Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 44


__ADS_3

"Bisa kita bicara, Al?" tanyaku saat tanpa sengaja kami berpapasan di koridor. Aluna hendak ke ruang guru, sementara aku ingin ke toilet.


"Bicara apa, Pak?" tanya Aluna bersikap dingin, tapi berusaha untuk menunjukkan etika sopan yang dibuat-buat terhadapku.


Jelas sorot matanya justru ingin menerkam ku. Kali ini bagian mana yang buatnya sangat marah? Apa kejadian melihatku dan Iren tempo hari?


"Aku mencarimu kemarin ke rumah. Kata Opa kamu gak mau ketemu dengan ku. Al, aku mohon, kita bicarakan semuanya."


"Maaf, Pak. Saya rasa tidak ada yang perlu kita bicara lagi."


Aluna meninggalkan. Ingin sekali rasanya mengejarnya, tapi Pak Doni berjalan ke arah kami. Tidak hanya sendiri, Pak Doni berjalan beriringan dengan Iren.


"Pak Juna, mau kemana? Ke kantin? Bareng, yuk," ucap Iren dengan suara yang dibuat-buat merdu.


"Duluan aja, Bu. Saya mau ke toilet," jawabku mengangguk ramah lalu berlalu.


Pulang sekolah, aku sengaja menunggu Aluna di ujung sekolah, yang biasa dilalui gadis itu untuk pulang. Tapi bodohnya aku, sedikitpun gak ingat kalau sopir Opa pasti sudah menunggunya pulang.


Alhasil, hari itu aku gagal mengajak Aluna bicara. Tapi aku gak patah semangat, besoknya aku menunggu di depan gerbang sekolah, tidak peduli kalau akan ada siswa yang curiga. Lagi pula hari ini adalah kedua ujian nasional, setelah besok tidak akan ada lagi harapan bertemu dengan Aluna.


Namun, hari ini pun gagal lagi. Aluna melirik ke arahku dengan sinis ketika aku mendekati mobilnya, tapi belum sempat sampai di dekatnya, Aluna sudah masuk mobil dan menyuruh sopirnya melaju.


Dengan lemas aku kembali ke rumah, tapi begitu melihat pintu rumah terkunci wajahku yang lesu kembali tersentak. Kemana ibu pergi?


Bergegas aku menghubungi ponsel ibu, tapi gak aktif. Aku sangat khawatir, kesehatan ibu belum pulih betul. Meski sudah mau makan, tapi belum bertenaga betul kalau harus ke luar rumah. Lagi pula kemana dan ada urusan apa sampai harus keluar!


30 menit berlalu, tapi ibu tetap gak kunjung pulang. Aku bergegas bertanya pada tetangga, apa mungkin ibu sempat pamit atau sedang ngobrol disalah satu rumah tetangga.


Empat rumah teman kompak ibu sudah aku datangi, bertanya apa mereka tahu keberadaan ibu, tapi tidak satupun membuatku lega.


Ku putuskan untuk berkeliling di sekitar sini, mencari keberadaan ibu. Hatiku sudah semakin kacau, aku takut kesedihan yang dirasakan ibu membuatnya pergi tanpa tujuan, dengan tatapan kosong, dan takutnya keserempet atau ketabrak mobil. Memikirkan hal itu napasku tercekat.


Mesin motor sudah ku nyalakan, bersiap untuk pergi, tapi saat bunyi pagar rumah yang ditutup kembali, aku menoleh ke belakang dan mendapati ibulah yang pulang.

__ADS_1


"Ibu dari mana?" tanya menghampiri setelah mematikan kembali mesin motor.


"Hanya berjalan-jalan, cari angin. Ibu bosan di rumah." Ibu melangkah masuk ke dalam rumah yang langsung ku susul.


"Ibu sudah makan?" Ku lirik jarum jam, sudah hampir jam empat sore.


"Nanti saja. Ibu gak lapar." Ibu masuk ke kamar, seolah tidak ingin diganggu olehku, ibu mengunci pintu kamarnya.


***


"Bapak mau apa, sih, ngajak saya bicara?" tanya Hanum melipat tangan di dada. Sikap Hanum yang awalnya bersahabat dan sangat ramah padaku, tapi setelah peristiwa pertemuan dengan Tania, Hanum jadi jutek.


"Num, Bapak mau minta tolong. Hari ini terakhir kalian masuk sekolah. Ujian sudah berakhir, dan kemungkinan Bapak tidak akan bertemu dengan Aluna lagi. Tolong bantu Bapak untuk bertemu dengan Aluna."


Kening Hanum berkerut menandakan ogah menolongku. Tapi apa aku berhenti? Tentu saja aku gak akan menyerah. Aluna sudah pulang lebih dulu, saat aku masih diajak kepala sekolah bicara.


"Tolong lah, Num, hanya kamu yang bisa Bapak harapkan."


"Aku ingin meluruskan kesalahpahaman diantara kami."


"Bapak sudah cukup menyakiti hatinya. Jangan ganggu temanku lagi, Pak. Dia sudah terlalu banyak menderita. Sebaiknya Bapak menjaga jarak."


"Aku gak bisa, aku benar-benar gak bisa, Num. Aku mencintai Aluna."


Terlihat Hanum sedikit terkejut dengan pernyataanku. Tapi hal itu hanya sesaat, setelah dia kembali tampak tidak percaya.


"Terus, mau dikemanakan kekasih Bapak itu? Bukankah Bapak sangat mencintainya?"


"Dulu. Aku aku sangat mencintai Tania, tapi seiring waktu, Aluna mengubah segalanya. Perasaan cinta itu muncul, bahkan lebih besar dari yang pernah aku rasakan pada Tania."


Lama Hanum diam mengamati wajahku yang memang kalut. Banyak sekali yang aku pikirkan saat ini, mulai dari kesehatan ibu, perpisahan dengan Aluna dan ini yang paling aku takutkan, sampai yang terbaru, kepala sekolah tadi memanggilku, tanpa pernah aku duga hal yang akan dibahasnya, dia memintaku untuk mengundurkan diri.


Hanya sesaat aku terkejut, lalu wajah kepala sekolah yang memancarkan perasaan bersalah dan tidak tega padaku membuatku paham. Ini pasti perintah dari Opa Jer.

__ADS_1


Aku menerima dengan lapang dada. Aku berada di sekolah itu juga demi Aluna, demi menjaga dirinya seperti permintaan Opa. Jadi, kalau Aluna sudah tidak ada lagi, maka aku pun lebih baik pergi.


Inginku hanya ingin mengatakan perasaanku saat ini padanya, urusan dia percaya atau pun justru menolakku, akan jadi urusan ke sekian.


"Num," ucapnya memelas. Terserah lah kalau di depan Hanum, aku tidak punya harga diri lagi.


"Baiklah, Pak. Aku akan ajak Aluna pergi, nanti aku akan mengirim lokasi kami pada Bapak."


Rasanya ingin sekali aku memeluk Hanum, atau berlutut ungkapan rasa terima kasih ku, tapi ku putuskan mengambil tangannya dan menyalam dengan senyum semringah.


"Terima kasih, Num. Terima kasih banyak. Ini sangat berarti."


***


Hari yang dinanti tiba. Aku sudah bersiap menerima pesan dari Hanum. Sekuat tenaga, aku akan memohon dan membujuk Aluna untuk memperbaiki hubungan kami.


Bip...


Satu pesan yang ku tunggu masuk. Bergegas ku gas kuda besiku ke lokasi. Jantungku bahkan sudah mulai berdetak lebih cepat, padahal jaraknya saja masih jauh.


Satu jam berkendara, akhirnya aku sampai. Semakin dekat dengan pintu cafe itu, debarnya semakin kencang. Napasku terasa berat dan sulit menelan saliva.


Kenapa aku bisa se-gugup ini? Padahal waktu bersama Tania dan mengatakan perasaanku dulu, tidak se deg-degan ini.


Bismillah meluncur dari bibirku saat membuka pintu cafe. Hanum begitu mengerti, memilih cafe yang sepi pengunjung, hingga membuat kami memiliki kenyamanan untuk bicara.


"Al...," sapaku berdiri di sampingnya. Gadis itu yang sedang memperhatikan buku menu, tampak mendongak dan menoleh ke arahku.


Tatapan marah padaku beralih pada Hanum, seolah minta penjelasan dari sahabatnya itu. Jelas, Aluna menebak kalau ini adalah rencana Hanum untuk mempertemukan kami.


Aluna mendengus pada Hanum, lalu tanpa mengatakan apapun bangkit dari duduknya.


Entah apa yang merasuki ku saat itu, kalut melihat Aluna hendak pergi, aku memeluk pinggangnya. "Jangan pergi, aku mohon."

__ADS_1


__ADS_2