
Dua hari berlalu tanpa ada komunikasi sejak pertemuan Juna dengan Aluna. Terakhir terjadi perdebatan saat Juna mengantar mereka pulang ke apartemen Lingling.
Aluna minta diturunkan di tengah jalan, kerena sudah tidak sanggup lagi melihat Mei yang terus menempelkan tubuhnya pada Juna. Seharusnya, Aluna marahnya pada Mei, gadis itu yang terlalu agresif, tapi Aluna memilih jijik pada Juna karena membiarkan Mei mendekatinya tanpa ada penolakan sedikitpun.
"Kenapa turun di sini, Al?" tanya Mei menjauhkan diri dari Juna, menoleh ke belakang mencari jawaban. Ini sudah hampir jam 12 malam. Tidak lucu menurunkannya di jalanan.
"Ada yang mau aku beli. Dari sini nanti naik taksi aja, Kak, ke hotel," jawab Aluna jutek.
"Loh, kamu gak jadi nginap di apartemen?" timpal Lingling. Sudah biasanya, sih, menghadapi Aluna dengan pendiriannya yang sering berubah-ubah.
"Gak, Ling. Aku ke hotel aja, biar besok gampang packing, lusa aku mau balik," jawab Aluna dengan suara tercekat.
"Apa?" Pekik Lingling.
Tidak hanya Lingling yang kaget, Juna juga. Bahkan pria itu sudah sampai menginjak rem tiba-tiba yang buat para gadis itu terhempas ke depan.
"Ada apa, Jun?" Mei yang tadi menoleh ke belakang, menyimak percakapan Aluna dengan Lingling, mengalihkan bola matanya pada Juna.
"Ada kucing lewat," jawabnya spontan. Dia sengaja menghentikan mobil, ingin fokus mendengar alasan Aluna yang berniat pulang.
"Kamu mau balik ke indo? Kok cepat banget? Bukannya masih satu Minggu lagi?" pelit Lingling kaget. Mereka belum sempat menjelajah Jerman seperti keinginan Aluna.
"Next time aku datang lagi. Aku ada urusan, jadi harus cepat pulang," jawab Aluna melihat Juna lewat kaca spion. "Aku turun di sini aja deh," jawabnya sembari membuka pintu, tapi sigap, Juna segera mengunci pintu dari tempatnya.
"Buka!"
Juna tidak menjawab, justru kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"Kak Mei, bilang, dong, sama pacar Kakak supaya hentikan mobilnya. Aku mau turun!" Aluna sudah memasang mode marah. Tadi aja udah kesal liat pasangan itu, ditambah Juna yang seenak jidatnya mengunci otomatis pintu mobil.
"Jun," panggil Mei lembut, menyentuh lengan Juna lembut. Aluna tidak bisa memerintahkan matanya untuk mengalihkan pandangan dari gerakan Mei. Dia semakin terbakar cemburu.
"Aku seorang pria, Mei. Mana mungkin aku menurunkan gadis plin-plan di tengah jalan dini hari di tempat sepi kayak gini!"
"Apa kamu bilang? Plin-plan?" Sulut Aluna. Dadanya terbakar, Juna benar-benar memompa stok emosinya.
"Kalau bukan plin-plan, jadi apa? Tiba-tiba aja membatalkan niat nginap di apartemen, malah minta diturunkan di jalan. Aneh. Kamu bukan anak-anak lagi, dewasa lah!"
Kalau tidak malu pada Lingling dan Mei, Aluna pasti sudah menangis. Juna mempermalukan dengan ucapannya yang menyakitkan. Tega pria itu mengkritiknya di depan orang lain.
Hening. Tidak ada lagi yang buka suara. Juna mengehentikan mobilnya di depan apartemen Mei. Gadis itu turun, disusul oleh Lingling. Aluna yang belum turun karena sibuk mencari lipstiknya yang terjatuh karena Juna ngebut, membuatnya sedikit lama di dalam.
"Aku antar dia pulang," ucap Juna pada Mei lewat kaca yang sedikit diturunkannya. Aluna yang ingin turun kembali terhalau oleh pintu yang sudah dikunci kembali.
"Brengsek! Hentikan mobilnya!"
Juna masih diam, mengabaikan makian Aluna. Dia tetap fokus menyetir. Mei sempat mengatakan dimana Aluna menginap, jadi tidak perlu mempertanyakan pada gadis itu.
"Aku bilang berhenti. Kau brengsek Juna. Aku semakin membencimu. Kau ke*parat! Sialan!" Hentikan mobil ini!" jerit Aluna sembari memukuli pundak Juna.
Pria yang juga sudah habis kesabaran melihat tingkah kekanak-kanakan Aluna menginjak rem hingga Aluna terjungkal lagi.
"Tutup mulutmu! Duduk dengan tenang, atau aku akan membawa mobil ini ke jurang terjal, agar kita bisa mati bersama!" umpat Juna menoleh ke belakang. Bola matanya berkilat penuh amarah. Aluna memilih menurut. Dia tidak pernah melihat Juna tidak pernah semarah ini.
Jadi, Aluna memutuskan untuk duduk tenang. Menarik napas panjang dan menyenderkan punggungnya di sandaran jok. Memejamkan matanya. Memupuk ketenangan yang tampak dibuat-buat.
__ADS_1
Hotel tempat Aluna menginap pastinya berada di hotel bintang lima di tengah pusat kota Berlin. Sudah lima menit mobil parkir di area hotel, Aluna tidak mau membuka mulutnya agar Juna membuka pintu mobil, karena tadi dia sudah mencoba, pintu masih terkunci.
Juna memutuskan membuka pintu mobil. Dia menahan Aluna karena ingin mengajak gadis itu bicara. Namun, setelah lama berpikir, dia tidak mau jatuh ke lobang yang sama.
Dulu, dia mengemis cinta pada gadis itu, memohon untuk mau bersamanya melanjutkan pernikahan mereka, tadi kenyataannya? Aluna meninggalkannya dan lebih percaya pada ucapan Opa Jer.
Bunyi 'klik' yang didengar Aluna, menyadarkan gadis itu bahwa Juna sudah melepaskannya. Ada perasaan tidak rela untuk membuka pintu.
Dia akui, dirinya munafik. Bibirnya mengatakan benci, kenyataannya, hatinya sangat merindukan pria itu. Satu-satunya pria yang mampu membuatnya jatuh cinta hingga kewarasannya hilang.
Kepergian Juna ke Jerman membuatnya terpukul. Detik dia sadar bahwa dia seharusnya mempercayai Juna perihal uang satu milyar itu, Opa Jer justru menghalangi langkahnya. Membawanya ke suatu tempat dalam keadaan tidak sadar.
Begitu Aluna buka mata, dia berada jauh dari Jakarta, dan tidak bisa menerka dimana dia saat ini. Beberapa pelayan yang datang silih berganti mengantar makanan ke kamarnya, tidak satupun mau buka mulut saat ditanya tentang lokasi keberadaannya.
Hari berganti Minggu, lalu bulan pun berlalu, hingga Aluna merasa putus asa dikurung, membuatnya mengambil keputusan. Dia lebih memilih untuk mati dari pada berpisah dengan Juna.
Ketika keesokan harinya, pelayan yang lagi-lagi tidak dia kenal masuk membawa makanan, Aluna memecahkan gelas kaca setelah pelayan itu keluar dan mengiris nadinya.
Lama mendapatkan pertolongan karena tidak ada yang mengecek, nyawa Aluna hampir melayang. Saat dia dilarikan ke rumah sakit, beberapa dokter dibawah tekanan Opa berusaha menyelamatkan nyawanya.
"Kau sudah siuman? Kenapa kau melakukan tindakan bodoh? Untuk apa kau menghabisi nyawamu sendiri?" hardik Opa dengan mata sembab. Pria tua itu semakin tampak kusut dan kacau.
"Aku lebih baik mati, dari pada Opa memisahkan ku dengan Juna. Aku ingin mencarinya, Opa!"
"Untuk apa kau mencari pria brengsek itu? Apa kamu masih belum percaya perkataan Opa? Dia sama sekali tidak mencintaimu. Lihat ini? Dia tega mengirimkan undangan ini padamu, seminggu setelah kalian bertengkar. Opa mengurung mu karena tidak ingin kau mendatanginya, yang sama saja menghancurkan harga dirimu!"
Aluna membuka undangan berwarna putih gading itu. Ada nama Juna tersemat di sana, bersanding dengan nama Tania Kuswadi.
__ADS_1
Seketika hatinya kembali hancur. Sesak di dada dan rasanya dia ingin mengulang kembali tindakan bodohnya, menyayat nadi tangannya yang lain.