
Aluna bergeming, tidak sedikitpun berniat mengejar Hanum yang sudah berlari keluar rumah.
Kalimat terakhir Aluna tadi pasti sudah merobek hati Hanum. Aku memutuskan untuk menggantikan Aluna mengejar Hanum. Bisa gawat kalau gadis itu sampai buka suara perihal hubungan kami.
"Hanum, Bapak mohon, kamu tunggu dulu. Kita bicara, bertiga. Ayo, Num, Bapak mohon."
Hanum terus berjalan, mengabaikan perkataan ku, hingga terpaksa aku menangkap pergelangan tangannya.
"Bapak mohon, ikut balik ke rumah!" Hanum mempertahankan penolakannya, mencoba menarik tangannya, tapi tentu saja tenaga ku lebih kuat, hingga berhasil menyeret Hanum kembali ke rumah.
Kedua sahabat itu duduk kembali saling berhadapan, dan lagi-lagi tanpa mau buka suara.
"Num, Bapak mohon kamu bisa simpan rahasia ini. Semuanya bukan seperti yang kamu bayangkan. Ada alasan yang gak bisa Bapak beritahu kenapa kami harus menikah," terang ku berharap Hanum bisa memahami posisiku.
"Juna! Ngapian kamu perlu menjelaskan sama Hanum? Terserah kalau dia mau cerita sama teman-teman lain, gua gak peduli!" Seru Aluna menaikkan sebelah alisnya, tidak ada gentar lagi, seolah rasa takut dan tekanan melebur jadi satu dan dia siap menghadapinya.
Hanum kembali memasang wajah melotot, rasa kesalnya sudah menebal bak salju yang menggelinding semakin besar.
"Al, please!" Aku pusing menengahi perdebatan di antara gadis remaja ini. Apa Aluna tidak peduli nama baiknya? Aku juga penasaran kenapa dia justru membukakan masalah ini pada Hanum.
"Kalian ini teman baik. Aku mohon kalian bicara baik-baik. Aluna, aku tahu kamu sayang pada Hanum, begitupun sebaliknya. Dinginkan kepala kalian, dan bicara selayaknya gadis yang sudah dewasa. Kalau kalian butuh waktu berdua, aku akan pergi ke luar."
"Gak usah, Pak. Bapak di sini aja. Aku juga gak butuh penjelasan. Aku percaya sama Bapak, bukan padanya. Bapak tadi bilang kalau ini hanya pernikahan yang ditentukan oleh kakeknya, dan bukan atas keinginan Bapak, maka aku akan coba mengerti. Aku juga agak akan cerita sama yang lain," jawab Hanum tegas. Dia mengambil tas tangan yang tadi diletakkan di sampingnya lalu bangkit dari duduknya.
"Num, Bapak harap, kamu bisa mengerti keadaan kami saat ini. Rahasia ini sangat penting bagi masa depan Aluna kelak."
Tatapan memohon dariku tampaknya membuat emosi Hanum mencair. Bisa ku tebak kalau saat ini yang bersarang dalam pikiran Hanum, aku adalah pria menyedihkan seperti yang dipaksa menikah dengan putri orang kaya raya dan sangat berkuasa.
__ADS_1
Terserah apa yang saat ini dipikirkan Hanum, yang penting, gadis itu sudah berjanji akan ikut menyimpan rahasia ini.
***
Sudah satu jam Hanum pergi, selama itu pula, Aluna mengurung dirinya di kamar. Sudah berulang kali ku ketuk pintu kamar yang dikunci dari dalam, tapi gadis itu tetap tidak mau membuka pintu.
Tidak banyak yang bisa aku lakukan lagi. Kadang rasa lelah muncul menghadapi sifat manja dan juga egois gadis itu, tapi aku ingat pesan Opa Jer, kalau sebenarnya sikap Aluna seperti itu terbentuk hanya untuk melindungi perasaannya yang tersakiti dan kecewa karena kepergian orang tuanya.
Dalam benak Aluna kecil, kalau orang tuanya sangat menyayanginya, dan tidak akan mungkin meninggalkannya, tapi pada kenyataannya? Kedua orang tuanya meninggal pada kecelakaan naas itu. Aluna marah pada keadaan. Dia berubah jadi gadis keras kepala yang tidak mau peduli perasaan orang lain sebagai balasan karena menganggap dunia tidak berbaik hati padanya karena merebut kedua orang tuanya.
Jemariku yang sejak tadi menari di atas nuts laptop berhenti seketika, kala mendengar suara pintu kamar yang dibuka. Aku memang memilih duduk di ruang tengah, mengambil kursi yang langsung menghadap ke depan pintu kamar kami.
"Al...."
Mata gadis itu sembab, bengkak malah. Aku yakin, selama mengurung diri di kamar, dia menghabiskan waktunya dengan menangis.
"Kenapa kamu menikahiku? Perjanjian apa yang kamu buat dengan Opa Jer?"
"Aku gak bisa menjelaskan padamu, yang pasti Opa Jer punya rencana untuk masa depanmu dan memiliki sebagai suamimu."
"Jadi, kau hanya akan menjadi suami bayanganku? Bertugas seperti apa yang diperintahkan Opa? Sebatas itu?"
Aku tidak mengerti apa tujuan perkataan Aluna, tapi aku bisa merasakan kalau saat ini hatinya perih, dan menyimpan kekecewaan padaku. Tapi, apa yang aku perbuat hingga buat dia sesedih ini? Harusnya dia berterima kasih karena aku sudah berusaha melindungi nama baiknya, memohon pada Hanum untuk tutup mulut.
Anggukan kepalaku membuat bola mata yang selama dua bulan belakangan ini selalu bersinar dan tampak sangat indah, berubah menyiratkan luka.
Aluna pun mengangguk padaku, tersenyum nanar, lalu memilih pergi ke belakang. Aku masih berkutat dalam pemikiran ku, tentang arti senyum kehancurannya itu, terdengar suara keran air.
__ADS_1
"Al mau kemana?"
Aku bangkit dan mengejar langkah Aluna yang sudah akan mencapai pintu. Aku tidak bisa membiarkan dia pergi dalam keadaan emosi seperti ini, kan?
"Kenapa? Apa gua gak bisa pergi? Gua harus izin sama lu, selaku suami boneka gua?"
Aluna kembali menjadi sosok Aluna yang dulu, memandangku penuh kebencian. Tidak ada lagi aku-kamu yang bisa dia pakai saat berbicara denganku. Dan omongannya yang mengatakan ku sebagai suami bonekanya, jelas ingin menyentil ku yang tidak punya harga diri karena sudah menerima perintah Opanya tanpa mampu menolak, dan aku yakin dalam benaknya semua itu aku lakukan demi uang.
"Bukan begitu. Kamu boleh pergi, tapi kasih tahu mau kemana?"
"Bukan urusanmu!" Bentaknya sambil kembali melangkah dengan cepat.
Segera ku tarik tangannya kembali. "Jangan gini, Al, please," bujuk ku menghadang langkahnya.
Seorang tetangga yang lewat dari depan rumah sempat melihat kami dengan tatapan penuh tanya. Biasalah tetangga komplek perumahan, selalu ingin tahu tentang permasalahan orang lain.
Kami berdua diam, sampai wanita itu jauh dari depan rumah. "Al, kita masuk dan bicara baik-baik."
"Gak perlu. Lepas, aku mau pergi!"
"Kasih tahu dulu, Al. Aku mohon, setidaknya, kamu hargai aku."
"Oh, gitu? Jadi, aku harus menghargai perasaan mu, sementara kamu gak peduli sama apa yang aku rasakan?" Suara Aluna bergetar, dan air mata menetes yang dengan kasar dihapusnya.
"Al...."
Panggilanku diabaikan, pergi membawa sakit hatinya. Aku tahu saat ini dia butuh waktu untuk sendiri, mengobati luka hati dan kecewanya.
__ADS_1
Aku akan membiarkan menenangkan diri, lalu nanti akan mencarinya. Aku percaya pada Aluna, gadis itu akan baik-baik saja, hanya butuh waktu sendiri.
"Maafkan aku Al jika aku sudah menyakiti hatimu. Maafkan aku karena sudah menyimpan perasaan untukmu tanpa mampu mengatakannya padamu. Maaf, Al!"