
"Al.... Aluna... Aluna, tunggu," teriakan wanita yang berada di eskalator menuju lantai dua tempatnya berada kini, membuat Aluna menghentikan langkahnya.
Wajahnya pucat dan tampak ketakutan. Se-sial ini lah dia, hingga harus bertemu dengan salah satu dari beberapa orang yang ingin dia hindari.
Aluna tidak bisa berkelit lagi, memutar arah hanya untuk menghindar.
"Al, aku panggil dari tadi, kamu gak dengar, ya. Kamu apa kabar?"
"Baik, Mbak. Kabar Mbak Tania juga baik?"
Basa-basi yang memuakkan, tapi tetap dia lakoni. Hatinya sudah memerintahkan agar dia tidak perlu bersikap manis pada wanita yang mengingatkannya pada seseorang.
"Baik. Lama ya, kita gak ketemu."
Aluna tidak menjawab, matanya justru melirik ke arah bocah yang hampir seusia dengan anaknya. Pasti hanya beda satu dua tahun dengan Dewa.
Tania melihat lirikan Aluna ke arah anaknya dan tersenyum. "Ayo, Kenzo, salim Tante Aluna."
Lagi-lagi dengan berat hati, Aluna tersenyum, menerima uluran tangan anak bernama Kenzo itu. Wajahnya tampan, dan sangat mirip dengan Tania. Aluna merinci, bagian mana yang sekiranya mirip dengan Juna.
"Kamu udah makan siang? Makan siang bereng ,yuk," ajak Tania penuh harap. Dia begitu gembira bisa bertemu dengan Aluna hari ini. Banyak yang ingin dia ceritakan dan sekaligus dia tanyakan pada gadis itu.
"Maaf, Mbak, aku udah makan, " jawab Aluna segera menolak ajakan Tania. Bertemu saja malas, apalagi kalau harus menghabiskan beberapa jam lagi bersama Tania, bisa mati kesal Aluna.
"Please... Udah lama kita gak ketemu. Aku kangen ngobrol sama kamu."
Aluna tidak punya pilihan selain mengikuti kemauan Tania. Walau kesal, tapi dia juga penasaran hal apa yang dingin dibicarakan Tania dengannya.
"Memangnya mau bahas apa sih, Mbak? Kebahagiaan Anda dengan Juna? Gak usah deh, makasih!" umpat Aluna dalam hati, menggerutu dengan wajah murung.
Seperti Dejavu, keduanya duduk saling berhadapan. Momen yang pernah terjadi tujuan tahun lalu, bedanya saat ini ada bocah, anak Tania dan suaminya.
__ADS_1
"Al, aku senang banget bisa ketemu dengan kamu. Udah ketemu sama Juna?" sosor Tania to the point.
Aluna mengangguk lemah.Mereka sudah masuk bahan pembicaraan yang enggan untuk dibahasnya. Menurut Aluna, tidak perlu mengumbar kebahagiaan mereka di hadapannya.
"Syukurlah. Soalnya dia sudah lama mencarimu. Kelimpungan seperti orang gila. Aku kaget dia akhirnya mau pulang, sejak empat tahun lalu hampir gila karena tidak menemukanmu."
Keterangan Tania sontak buat bola mata indah Aluna membulat sempurna. Pria itu datang mencarinya? Untuk apa? Apa dia sama sekali tidak menjaga perasaan Tania? Banyak hal berkelebat saat ini dalam pikiran Aluna.
"Untuk apa dia mencariku, Mbak?"
"Kok, malah nanya untuk apa? Ya ingin menemui wanita yang dia cintai lah," jawab Tania begitu enteng.
Hal yang wajar jika Aluna kembali terperanjat. Tania begitu santainya mengatakan hal itu tentang pria yang menjadi suaminya.
"Mbak gak marah kalau dia nyariin aku?"
"Marah? Kenapa harus marah? Aku justru senang. Tahu gak sih, saat dia curhat padaku, aku berharap bisa menjadi orang yang menyatukan kalian."
"Mbak, aku mau tanya, maaf kalau pertanyaan ku ini sedikit tidak sopan. Mmm.... Siapa ayah anak ini?"
Kening Tania berkerut, menatap wajah gusar Aluna. Barulah setelah beberapa detik berpikir, wanita itu tersenyum, dan tak lama berubah jadi tawa nyaring.
Aluna hanya menatap dengan tatapan aneh wajah Tania yang masih belum menyelesaikan tawanya. Tania paham kini, kenapa sikap antipati yang ditunjukkan oleh Aluna padanya saat ini.
"Mbak, kenapa jadi ketawa?"
"Sorry, Al. Lucu banget. Maaf ya, bukan bermaksud ngetawain kamu. Pantas aja wajah kamu cuek banget ngeliat aku. Kamu pikir ini anak Juna?"
Nah, kan, kejutan lagi. Sebenarnya gimana sih yang benar?
"Jadi?"
__ADS_1
"Aku sama Juna gak menikah, dan ini bukan anak Juna. Suamiku seorang pengusaha dari Jerman, asli bule Jerman."
Aluna kembali bungkam. Dia ingat pesan yang dikirim Tania saat malam mereka bercinta. Wanita itu memberitahukan perihal kehamilannya, dan menjadi titik dasar kepergian gadis itu dari hidup Juna sekaligus menyembunyikan kebenaran tentang kehamilannya dari Juna.
"Jadi, waktu Mbak ngabarin mau ke Jerman empat tahun lalu? Mbak ingatkan, ngirim pesan tanggal 8 April?"
Tania ingat. Tentu saja ingat, karena setelah menikah dengan Peter, dan menunggu sekian tahun agar bisa hamil, akhirnya dia hamil dan berencana untuk pulang ke rumah mertuanya di Jerman bersama suaminya.
Peter juga mengenal Juna dengan baik, dan mengetahui kalau istrinya berteman baik dengan pria itu sejak dulu, jadi tidak mempermasalahkan hubungan pertemanan mereka dan keinginan Tania ingin bertemu Juna.
"Oh, iya. Tentu saja aku ingat. Hari itu aku mendapatkan kabar baik, dokter memberitahu kalau saat itu aku sedang hamil. Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan Juna, karena pada awal aku menikah dengan Peter, dia yang selalu mendukungku. Dan saat aku cerita tentang ketakutan ku yang mungkin tidak bisa punya anak, Juna mendoakan ku dengan tulus."
Satu jam Aluna mendengarkan cerita Tania, hatinya bergetar hingga tanpa sadar bola matanya berair. Dia sudah salah paham selama hampir tujuh tahun ini.
Dia juga merasa sedih sekaligus menyesal telah membuat Juna frustrasi mencarinya. Pria itu tidak lari dari tanggung jawab atau menganggap malam itu tidak ada artinya seperti kata Opa Jer, kala tahu saat itu dirinya tengah berbadan dua.
Aluna tidak menyembunyikan saat Opa bertanya siapa ayah janin itu. Dengan lantang dia menjawab Juna. Sempat Opa berencana untuk mencari Juna ke Jerman, tapi Aluna melarang. Dia bahkan mengancam akan bunuh diri kalau sampai Opa memberitahukan pada Juna perihal kehamilannya.
"Aku gak mau merusak rumah tangga Juna dengan Tania, Opa. Ini salahku! Aku yang menyerahkan diri secara suka rela malam itu pada Juna. Seandainya aku tahu, kalau saat itu Juna sudah menikah, aku tidak mungkin mau melemparkan tubuhku padanya!" seru Aluna disertai tangis pilu.
Opa Jer yang sangat menyayangi Aluna, terpaksa mengurungkan niatnya dan mengikuti setiap keinginan Aluna, termasuk membesarkan Dewa tanpa kehadiran sosok ayah.
Banyak fakta yang sore itu di dapatkan oleh Aluna. Dia pun tak bisa berkata-kata lagi. Melihat ketulusan Tania yang ingin mempersatukan mereka, Aluna hanya bisa tersenyum getir.
"Mungkin sudah terlambat, Mbak. Ada hati pria lain yang harus ku jaga," jawab Aluna saat Tania memaksanya untuk menghubungi dan menjelaskan soal kesalahpahaman ini.
"Jadi, kamu sudah punya suami?"
Aluna menggeleng lemah. "Kekasih, yang sudah empat tahun ini selalu ada di sisiku. Penuh kesabaran menungguku menerima pinangannya."
"Tapi pria yang kamu cintai adalah Juna, bukan dia!"
__ADS_1
"Apa gunanya, Mbak? Toh, selama ini yang memberikan namanya pada anakku, bukan Juna, tapi Dimas!"