Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 7


__ADS_3

Sepanjang jalan Aluna tidak henti menangis. Bisa dibilang dia diseret paksa oleh anak buah Opa untuk masuk ke dalam mobil. Menjerit, meronta, memaki, mencakar, semua sudah dilakukan oleh Aluna sebagai pertahanannya, tapi tetap saja dia kalah dengan tenaga dan rasa tega anak buah Opa Jer.


Walau sudah mencampakkan Aluna padaku, Opa Jer masih sedikit berbaik hati, mau mengizinkan sopir mengantar kami ke rumah.


Ibu yang sejak tadi berada di samping Aluna hanya bisa mencolek lenganku sejak tadi. Dia khawatir dengan keadaan Aluna yang terus menangis.


Aku hanya bisa memberi tanda agar ibu tidak udah khawatir, nanti juga kalau capek akan berhenti juga.


Namun, ternyata aku salah. Gadis itu terus menangis hingga kami sampai di rumah. Dia semakin histeris kala melihat rumah kami, tempat dia tinggal nantinya.


"Ini gak mungkin, aku gak mungkin bisa tinggal di rumah seperti ini!" Jeritnya histeris. Dia menatap sekeliling, perumahan yang sangat jauh di bawah standar nya.


"Pak Kodir, bawa aku pulang, aku mohon," lanjutnya dengan memegang jas sopir itu erat, tidak mau ditinggal bersama kami yang dianggapnya manusia dengan kasta paling rendah.


"Maaf, Non, gak bisa. Tuan besar sudah meminta agar saya segera kembali pulang tanpa membawa Nona pulang," jawab Pak Kodir ikut prihatin.


Dia mengakui kalau Aluna gadis keras kepala, dan sangat manja, selalu dikelilingi kemewahan, dan sekarang harus tinggal di rumah sederhana seperti ini.


"Jangan tinggalkan aku di sini, Pak Komar," ratap Aluna, air matanya kembali meleleh.


Pak Komar diam, menarik sisi jas yang masih dipegang Aluna. "Maaf, Nona," ucapnya menarik kuat jasnya, lalu masuk ke dalam mobil dan berlalu.


"Sudah, Neng. Jangan nangis lagi, kita masuk, yuk," pinta Ibu mendekatinya.


"Lepas! Aku gak mau masuk ke dalam rumah kumuh itu! Aku juga gak mau tinggal bareng kalian!"

__ADS_1


Aluna kali ini sudah keterlaluan. Dia mendorong tangan ibu dengan kasar. Mengusap kulit tangannya yang tadi dipegang ibu.


Emosiku memuncak melihatnya. Rasa sedih dan iba yang tadi sempat muncul dalam hatiku, kini berganti amarah dan kesal. Tidak ada yang boleh memperlakukan ibu dengan kasar seperti itu. Lagi pula, ibu hanya berusaha berbuat baik padanya.


"Langit sudah gelap, bentar lagi mau hujan, kita masuk, yuk, Neng," pinta Ibu, mencoba mendekati Aluna lagi, tetap bersikap penuh kasih pada Aluna.


"Gak mau! Biarin aja aku di luar ini. Aku gak sudi masuk rumah kumuh kayak gitu! Gak usah sok baik deh, sama aku. Pergi aja, aku gak suka dekat-dekat" dengan kalian! Bau!" hina Aluna menatap jijik pada ibu.


Dadaku terbakar. Kesabaranku sudah diambang minus. Cukup sudah penghinaan gadis itu pada ibuku. Aku melangkah mendekati ibu. "Ayo, kita masuk, Bu. Biarkan gadis gila sombong ini di luar, biar nanti ada begal yang ganggu dia!" seruku menarik tangan ibu.


Terlihat ibu menolak, kakinya terasa berat dia seret. Aku kembali berbalik pada gadis itu. "Ini kali pertama dan terakhir kau menghina ibuku, sekali lagi kau melakukan perbuatan atau perkataan kasar pada ibu, aku gak akan segan-segan memberi pelajaran padamu!"


Aku menarik tangan ibu dengan paksa, membiarkan gadis itu berada di luar sendirian. Aku gak peduli lagi.


Begitu pintu ditutup, petir menyambar dengan keras. Langkahku yang hendak ke kamar mendadak berhenti. Hatiku bergejolak, dorongan untuk mengintip begitu besar, tapi lagi-lagi mengingat perkataan kasarnya pada ibu membuatku mem-bebalkan hati.


Aku diam, tidak menanggapi. Hatiku masih mengkal padanya. Terlalu dimanja sejak lahir hingga membuatnya tidak punya etika.


"Kamu dengar gak Ibu ngomong apa? Di luar angin kencang banget, bentar lagi pasti hujan. Nanti Aluna sakit. Kamu kan sudah jadi suaminya, harus bertanggung jawab menjaga dan melindunginya," cecar ibu yang ingin menggoyahkan hatiku.


"Ibu lihat dia duduk di dekat gerbang rumah, menatap ke arah jalan. Ibu takut benar-benar ada orang jahat gangguin dia."


Aku ingat Minggu lalu, ada begal yang coba masuk rumah di ujung gang sana. Untung hanya mengambil sepeda motor, tidak sampai melukai pemilik rumah.


Hatinya jadi ikut khawatir. Bagaimanapun, Aluna kini jadi tanggung jawabku. Aku tatap wajah ibu, lalu melangkah ke luar kamar.

__ADS_1


Sebelum keluar, aku mengintip dari balik gorden. Dia masih menangis, sesekali melirik ke kanan dan ke kiri. Dia juga melihat ke arah pintu dengan tatapan ketakutan, seolah menimbang apa lebih baik masuk saja ke rumah.


Rasa iba kembali menjalari hatiku. Bukan hanya pada Aluna, siapapun yang dihadapkan pada kenyataan seperti ini pasti akan sesedih dirinya.


Opa Jer sudah menekankan tidak akan ada uang bulanan, semua kebutuhan Aluna aku yang tanggung sepenuhnya.


Aku ingin menyampaikan keberatan ku saat itu, tapi aku sadar kalau yang dikatakan Opa Jer benar adanya. Kami sudah menikah, sewajarnya kebutuhan Aluna jadi tanggung jawabku.


Kembali bunyi petir menyambar, gerimis sudah mulai turun. Gadis itu memekik kaget dan ketakutan, merangkul dirinya, menyembunyikan wajah di atas lututnya. Seketika wajah Aluna segera menoleh ke arah pintu yang aku buka, melihat ku dengan air mata yang masih memenuhi wajahnya.


"Ayo, masuk."


Gadis itu tidak seangkuh tadi. Dia menatap dengan kesedihan tapi masih tetap mempertahankan egonya.


Aku mengulurkan tangan padanya. Sesaat dia menatap pada telapak tanganku, kembali menimbang, apakah lebih baik menerima uluran tangan itu, atau justru bertahan dengan harga dirinya yang setinggi Himalaya.


"Udah gerimis, bentar lagi hujan pasti deras. Kita masuk. Kalau kamu gak mau tinggal di sini, besok pikirkan jalan lain. Sekarang kita masuk dulu. Kamu sudah satu jam lebih di sini. Kamu bisa masuk angin," pintaku dengan sedikit menyelipkan kelembutan.


Akhirnya dia mengulurkan tangannya, agar aku bisa membantu untuk berdiri. Namun, karena sudah lama duduk, kakinya kesemutan, hingga pas berdiri, kestabilan tubuhnya sedikit goyang, hingga hampir jatuh. Sigap aku menarik memegang pinggangnya hingga tubuhnya terdorong ke dadaku.


Untuk beberapa detik, kami saling bersitatap, terkunci dalam diam. Barulah sepeda motor yang baru saja lewat dari depan kami membuat kami tersadar.


Aluna segera melepas pegangan ku, lalu berjalan cepat ke dalam rumah. Aku yang sedikit canggung mengikuti langkah Aluna masuk ke rumah.


"Mandi dulu, Neng," pinta Ibu, menyodorkan handuk bersih pada Aluna. Sesaat gadis itu menatap lekat, lalu seakan ingin menolak dan kembali ketus pada ibu, Aluna membatalkan niatnya, mengatupkan kembali bibirnya, semua itu pasti karena mengingat peringatan dari ku tadi.

__ADS_1


"Kamu harus bersikap baik pada Aluna, ini tidak mudah baginya," ucap ibu setelah kembali dari belakang, mengantar Aluna ke kamar mandi.


__ADS_2