Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 43


__ADS_3

Sudah dua hari ini ibu sakit. Mengurung diri di kamarnya, tak mau makan, bahkan tak mau bicara denganku. Hati ibu terpukul dan terpuruk, kecewa yang sangat besar, aku tahu akan hal itu, karena aku juga saat ini sedang dalam keadaan hancur-hancurnya.


"Ibu, ini makam siangnya. Buka pintunya, Bu. Makan dulu," pintaku memelas. Dua hari ibu sakit, selama itu pula aku izin tidak masuk, dan meminta agar pak Doni menggantikan kelasku.


Tidak ada jawaban, seperti biasa. Aku khawatir sekali melihat keadaan ibu saat ini. Yang bisa aku lakukan selain membujuk, hanya mencoba menghubungi Aluna, tapi tetap nomornya tidak aktif.


Malam itu ibu sangat marah padaku. Baru kali ini aku mengecewakan ibuku dalam sejarah panjang kehidupanku.


"Maksud kamu apa, Juna? Eling, Nak! Jangan bercanda, Gusti Allah gak suka!"


"Aku gak bercanda ibu. Opa Jer memintaku menikahi Aluna hanya agar bisa menjaga gadis itu, mendidiknya jadi gadis yang punya etika dan dapat dibanggakan. Setelah Aluna nanti lulus SMA, kami akan bercerai," terang sedikit takut.


Rasa sakit di pipi yang sebelah kanan, yang sempat ditampar ibu setelah penjelasan pertamaku yang singkat tadi, kembali nyut-nyut.


"Kenapa kamu mau, Juna? Pernikahan itu sakral, bukan untuk mainan apalagi perjanjian gila seperti ini!" kutuk ibu emosi.


Lagi-lagi rasa bersalah itu menyelusup dalam hatiku. Perlahan, dengan suara pelan dan artikulasi yang jelas, aku menjelaskan kejadian dari awal sampai akhir aku bisa jadi menikah dengan Aluna, agar ibu bisa paham keadaan kami yang sangat berbeda itu.


"Ibu juga pada awalnya sudah curiga pada niat Opa Jer. Mana mungkin seorang hartawan seperti dia, mencarimu hanya untuk menikahi cucu tunggalnya yang sangat cantik itu," ucap Ibu getir, tapi masih tetap tidak bisa menerima kenyataan ini.


"Aku terpaksa Ibu, kalau aku gak bersedia, Opa Jer akan menuntut ganti rugi karena selama ini dia sudah membiayai sekolah dan kuliahku."


"Jadi, ini hanya pernikahan kontrak? Kamu bukan suami, hanya sebagai bodyguard berstatus suami?" ucap Ibu pelan, lebih pada dirinya sendiri dengan tatapan kosong ke depan.


Aku tahu ini sangat sulit bagi ibu. Selama ini dia berharap pernikahan kami adalah pernikahan yang akan memberikan keturunan serta kebahagiaan buat kami yang pasti itu juga yang diharapkan ibu, tapi pada akhirnya ditampar oleh kenyataan pahit. Apa nanti kata tetangga? Selama ini mereka memuji Aluna yang cantik dan tahu berasal dari kalangan orang terpandang, tapi mau jadi mantu ibu.


Keesokan harinya aku putuskan datang ke ruang Opa Jer. Meski kurang percaya diri, aku ingin tahu alasan Aluna kembali ke rumahnya. Apakah tugasku sudah selesai? Tapi Aluna belum mengikuti ujian terakhir.

__ADS_1


Kedatangan ku disambut sedikit tidak bersahabat oleh Opa Jer yang sudah buatku menunggu sampai satu jam lebih di ruang tamu.


"Maaf, kalau aku datang tanpa minta izin dulu pada Opa. Mungkin tujuan kedatanganku juga Opa sudah bisa menebak," ucapku mencoba mendorong diri untuk berani. Tidak mudah berhadapan dengan Opa Jer. Wajah dan tubuh mungkin sudah renta, tapi aura memimpin bahkan terkesan diktator masih kental terasa.


Opa Jer manggut-manggut, lalu kembali diam. Lama pria itu bergeming tanpa peduli kehadiran ku di sana.


"Aluna akan kembali tinggal di sini, di rumahnya, di tempat seharusnya dia berada. Kau tidak perlu lagi mengkhawatirkan dirinya."


Pernyataan itu jelas, tidak ada yang perlu dikonfrontasi lagi. Tidak perlu mempertahankan keinginan Aluna atau pun aku sendiri.


"Berarti..." Aku tidak sanggup meneruskan perkataanku.


"Benar. Tugasmu sudah selesai!"


Ku tarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan berat. Kenapa setelah hatiku tertawan pada Aluna, justru perpisahan itu datang lebih cepat?


"Bukankah setelah Aluna selesai sekolah, Opa?" Aku masih berharap bisa bernegosiasi dengan pria berperawakan tegas itu.


"Tidak perlu! Opa minta bantuanmu menjaga Aluna karena saat itu dia begitu mabuk kepayang pada Digo. Sekarang, hal itu tidak perlu dirisaukan lagi, penjahat kelamin itu sudah masuk bui, dan dari laporan yang Opa terima, Aluna juga sudah tidak tertarik pada si brengsek itu. Jadi, tidak ada lagi alasan kau menjaga Aluna!"


Aku menunduk dalam diam ku. Opa Jer kembali menjelaskan posisiku. Sadarlah, Jun, kau bukan siapa-siapa, hanya sebagai pelayan yang ditugaskan menjaga Aluna!


"Boleh aku bertemu dengan Aluna?"


Aku mengutuk kebodohan ku. Untuk apa lagi aku bertemu dengan Aluna, tidak akan ada gunanya lagi. Mungkin juga gadis itu tidak mau bertemu dengan ku lagi.


"Tidak perlu, Aluna tidak ingin bertemu dengan mu lagi. Tadi Opa sudah ajak, sekedar berpamitan dengan mu, tapi dia menolak."

__ADS_1


"Baiklah, Opa. Aku pamit," putus ku. Sebelum aku jadi mengangkat bokong, gerakan tangan Opa memintaku untuk duduk lagi.


"Opa akan segera mengurus perceraian kalian. Sebaiknya nanti saat prosesnya berlangsung, kau bisa kooperatif."


Rasanya seperti ada belati tajam yang menghujam ulu hatiku. Sakit. Perih.


Aku hanya bisa mengangguk. Sakit sekali ya, Tuhan. Beginilah kalau bermain-main dengan perasaan.


"Ada lagi yang ingin Opa sampaikan?" tantang ku. Jangan dipikir aku hanya boneka tanpa harga diri. Dia boleh menganggap remeh diriku, tapi jangan ibuku. Dengan menentukan kapan kami harus bercerai, artinya dia tidak menghargai Opa Jer.


"Tidak. Cukup untuk saat ini. Satu lagi, Opa sudah atur agar pernikahan kalian dulu di desa itu juga dibatalkan."


Seketika wajahku memucat. Pernikahan di desa? Apa maksud Opa pernikahan dadakan itu? Tapi dari mana Opa Jer bisa tahu?


"Kenapa? Kau kelihatan bingung? Pasti dalam hatimu bertanya, dari mana Opa tahu, begitu, kan?"


Aku tidak menjawab. Rasa terkejut ku masih penuh, belum bisa menguasai keadaan.


"Sebelum kalian menikah, Opa sudah tahu soal insiden itu. Kau tidak berpikir kalau Opa tidak menugaskan anak buah Opa untuk menjaga Aluna? Setiap gerak langkah Aluna sudah ada yang menjaga."


"Kenapa Opa tidak mengatakan apapun? Tidak marah?" tanyaku masih bingung. Rahasia yang bahkan hampir terlupakan ternyata diketahui oleh Opa Jer.


"Itu akan jadi senjata terakhir Opa jika menjelang pernikahan kamu menolak rencana pernikahan ini. Itu akan membuat kau tidak punya pilihan lain, toh tanpa Opa nikahkan, kalian sudah menikah!"


Tidak ada kata yang bisa ku ucapkan. Selama ini aku jadi orang bego yang mengkhawatirkan keselamatan Aluna, padahal di setiap langkah Aluna, sudah ditugaskan bodyguard yang tidak terlihat.


"Kalau tidak ada lagi yang ingin Opa katakan, aku izin pamit. Ibu sudah menungguku pulang, menunggu kabar dariku mengenai keadaan Aluna," terang ku langsung berdiri. Tidak ada yang perlu dibahas dengan Opa lagi.

__ADS_1


"Silakan. Tapi satu hal lagi pertanyaan yang harus kamu jawab. Kamu tidak pernah menyentuh Aluna, kan?"


__ADS_2