Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 47


__ADS_3

(Aluna)


"Silakan, Mbak. Mau ngomong apa?" tantang gua melihat tangan. Kita duduk saling berhadapan. Sedikitpun gua gak gentar. Kalau pada awal pertemuan kita, gua merasa bersalah, dan takut dianggap perebut kekasih orang, tidak untuk saat ini.


"Al, aku juga bingung harus mulai dari mana," jawab Tania dengan pandangan menyedihkan.


Suasana mencekam terasa saat berada di rumah Juna. Selama pria itu membuatkan minuman, baik gua ataupun Tania, tidak ada yang saling tegur.


Hingga rasanya tidak tahan, gua memilih ingin pulang lebih dulu. Banyak pertanyaan dalam benak yang harusnya gua pertanyakan sama Juna, tapi momennya gak tepat, saat itu ada Tania di sana, makanya gua putuskan pulang saja, sampai Tania menarik tangan gua, dan mengajak pergi bareng agar kita bisa bicara.


Saat mengetahui ada Tania di rumah itu, rasanya ingin sekali menerjang Juna, menanyakan banyak pertanyaan, salah satunya mengapa Tania berada di rumahnya. Kedua dan sebenarnya yang paling utama, menanyakan tentang ucapannya yang mengatakan tidak ada lagi hubungan di antara mereka. Apa semua janji manisnya itu bohong semata?


"Santai aja, Mbak. Pelan-pelan aja, aku bakal nungguin. Kan, Mbak yang ngajak ngobrol."


"Al, apa benar kamu udah pacaran dengan Juna? Maksudku, selama ini yang aku tahu hubungan kalian hanya sebatas perjodohan dan pada akhirnya akan berakhir. Tapi kenapa Juna meminta perpisahan denganku?"


"Maaf, Mbak. Aku juga gak tahu gimana hubungan kami. Kemarin, sih, dia bilang kalau dia mau memperbaiki hubungan kami, memperjuangkan perasaannya. Tapi aku yang melihat Mbak di rumahnya."


"Aku ke sana memang ingin bertemu dengan Juna. Awalnya pengen ngajak dia balikan. Aku rela dia bohongi aku selama ini mengenai hubungan kalian. Tapi, sampai sana, justru ngobrol sama ibu yang sedang sakit."


Gua yang mendengar niat Tania hanya bisa meremat sisi gaun gua. Ternyata Tania masih berharap. Tapi gua yakin, kok, kalau Juna akan berteguh hati. Ternyata selama ini gua salah paham sama dia. Juna bukan ingin balik sama Tania lagi.


Gua sendiri ke sana karena khawatir sama ibu. Kemarin ibu datang ke rumah. Saat sampai di rumah, gua udah dengar suara opa yang marah-marah sama ibu dan sempat terdengar nyebut nama gua.


Langkah gua berhenti di balik pintu, mendebarkan percakapan mereka.


"Ini kali kedua ibu datang memohon agar saya mengizinkan anak ibu tetap bersama cucu saya. Dan saya juga sudah bilang, itu tidak akan mungkin. Saya tidak akan mengizinkan Aluna meneruskan pernikahan ini!"


"Tapi bukankah awalnya Anda yang memaksa Juna untuk menikahi non Aluna? Kenapa begitu mereka berdua saling jatuh cinta, Anda tega memisahkan mereka?" Isak tangis ibu sungguh menyayat hati gua. Dia datang memperjuangkan keutuhan rumah tangga gua sama Juna.


Tidak tahan dengan ucapan kasar Opa, gua menerobos masuk dan memohon sama Opa agar menjaga perasaan ibu dan terpenting, gua gak mau pisah dengan Juna.

__ADS_1


"Aku cinta sama Juna, Opa! Aku gak mau berpisah dengan dia!"


"Al, kamu serius, suka sama Juna? Kata dia kalian saling cinta. Kalau kamu gak ada perasaan, meski Juna bilang dia cintanya sama kamu, asal kamu gak cinta sama dia, aku mau berusaha mengembalikan perasaan Juna kayak dulu, hanya padaku."


Paras Tania cantik, tapi menyiratkan kesedihan yang kuat biasa. Gua sendiri aja ikut sedih melihatnya. Tania gadis yang baik, tapi urusan hati mana bisa dipaksa.


"Maaf, Mbak. Aku gak bisa melepaskan Juna, karena aku juga mencintai Juna."


Ucapan pasti membuat Tania sedih, tapi aku hanya ingin mempertahankan yang menjadi milikku. Sampai detik ini Juna adalah suamiku, pria yang aku cintai.


***


"Kamu dari mana? Opa dari tadi nungguin kamu!"


Kepulauan gua disambut Opa di ruang keluarga dengan ledakan emosi. Tadi gua memang pergi diam-diam, bisa mengalihkan perhatian pengawal yang diminta jagain gua.


"Dari rumah mertua aku, Opa. Ibu lagi sakit," jawab gua ketus. Opa terlalu, mengatur hidup gua. Saat dia menjodohkan gua sama Juna, sekuat apapun gua memohon agar dia membatalkan rencana pernikahan kami, tapi Opa gak peduli. Sekarang, saat hati gua udah terpukau dan terpaut sama Juna, seenaknya aja Opa minta aku lupain Juna.


"Uang? Maksud Opa apa?" Wajah ku menegang bersamaan dada gua yang terasa sesak. Kebenaran apa lagi ini?


"Kamu pikir dia mau menikahi kamu kalau Opa gak kasih dia duit? Opa transfer 1 M sama dia!"


Dunia gua jungkir balik seketika mendengar penuturan Opa. Apa iya, Juna menerima uang pemberian Opa? Apa iya, selama ini Juna bohong dan hanya pura-pura memiliki perasaan sama gua?


Oh, Tuhan, Benarkah semua ini? Kenapa hati gua sakit.


"Opa bohong! Aku gak percaya sedikitpun ucapan Opa. Juna bukan tipe pria seperti yang Opa tuduhkan. Juna cinta sama aku!"


"Bohong kamu bilang? Tanya saja sama dia, ada gak dia terima uang dari Opa selama 1 M! Ibu dan anak itu sama aja. Mereka hanya ingin mendapatkan keuntungan dari mu!"


Gua ninggalin Opa dengan rembesan air mata. Sakit. Meski belum terbukti benar.

__ADS_1


Sampai di kamar, segera gua hubungi Juna, tapi ponselnya gak aktif.


"Brengsek!" umpat gua melempar ponsel ke atas ranjang. Hati gua sakit dan pikiran gua kacau banget. Pengen nyusul ke rumah Juna, tapi di luar hujan. Gua berdiri di kaca kamar, menatap rintikan hujan di luar sana.


***


Tanpa menunggu lama, begitu sang fajar menyingsing, gua langsung cabut ke rumah Juna.


Di ruang tamu, gua ketemu sama Opa yang baru selesai jalan pagi. "Kamu mau kemana lagi? Ada berkas yang harus kamu tandatangani," tegur Opa.


"Berkas apa, Opa?"


"Tentu saja surat cerai!"


"Opa! Aku mohon jangan jahat gini. Aku udah bilang gak mau cerai sama Juna!"


"Jangan gila kamu. Untuk apa mempertahankan pria seperti itu? Dia itu mata duitan, mau sama kamu hanya demi harta! Opa gak setuju. Perceraian kamu sudah Opa urus, kamu tinggal tanda tangan aja," tukas Opa tegas.


Gua gak mau dengar lagi, bergegas gua pergi, tanpa memperdulikan apapun yang dikatakan opa.


Gua sampai dan bertemu Ibu yang sedang berjemur di teras rumah. Wajahnya sudah lebih segar, tidak pucat kayak kemarin.


"Assalamualaikum, Ibu," sapa gua sembari mengambil tangannya dan mencium punggung tangan ibu.


"Waalaikumsalam salam. Kamu cari Juna? Ada di dalam. Masuk lah."


Kegelisahan yang masih mendera hati gua buat gua bergegas masuk. Juna di sana sedang duduk, mengisi nilai anak muridnya.


"Al..."


"Benar kamu terima uang 1M dari Opa?"

__ADS_1


__ADS_2