tempat yang kamu suka, aku akan bayar uang lesnya," tukas ku yang berhasil membuat wajahnya terlihat kaku, tapi ada riak air mata yang coba ditahan.


"Jadi, lu ngambil side job buat bayarin gua les?"

__ADS_1


Aku hanya mengangguk sembari tersenyum padanya. "Sekalian biar bisa kasih kamu uang buat beli skincare. Ibu bilang, punya kamu udah habis, ya?"


Lagi-lagi tatapan haru Aluna buat perasaan ku menghangat. Tidak sia-sia beberapa hari ini aku lembur di kantor Bu Yuli. Aku akan berusaha memenuhi kebutuhan kamu, Al. Membuat kamu nyaman selama jadi istri aku, karena itulah bentuk tanggung jawabku sebagai suami.


Aluna tidak mengatakan apapun. Sejurus kemudian, dia kembali berbaring lalu membelakangi ku.


Aku terus mengamati punggung itu, objek yang sudah seminggu ini menjadi tempat sorot mataku. Anehnya, setiap melihat ke sana, aku tersesat dalam pikiran ku sendiri hingga tahan berjam-jam lamanya memandangi sebelum pada akhirnya jatuh tertidur.


Aku pun kembali berbaring, menarik selimut menutupi setengah tubuhku. Pandanganku beralih pada benda persegi berwarna putih menggantung di dinding kamar. Belum lama aku pasang, dan aku lakukan agar membuat Aluna nyaman tidur di kamar ini, merasa sejuk dan bisa tidur dengan pulas.


"Terima kasih."


Mataku yang awalnya ingin terpejam, bersiap mendayung sampan mimpiku, kembali terbuka. Ku pastikan kalau kata terima kasih itu bukan halusinasi ku.


"Kamu bilang apa, Al?"


"Makasih udah cari uang buat aku."


"Sama-sama. Itu tanggung jawab ku sebagai suamimu. Tidurlah, besok kita ke sekolah sama-sama."


Perasaan hatiku semakin memuncah. Aku bisa lihat dia begitu terharu akan usahaku. Jujur, awalnya aku melakukannya bukan ingin mendapatkan simpati dan rasa terima kasih dari Aluna.


Aku jadi semangat untuk bekerja lebih keras, agar Aluna bisa menikmati kehidupan dan masa remajanya. Tiba-tiba aku ingat perkataan ibu yang mendatangiku tadi selepas makan malam.


"Ibu senang, kalian sudah begitu dekat dan sudah punya kemajuan dalam hubungan kalian. Ibu berharap kalian segera memberikan Ibu cucu."


Kali ini aku sibak selimut ku, dan terduduk menghadap punggung Aluna. "Apa benar kalau nanti hubungan kami semakin dekat, kami akan saling jatuh cinta?


Aduh, itu gak mungkin terjadi. Selain karena tidak memiliki perasaan satu sama lain, kami masing-masing memiliki hati yang harus kami jaga. Parahnya, aku baru ingat, kalau Tania tiba lusa dan aku harus menjemputnya ke Bandara.

__ADS_1


__ADS_2