Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 58


__ADS_3

Dorongan ingin ke kamar mandi membuat bola mata Aluna terbuka, meski tidak sepenuhnya. Kepalanya masih terasa pusing sekali. Aluna ingin duduk, tapi beban berat di atas perut menahan gerakannya.


Tersadarkan Aluna akan apa yang sudah terjadi malam ini. Dia mengalihkan tatapannya ke samping. Wajah Juna begitu tenang, menandakan tidurnya begitu nyenyak. Pria itu memeluk dan mendekap erat tubuh Aluna dalam satu selimut, dan tanpa ada sehelai benangpun di dalamnya.


Wajah Aluna memerah. Dia terus menikmati pemandangan di depannya. Hatinya begitu tenang dan ini lah yang dia inginkan. Penantian bertahun-tahun yang panjang dan penuh kesedihan, berubah manis akhirnya.


Kini dia sudah menjadi wanita seutuhnya, dan dia bahagia bisa memberikannya pada satu-satunya pria yang dia cintai.


Kembali dorongan untuk ke toilet muncul. Rasanya cairan itu tidak bisa ditahan lebih lama lagi. Tidak ingin mengganggu tidur Juna, Aluna mengangkat tangan pria itu dari perutnya, lalu bergerak pelan menuju kamar mandi.


Dengan cepat dia membersihkan diri. Keinginan untuk kembali berbaring dalam pelukan Juna membuatnya bergerak cepat.


Namun, cahaya dari pesan masuk di ponsel Juna yang tergeletak di meja, menarik perhatian Aluna.


Dari layar bisa dia baca pesan itu dari Tania.


Deg! Jantung Aluna berdetak seribu kali lebih cepat. Hasratnya ingin membangunkan Juna meminta penjelasan, tapi siapa dia? Mereka bahkan bukan suami istri lagi.


'Jun, Besok aku akan tiba di Jerman. Kamu mau tahu kabar gembira? Aku hamil, Jun. Setelah lama penantian ini, akhirnya aku hamil. Nanti ketika kita sudah bertemu, kau harus memelukku, ya!'


Hancur, remuk redam jantung Aluna. Tubuhnya merosot tepat di depan meja. Mata nanar dan sudah mulai berair menatap benda kotak kecil itu.


Aluna harus menggigit bathrobenya demi menahan agar tangisnya tidak terdengar. Sakit, perih, kecewa, semua campur aduk. Apa yang sudah dia perbuat? Bercinta dengan suami orang?


Pesan itu menjelaskan lebih dari cukup. Juna mungkin brengsek karena mendatangi dan menciumnya. Pengaruh minuman keras itu pasti sudah mematahkan akal sehatnya. Namun, dia juga ambil andil. Tidak sepenuhnya salah Juna, karena dia yang juga dibawah pengaruh minuman membiarkan Juna menyentuhnya.


Tubuh Juna menggeliat. Tangannya bergerak mencari sesuatu, yang ditebak Aluna adalah dirinya. Hal itu buat Aluna tidak tahan lagi, memilih masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Jarum jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Juna masih terlelap. Setelah memikirkan cukup lama, Aluna mengambil keputusan. Dia menarik diri, karena merasa malu sudah melempar tubuhnya pada Juna yang memiliki istri.


Aluna mengenakan pakaiannya. Mengambil tas tangannya, lalu melangkah ke luar kamar. Beruntung pakaiannya berada di dalam koper, jadi hanya tinggal mengangkut.


Masih gelap, jadi dia memutuskan untuk mengambil kamar lain di hotel itu menunggu terang, lalu memutuskan langkah selanjutnya.


"Jadi, kamar yang lama kita tutup saja, Bu?" tanya resepsionis sembari mencari kamar lain untuk Aluna.


"Gak usah. Biarkan saja. Di dalam masih ada... Teman yang beristirahat. Satu hal lagi, kalau ada yang bertanya siapapun, tentang saya, tolong jangan berikan informasi apapun."


Setelah selesai mengurus semuanya, Aluna mengambil kunci kamar barunya, dan mengikuti langkah bellboy menuju lift.


Aluna membuka pintu balkon kamar presidential suite room yang baru dia pesan, membiarkan angin subuh membelainya. Dia lama termenung, memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.


Air matanya kembali meleleh, sedih, tapi anehnya tidak ada penyesalan. Justru belakangan, rasa bersalah hinggap dalam dirinya. Bagaimana perasaan Tania jika mengetahui kejadian itu?


Beberapa lantai di bawah, Juna masih berada di kamar itu dan Aluna tebak masih belum sadar kalau dirinya sudah pergi dari sana.


Dia masih memilih rebahan. Banyak hal kini bersarang dalam benaknya. Dia ingin pergi, tapi hatinya berat meninggalkan negara ini. Kenapa dia jadi lemah setelah apa yang terjadi antar dirinya dan Juna.


***


Bunyi ponselnya membuyarkan lamunan Juna. Pikirannya jauh pada Aluna yang masih belum bisa dia temukan. Dua hari sudah berlalu sejak peristiwanya itu. Seharusnya dia tidak mencari Aluna ke kamarnya sepulang dari bar. Tapi apa mau dikata, dia hanya mengikuti kata hatinya saat itu untuk meminta penjelasan pada Aluna tentang perasaan gadis itu padanya.


Berdua di dalam kamar, membuat suasana jadi sentimentil. Aluna tetap mengatak kalau dia tidak punya perasaan apapun lagi pada Juna hingga buat pria itu setelah sadar sesuai menghabiskan setengah botol champagne dan berakhir di atas ranjang.


Sekuat apapun dia memaksa pihak hotel, tetap saja mereka mengatakan kalau Aluna tidak ada lagi di hotel itu, dan tidak meninggalkan pesan apapun baginya.

__ADS_1


"Kau dimana? Tania datang ke apartemen, ingin menemuimu." Suara Rizal terdengar nyaring. Pasti dia begitu terkejut mendapati Tania tiba-tiba hadir di apartemen.


Malam saat di hotel, Juna sudah membaca pesan Tania yang mengabari kedatangannya. Juna tentu saja menyambut gembira kedatangan Tania. Namun, saat ini, ketika gadis yang disayanginya itu sudah berada di negara ini, semangatnya hilang. Pikirannya tersita memikirkan keberadaan Aluna.


Sebenarnya kemana Aluna? Apa selama dua hari ini dia hanya bersembunyi di kamar hotel termahal itu?


Aluna memang menghabiskan sisa waktunya di sana, tapi saat ini gadis cantik nan rapuh itu sudah berada di bandara, menunggu waktu untuk masuk ke pesawat yang akan membawanya pulang ke Indonesia.


Dia mengalah. Tidak akan mencari Juna lagi. Dia sudah mengampuni, memaafkan Juna atas apa yang terjadi malam itu.


Satu hal yang disadari Aluna, Juna berhak bahagia, dan orang yang tepat untuk memberikan kebahagiaan pada Juna adalah Tani.


***


Kepulangannya yang tiba-tiba, tanpa memberitahukan siapapun membuat Opa Jer terkejut, ketika mendapati gadis itu sudah berada di rumah.


Opa Jer memandang dalam diam, penuh selidik dari wajah cucunya, tidak ada kebahagiaan yang dia tebak sebelumnya. Opa Jer sangat yakin, pawang Aluna hanya Juna, dan ketika mereka dipertemukan, gadis itu akan kembali ceria. Tapi ini?


Apa sebenarnya yang terjadi?


"Kau sudah pulang? Kenapa begitu cepat? Bukankah liburanmu belum berakhir?"


"Aku sudah bosan di sana, Opa. Aku juga merindukanmu. Bisakah Opa memelukku?" Suara Aluna tercekat. Pria itu tidak ingin membuat cucunya menunggu lebih lama, segera menghampiri dan memeluknya erat.


"Jangan biarkan air matamu jatuh. Kau terlalu berharga untuk menangisi hal tidak penting!" seru Opa Jer seolah mengerti duka hati Aluna.


"Opa, aku ingin melanjutkan kuliahku. Bisakah Opa urus administrasinya?"

__ADS_1


__ADS_2