
"Kata ibu lu ke sekolah tadi jemput gua?" Akhirnya gua mengalah. Dorongan dari mana, gua juga gak tahu, cuma tahu dia punya itikad baik mau jemput gua ke sekolah, buat gua merasa gak enak hati, apa lagi dia tahu gua pergi bareng Digo.
"Jun..."
Pria itu tetap aja gak ada reaksi. Tetap aja diam, gak melepas buku dari tangannya. Aroma wangi mint yang tercium dari tubuh Juna buat gua diam, gak jadi nge gas karena dicuekin. Gak ada satu orang pun yang boleh mengabaikan gua kalau lagi ngomong.
"Lu dengar gak? Lu kenapa, sih, diam? Gua yang harusnya marah sama lu!"
"Kau mau marah? Silakan. Tapi satu hal yang aku minta darimu , kalau kamu gak bisa menghargai aku, seenggaknya hargai ibu!"
"Maksud lu apa sih? Gua gak ngerti." Suara gua melengking, sikap nyolot Juna yang tanpa alasan buat gua geram. Udah baik gua nyapa dia lebih dulu.
"Ribut lagi, Bu? Sabar ya, Bu Salma punya mantu kayak dia!"
Suara salah satu ibu-ibu yang masih ada di warung ibu membuat gua dan Juna terdiam dan saling pandang. Juna bangkit lalu menarik tangan gua masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
"Puas kamu sekarang? Bisa-bisanya kamu pulang diantar berandal itu!"
"Namanya Digo. Jaga mulut lu, ya! Jangan Sekate-kate ngatain cowok gua berandal!" Suara gua tetap meninggi, jelas gua gak terima.
Seketika mulut gua mengatup. Gua lihat wajah Juna memerah, amarahnya terasa buat kamar ini jadi panas.
"Kamu udah menguji batas kesabaran ku. Aku ini suami kamu, suka atau gak. Jadi, selama aku masih jadi suami kamu dan kamu tinggal di sini, harus ikut aturan. Apa kamu gak mikir apa pandangan orang saat kamu diantar pria itu?"
Gua jadi bengong. Takut. Baru kali ini lihat amarah di wajah Juna yang biasanya dingin dan cuek. Kalau kami suami istri yang saling mencintai, pasti gua bisa sangka dia lagi cemburu sama Digo.
"Apa kamu gak bisa nahan diri sampai lulus SMA, baru melanjutkan hubungan dengan dia? Fokus sama sekolah. Pulang sekolah harusnya kamu belajar, bukan kelayapan!"
"Suka-suka gua. Sejak kapan lu ngatur hidup gua? Apa lu gak sadar kalau ini hanya perjodohan? Lu, kan, yang bilang kalau opa akan setuju kalau kita cerai saat gua lulus sekolah?"
__ADS_1
"Kalau gitu, tahan diri kamu. Mulai sekarang aku gak izinkan kamu ketemu sama dia. Kamu belajar yang rajin, kalau kamu bisa lulus dengan nilai bagus, aku akan temui Opa dan bujuk beliau agar mengizinkan kita pisah!"
"Apa? Gua gak mau. Enak aja gua harus jaga jarak sama Digo selama itu!"
"Terserah, kalau kamu gak ikut aturanku, aku gak akan ceraikan kamu sampai kapanpun!"
Juna sudah melangkah, menuju keluar kamar, ninggalin gua yang masih bengong. Namun, baru dua langkah, belum juga sampai pintu, dia balik badan.
"Mulai malam ini, aku tidur di kamar ini. Cukup tiga Minggu ini badan aku habis digigit nyamuk. Ini kamar aku, kamu pendatang harus terima keadaan. Aku tidur di bawah, kamu tetap di ranjang, tenang aja, aku gak akan macam-macam!"
Kali ini Juna benar-benar keluar kamar. Gua mengempaskan tubuh di sisi ranjang. Kenapa sih, Juna tiba-tiba berubah. Awalnya dia gak masalah gua jalan sama Digo, kok sekarang kayak suami cemburuan, marah-marah gak jelas?
Eh, tinggi, apa tadi katanya, dia mau tidur di sini juga? Ogah! Tapi gua juga gak mau kalau tidur di luar, banyak nyamuk dan pastinya panas.
Gua amati AC yang baru seminggu lalu di pasang Juna. Itu juga karena gua rewel, ngeluh kalau di kamar ini panas. Di rumah ini hanya pakai kipas angin, bahkan di kamar ibu gak pakai apa-apa.
Pipi gua kok tiba-tiba memanas rasanya, gua jadi ingat perkataan ibu.
Ah, jantung gua kok berdetak gak karuan hanya karena ingat perkataan ibu waktu itu. Gua gak maksa, kok, buat dia pasang AC.
Kalau gua milih tidur di luar, gak ada AC, pasti gak bisa tidur. Ya udahlah, gak papa. Yang penting, kan, dia tidur di bawah.
Gua capek, dan rasanya mata gua udah sepat, lelah sekali rasanya, pengen banget rebahan dan tidur nyenyak. Apa gua kunci aja kamarnya? Eh, tapi kalau dia mendobrak pintu, ibu pasti sedih lagi dan kecewa pada gua.
Bodo amat, gua ngantuk.
***
Tidur gua rasanya nyenyak banget, gak pernah seenak ini. Tiba-tiba gua ingat kalau Juna tidur di kamar ini. Namun, saat menoleh ke sekeliling kamar, hanya ada gua.
__ADS_1
Tumpukan bantal yang di atasnya ada selimut yang sudah tapi dilipat dan di letakkan di atas meja belajar menarik perhatian gua. Di sana juga ada ambal bulu. Gua tebak, kalau Juna tidur di dekat meja belajarnya. Cukup jauh dari tempat tidur.
Mendapati hal itu, tanpa gua sadar satu senyum melengkung di bibir. Dia ternyata pria yang bisa dipegang janjinya.
Jarum jam di dinding yang menunjukkan pukul tujuh buat gua bergegas bangkit dan berlari ke kamar mandi, bertubrukan dengan ibu di ruang tengah.
"Sorry, Bu. Aku telat bangun. Kenapa Juna gak bangunin aku, sih, Bu?" gerutu gua gak terima. Saat kita tidur di ruang berbeda aja dia mau bangunin gua, ini udah satu kamar, malah ditinggal.
"Tadi udah Ibu bangunin, tapi neng Al tidurnya pulas, jadi Ibu tinggal."
"Juna mana? Iya, mas Juna maksudnya," ralat gua saat lihat bola mata ibu sedikit melotot.
"Udah berangkat. Kalian kenapa, sih? Kok ribut?" Ibu coba menyelami keadaan. "Udah, nanti aja kita ngobrol kalau begitu, kamu udah telat. Ibu buatkan bekal aja, makan di sekolah, biar gak terlambat."
Namun, harapan ibu untuk gak terlambat, gak di dengar Tuhan. Gua terlambat, sama dengan anak lainnya gua disuruh baris di lapangan.
Ini guru-guru kenapa, sih? Kok, udah pada berani menyiksa gua dengan kasih hukuman begini?
Tapi gua gak usah khawatir, guru BP pak Surya, pasti beliau gak berani kasih hukuman berat, paling juga minta gua masuk kelas. Lima menit berlalu, dan gua masih dijemur. Kita hanya ada tiga orang yang telat, dan keduanya gak gua kenal sama sekali, yang pasti dia yang kenal gua. Fokus gua memerhatikan mereka buyar saat suara bariton yang sangat akrab di telinga gua menyapa.
"Kalian siswa yang terlambat? Lari keliling lapangan lima putaran!"
Eh, tapi, kok gini? Apa-apaan ini, kenapa jadi Juna yang kasih perintah?
Kalau dua orang siswa itu sudah mulai bergerak, gua masih stay di tempat. Ogah lari-larian, keringatan, bau. Ogah, pokoknya!
"Kamu masih belum bergerak?"
"Gua gak mau keliling lapangan. Hukuman apa itu!"
__ADS_1
"Kelipatan lima menit kamu belum lari, saya naikkan putarannya!"
Brengsek! umpat gua sembari melangkahkan kaki mengikuti kedua siswa tadi.