Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 53


__ADS_3

Dua jam sudah acara amal itu berlangsung. Setiap rentetan acaranya berjalan dengan baik, terbukti banyak para dermawan yang menyumbang untuk biaya pengobatan anak-anak kurang mampu yang sebagian besar anak yatim.


Mei sebagai penanggung jawab acara itu, terlihat sibuk ke sana ke mari, hingga tidak bisa menemani mereka.


Ketiga pria itu duduk di satu meja yang sama dengan Lingling, ketiga temannya, dan juga Aluna. Bukan disengaja, terjadi begitu saja, Aluna terpaksa duduk di kursi kosong yang hanya sisa satu di samping Juna.


Keduanya terlihat kaku. Sejak diperkenalkan oleh Lingling tadi, tidak ada satu patah katapun yang keluar dari bibir keduanya.


Rizal dan Bram memang teman kuliah Juna, tapi sedekat apapun mereka, keduanya tidak tahu sosok wajah gadis yang dinikahi Juna. Mereka hanya tahu, Juna membatalkan rencana bekerja di Jerman kala itu karena dijodohkan dan terpaksa menikah.


Setelahnya, berita perpisahan mereka pun hanya diketahui sepintas oleh Tania, yang memang teman Rizal juga.


Tiba giliran beberapa anak yang rambutnya sudah terlihat plontos, memakai kostum balet, dan bersiap untuk menari.


"Kamu apa kabar?" tanya Juna yang tidak tahan hanya menatap wajah cantik Aluna tanpa menyapanya.


Ketika bertemu tadi, Juna begitu terkejut, hingga terasa tubuhnya begitu ringan dan telapak kakinya tidak berpijak di lantai lagi.


Aluna masih duduk dengan anggun, menaikkan dagunya dengan tatapan menikmati pertunjukan di depan sana. Angkuh dan menawan. Dua tahun berpisah, gadis itu semakin cantik, terlihat semakin dewasa.


Merasa dikacangin, Juna memainkan ujung rambut Aluna yang panjang. Meraba, merasakan kelembutan rambut yang sampai sekarang masih bisa dia ingat bagaimana wanginya.


"Au... Sakit," desis Aluna saat Juna dengan gemas menarik sedikit ujung rambutnya.


"Makanya, kalau orang tanya itu dijawab!"


"Ngapian jawab kamu? Memangnya kamu siapa? Maaf, kita gak kenal!"


Percaya tidak. Begitu bertemu dengan Aluna, rasa sakit dan kebencian yang dulu dirasakan Juna dalam hatinya, meleleh seketika, berganti dengan lautan rindu untuk gadis itu.


"Oh, jadi kamu gak kenal dengan ku?" tanya Juna mengangkat satu kaki dan bertumpu pada kaki yang satunya.


Pertanyaan itu nyatanya mampu memprovokasi Aluna, membawa bola mata indah gadis itu menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


Lama saling menatap, diiringi dengan alunan lembut musik yang mengiringi tarian balet di depan sana. Juna tersenyum, sebagai penanda berakhirnya adu pandang itu.


"Benar. Aku sama sekali tidak mengenal Anda. Sebaiknya, jaga jarak dengan saya!"


Perasaan Juna kembali terhempas. Aluna belum berubah. Dia tetap gadis angkuh yang tiap tutur katanya mampu menyakiti hati orang. Tapi sialnya, dia mencintai gadis itu!


Kalau bukan karena cinta yang dia rasakan, Juna pasti tidak akan mempedulikan gadis itu.


Juna memperhatikan Aluna dengan seksama. Rasanya ingin mendekap gadis itu dan mengatakan kalau dia begitu merindukannya.


Namun, Juna yang sekarang tentu sudah lebih dewasa dari yang dulu. Dibentuk dengan penderita dan juga kesedihan yang besar saat meninggalkan negaranya.


"Sepertinya strategi harus diubah. Kalau dulu aku menahan diri karena Opa mu yang gak punya hati itu, kali ini, aku yang akan memegang alur ceritanya!" batin Juna mengulum senyum.


Beruntunglah Aluna, karena Juna bukan tipe pria yang mengubah sakit hati menjadi ajang balas dendam dan berubah jadi psikopat.


Setelah sikap judes yang ditunjukkan Aluna, Juna menarik diri. Kali ini dia yakin triknya akan berhasil.


***


Selama ini dia cukup berhemat karena memang semua fasilitas ditanggung perusahaan, termasuk apartemen yang saat ini mereka tinggali. Jadi, semua gaji, tunjangan dan bonus, belum lagi insentif khusus yang diberikan padanya sebagai GM, membuat pundi-pundi Juna membengkak.


Dia juga berinvestasi di negaranya. Membangun rumah ibunya menjadi mewah, bertingkat dua. Pada awalnya Juna menawarkan untuk pindah ke rumah mewah di Jakarta Selatan yang dia beli, tapi ibunya menolak. Katanya tidak akan meninggalkan rumah peninggalan ayahnya.


"Terima kasih, Jun, sudah memberi sumbangan buat anak-anak. Itu sangat berarti bagi mereka," ucap Mei tersenyum, membuat wajah pipinya yang berwarna pink semakin memerah.


Walau Juna belum mengatakan apapun tentang status hubungan mereka, tapi Mei akan bersabar menunggu. Berada di sisi Juna walau hanya berstatus teman aja, sudah buatnya senang. Cukuplah untuk saat ini.


Reaksi malu-malu Mei saat bicara dengan Juna, jelas tertangkap kamera mata Aluna. Dia juga seorang gadis, dan bisa menebak kalau Mei ada rasa pada Juna, dah dia benci mengetahui hal itu.


Sementara Juna yang melirik Aluna lewat ekor matanya, hanya tersenyum samar. "Kena kau!" batinnya berusaha untuk tetap bersikap biasa.


"Wah, kok cuma sama Juna, aja? Apa karena kita sumbangannya lebih sedikit dari Juna?" Bram protes. Padahal jujur, dia memberikan sumbangan itu juga untuk menarik simpati Mei, ya, dia ikhlas kok. Tapi memang ada memiliki dua tujuan. Pepatah mengatakan sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

__ADS_1


"Bukan begitu, aku kan mau ngucapin terima kasih sama kalian satu persatu, dimulai dari Juna," jawab Mei ngeles.


"Acaranya sudah selesai, kan? Kita pulang?" tanya Juna ke arah Rizal dan Bram.


"Ayolah, tapi karena masih sore, ini malam Minggu lagi, bagaimana kalau kita nongkrong dulu, minum-minum santai dulu?" tawar Bram, tapi pertanyaan itu lebih kepada Mei.


Bohong jika dia bisa menghapus perasaannya begitu saja pada Mei. Tapi demi kebaikan semuanya, dia memilih untuk tetap berada di garis friend zone. Mencintai dalam diam, berstatus teman.


"Oke. Lagian jomblo begini ngumpul di apartemen, paling juga main PS!" sambung Rizal setuju dengan pendapat Bram.


"Kita ikut ya, Kak," sambar Lingling. Ketiga temannya sudah pulang, dijemput pacar masing-masing. Tinggal Lingling dan Alana.


"Boleh," jawab Mei. "Lebih rame, lebih seru."


"Aku gak ikut deh, Kak. Balik ke apartemen hotelku aja."


Hampir semua mata menoleh ke arah Aluna, hanya Juna yang pura-pura tidak peduli.


"Loh, Aluna bukan tinggal di apartemen Mei?" timpal Rizal. Pria itu sejak tadi berusaha untuk menarik perhatian Aluna, tapi selalu gagal.


"Bukan. Aluna kadang aja nginap di apartemen kami selama liburan ke sini," terang Mei yang kali ini berhasil buat Juna menunjukkan keingintahuannya.


Dia pikir, Aluna kuliah di Jerman, sama dengan adik Mei dan teman-temannya tadi.


Ngapian bocah ini ke Jerman? Bagaimana keadaannya selama di Indo?


"Jadi, Aluna bukan mahasiswa kedokteran sama kayak Lingling?"


"Bukan, yang bekerja di rumah sakit itu, aku dan sepupuku, kakaknya Lingling. Kalau Lingling, masih kuliah."


"Nah, kalau Aluna ini, teman SMP aku di indo, kita sahabat dekat. Minggu lalu, aku dengar dia liburan ke Jerman, jadi kita ketemuan, deh," terang Lingling.


Aluna hanya diam, tidak menanggapi apapun. Tengkuknya merasa meremang. Seakan ada yang menatapnya saat ini.

__ADS_1


"Aku pulang duluan, ya," ucap Aluna buka suara.


"Biar aku antar!"


__ADS_2