
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
Iren dengan sikap memukul pelan punggung ku, mencoba menghentikan batuk tiba-tiba karena tersedak makanan.
Aku coba kembali mendorong dengan air hingga saluran tenggorokan ku bersih.
"Kamu kenapa, Jun? Makan pelan-pelan, dong," ucap Iren panik, kembali duduk di kursinya tadi, tepat di depanku.
"Sorry, Ren. Aku takut bel masuk bunyi, jadi buru-buru," jawabku mencari alasan. Dalam hati, aku memohon agar Iren melanjutkan ceritanya. Rasa penasaranku menggelitik, siapa yang memberitahukan kenyataan itu. Padahal, Opa Jer bilang pada kami, kalau tidak satu orang pun yang tahu mengenai pernikahan kami, kecuali kepala sekolah.
Namun, kalau memikirkan kepala sekolah yang melakukan hal itu, rasanya tidak mungkin. Dia tipe pria yang setia, demi mengamankan jabatan nya.
"Ren, memangnya siapa yang cerita? Ni-nikah sama siapa?" tanya ku sedikit gugup.
"Gak tahu nikah sama siapa. Tapi yang itu, katanya nikah. Tadi gak sengaja dengar pak Surya nanya Bu Mutia, katanya ada siswa yang lihat di ruang Aluna ada hajatan, pas ditanya tetangganya katanya Aluna nikah, tapi benar gak nya juga belum bisa dipastikan," Tutut Iren yang berhasil membuatku pucat.
Aku ingat perkataan Opa Jer. Dia pesan, tidak ada siapapun yang boleh tahu kalau mereka sudah menikah. Artinya aku tidak boleh cerita pada siapapun, sekalipun saudara dan teman. Kalau sampai ada orang yang tahu, maka Opa Jer akan menganggap aku lah yang patut diminta pertanggung jawaban.
"Gak mungkin lah dia nikah, anak orang kaya, ngapin nikah muda. Atau, jangan-jangan dia lagi hamil?"
Uhuk... Uhuk.... Uhuk...
Kembali aku tersedak, dan kembali juga Iren bangkit untuk menepuk pundak ku.
"Minum dulu. Pelan-pelan, Jun. Tenang aja, istirahat masih lama, kok."
Aku hanya bisa meringis. "Aluna gak mungkin hamil, dia kan selalu diintai oleh Opanya," celetuk ku santai. Entah apa alasannya, pembelaan untuk Alana keluar begitu saja, yang pada akhirnya ku sesali.
"Kamu, kok, tahu Alana tinggal dengan Opanya?"
Bingung. Aku harus jawab apa. Gak mungkin aku bilang kenal baik sama Opa Jer. Aku yakin Iren akan terus mencerca ku dengan berbagai pertanyaan lainnya.
"Kepsek."
__ADS_1
Nah, kan, itu juga tidak aku rencanakan menjadi jawaban, mengalir begitu saja melewati lidahku.
***
Aluna membuktikan ucapannya. Setelah istirahat pertama, aku masuk untuk mengajar di kelas mereka, dan gadis itu tidak ada.
Keras kepalanya sedikitpun tidak berkurang. Aku mengabaikan perasaan khawatir yang kurasakan saat mengajar, menebak apa dia jadi minggat dari rumah.
Ku coba untuk tetap fokus, aku harus profesional. Jangan karena satu siswa, maka 23 siswa lainnya jadi korban.
Setelah menerangkan lebih setengah jam, aku menugaskan para siswa membuka lembar kerja siswa, mengerjakan soal halaman 43. Aku duduk di kursiku, mengamati mereka satu persatu.
Getar di saku celana ku, membuyarkan lamunan panjangku. Begitu menarik keluar benda pipih itu, bola mataku yang tadi tampak sayu, seketika membola kala membaca nama yang tertera di layarnya.
Aku celingukan memperhatikan seluruh siswa yang serius memperhatikan ku. Hanya Hanum, yang menjadi teman sebangku Aluna yang senyam-senyum memperhatikan ku. Bisa ku tebak, gadis itu sama sekali tidak peduli akan soal yang ku minta untuk dikerjakan.
"Hanum, udah siap?" tanyanya ku datar. Aku harus tetap menjaga wibawa ku.
"Eh, belum, Pak," jawabnya cengengesan. "Ini lagi saya kerjakan, tapi wajah Bapak mengalihkan duniaku," jawabnya dengan penuh percaya diri. Setelahnya, seluruh siswa menyorakinya.
Wooooooooo...
"Genit lu, Num!"
"Ganjen, emang!"
"Caper (cari perhatian) lu, Num?"
Celetukan teman-temannya tampaknya tidak membuatnya down, dia malah senyum mesam-mesem gak jelas.
"Sudah, jangan ribut. Selesai soalnya. Bapak keluar sebentar. Ketua kelas, Bapak titip kelas, tetap kondusif, ya!" pintaku pada Hendi, sang ketua kelas.
Aku bergegas melipir ke area taman tak jauh dari kelas mereka. Tania masih terus menghubungiku.
__ADS_1
"Halo, Tan," sapaku setelah sebelumnya membersihkan tenggorokan dengan berdehem beberapa kali.
"Kok kamu lama banget ngangkat telpon nya? Kamu lagi apa, sih? Belakangan ini setiap aku hubungi, nomor kamu gak aktif, sekalinya aktif, kamu juga gak ngangkat. Kamu kenapa, sih, Juna? Jangan bilang kamu mau menghindari aku. Jangan bilang, kamu selingkuh di sana?"
Serangan Tania yang bertubi-tubi membuatnya tak berdaya. Aku bisa merasa kekhawatiran gadis itu, dan sungguh, aku tidak ingin buat dia sedih dan khawatir.
Namun, untuk jujur akan keadaan ku saat ini, sangat sulit. Aku perlu waktu, dan pastinya, tidak mungkin menyampaikan padanya lewat panggilan telepon.
"Kamu apa kabar? Kamu sehat, kan?" Jawabku lembut. Aku tidak pernah marah pada Tania, dan selalu bersikap lembut pada gadis itu, karena akan memang sangat menyayanginya.
Tania adalah gadis sempurna. Anugrah yang terindah dalam hidupku. Dia cantik, anak orangnya, pintar, dan begitu humble, dan dari semua yang terpenting, dia mau menerima ku apa adanya. Bukan seperti Aluna! Lah, kok?!
"Baik. Kamu tuh, ya, selalu bisa meredam amarahku. Aku udah ngomel ini itu, panjang kali lebar, kamu bisa nya mengalihkan pembicaraan dengan suara lembut mu itu!"
Terdengar suara Tania melembut. Ah, gadis ku! Gadis yang sangat aku sayangi. Aku sungguh tidak ingin menyakitinya, tapi bagaimana caraku untuk menjelaskan semua ini? Aku gak mau kehilangan Tania.
Satu jam kami bicara panjang lebar. Setelah telepon yang pertama, aku memutuskan panggilan dan berjanji setengah jam lagi akan kembali menghubunginya. Aku janji padanya akan menjelaskan banyak hal, tapi yang pasti sekarang aku harus kembali ke dalam kelas, memeriksa apakah soal-soal itu sudah selesai dikerjakan murid-murid ku.
Tania tidak marah lagi. Satu jam penuh kami bercerita. Beruntung, aku tidak mengajar sampai les terakhir nanti.
"Jadi, kamu gak jadi ke Jerman, dan memilih untuk mengajar?" Tania sedikit terkejut dengan keputusan ku ini. Dia adalah saksi bagaimana antusias nya aku mengikuti ujian dan seleksi untuk masuk ke perusahaan besar di Jerman. Masa setelah aku dinyatakan lulus, justru tiba-tiba memilih jadi guru honor di sekolah swasta.
"Begitulah, Tan. Aku gak punya pilihan lain. Ibu sudah tua, jadi tidak mungkin meninggalkan ibu sendiri."
Aku memang pria brengsek, big lier! Tapi aku bisa apa? Aku gak punya keberanian saat ini untuk berkata jujur pada Tania.
Mendengar alasan ku, Tania tidak bisa berkata apa-apa lagi. Itulah salah satu alasan mengapa aku semakin sayang pada Tania. Dia bisa menghargai keputusan yang ku ambil, terlebih karena alasan ku adalah menjaga ibu.
Padahal tinggal di Jerman adalah impian kami berdua, tapi bisa dikesampingkan demi menjaga perasaan ibuku.
"Ya sudahlah, mau gimana lagi. Gak mungkin juga kamu tinggal ibu sendirian. Kalau gitu, aku juga akan segera pulang ke sana. Cari kerja di negri sendiri aja, yang penting kita bisa bersama."
Seharusnya aku melompat gembira, ini yang aku tunggu. Aku sudah sangat rindu pada Tania, dan ingin memeluk gadis itu, tapi kalau dia pulang dan mengetahui perihal pernikahan sialan ini, gimana?
__ADS_1
"Apa kau senang aku pulang?" Pertanyaan Tania sangat berat aku jawab, tapi harus.
"Aku tidak sabar menunggu kedatangan mu, Sayang!"