Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 42


__ADS_3

Setelah menjelaskan semua pada Tania, Aluna menyeret Hanum untuk pergi dari sana meninggalkan kami berdua.


Sisa waktu bersama itu, Tania mengkonfrontasi semua keterangan Aluna yang hanya bisa aku angguk.


"Aku gak tahu harus percaya atau gak. Aku butuh waktu, Jun. Biarkan aku memikirkan semuanya."


Setelahnya Tania meninggalkan ku, sebelum aku sempat mengatakan kalau dia tidak memerlukan waktu untuk memikirkannya karena lebih baik kami berpisah saja.


Saat Tania mengabarkan kepulangan dirinya dan minta bertemu di restoran itu, aku sudah memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya, tentang perasaan ku pada Aluna. Aku ingin memperjuangkan cintaku padanya.


Iya, aku tahu, kalau aku sudah janji pada Opa Jer, tapi aku kalah pada cinta Aluna. Aku tidak bisa berpisah dengan gadis itu lagi.


Namun, niatku harus tertunda. Mungkin biarlah kami bertiga penuh tenang dulu. Aku tidak punya niat untuk menjalin hubungan tidak hati. Terlebih setelah aku yakini hatiku untuk siapa.


Ini sudah hari ketiga sejak kejadian itu, dan Tania belum juga menghubungi ku. Jujur, aku tidak peduli, aku juga tidak mengharapkan. Dalam benakku saat ini, bagaimana menjelaskan pada Aluna tentang perasaan ku padanya dan keinginan ku untuk berjuang mendapatkan restu dari Opa Jer.


***


Aku pulang ke rumah dengan membawa satu misi, bicara pada Aluna. Niatnya tadi ingin pulang bareng dengan gadis itu, tapi aku lihat dia sudah lebih dulu masuk ke mobil Hanum.


Biar saja lah, nanti saat dia pulang ke rumah, aku akan bicara padanya. Namun, ditunggu punya tunggu, Aluna tidak kunjung datang.


"Kenapa udah sore Aluna belum pulang, Jun?" Tanya ibu menoleh padaku. Bosan menunggu, aku main ke warung ibu, membantu menimbang gula dan juga beras lalu mengemasnya ke dalam plastik bening.


"Aku juga gak tahu, Bu. Ponselnya juga gak aktif," jawabku singkat. Pikiranku juga lagi buntu memikirkan keberadaan Aluna. Sedang apa dan bersama siapa saat ini.


"Aduh, kamu itu sebagai suami jangan begitu. Cari sana istri kamu!" perintah ibu.


Sejujurnya, aku juga ingin mencari Aluna, tapi kemana? Dia gak mungkin mencari Digo, karena saat ini pria itu masuk penjara.


Pria brengsek itu tertangkap saat pesta sabu di apartemen temannya.

__ADS_1


"Malah bengong. Cari sana! Atau Ibu saja yang pergi?" Ancam ibu mendelik kesal padaku.


Aku masuk ke rumah dan bersiap-siap untuk berangkat, tapi suara langkah ibu bersama seseorang masuk ke ruang tamu, membuat hatiku tergerak untuk keluar mencari tahu.


Pria itu Pak Sakti, salah satu suruhan Opa Jer. Keningku seketika berkerut. Apa alasan pria bertubuh tegap itu datang ke sini? Tidak mungkin untuk silaturahmi.


"Ada apa, Bu?"


Wajah ibu yang menegang membuat ku ikut tegang. Nama pertama yang melintas dalam pikiranku adalah Aluna.


"Ada apa, Pak? Apa terjadi hal buruk pada Aluna?"


"Saya ke sini untuk mengambil barang-barang non Aluna."


Pernyataan itu singkat dan mudah dipahami. Tapi kenapa, otakku sebelah kanan sepertinya sulit untuk menerima?


"Kenapa diambil barang-barang mantu saya, Pak?" tanya ibu cemas. Aku lihat sejak tadi dia meremas jemarinya yang terlihat dan berada di atas pahanya.


Apa? Kenapa ini? Kenapa ada keputusan mendadak seperti ini tanpa mengkonfirmasi padaku terlebih dulu? Biasanya Opa Jer yang ternyata selalu memantau kami, akan mengatakan hal sekecil apapun padaku. Semisal pernah memberikan ku sejumlah uang, agar bisa kuberikan pada Aluna untuk gadis itu habiskan membeli skincare nya, tapi aku tolak karena alasan sebagai suaminya, meski hanya di atas kertas, aku akan bertanggung jawab atas kebutuhan Aluna.


"Bapak tidak sedang bercanda, kan? Bagaimana mungkin Aluna bisa pulang sementara perjanjiannya Aluna akan kembali pada Opa Jer setelah kelulusan gadis itu?" Protes ku tidak terima. Kenapa Aluna pergi sebelum aku mengatakan isi hati dan niatku yang ingin memperjuangkan hubungan kami. Menunjukkan kalau aku bukan pria plin-plan seperti yang dia tuduhkan kemarin.


"Tuan Jer mengubah keputusan itu, jika ada yang ingin dipertahankan, Anda bisa datang menemui beliau."


"Tunggu dulu. Ini maksudnya apa, Pak? Perjanjian apa?" Ku lihat ibu berganti mengamati ku dan Pak Sakti, seolah memohon agar salah satu dari kami yang mengerti keadaan ini, sudi menjelaskan pada ibu.


"Untuk hal itu, Ibu bisa langsung bertanya pada anak ibu sendiri, ataupun pada tuan Jer.


Maaf, saya akan masuk untuk mengambil barang-barang nya," ucap Pak Sakti bangkit hendak masuk ke kamar ku.


"Bapak gak perlu masuk. Biar aku yang mengepak barang-barang Aluna. Bapak cukup tinggi di sini!"

__ADS_1


Aku bangkit meninggalkan ibu dan Pak Sakti. Pikiranku semakin mumet. Apa arti semua ini? Kenapa tiba-tiba mengizinkan Aluna pulang ke rumah?


Banyak tanya yang timbul dalam benakku yang ingin aku cari kebenarannya. Kedua tanganku sibuk bekerja mengemas semua barang Aluna, sampai tanganku berhenti saat mengambil benda yang terselip dan jatuh dari dalam novel yang dibaca Aluna hampir tiap malam dan diletakkan di dekat bantal.


Aku menemukan secarik foto kami. Aku ingat itu foto box saat kami pergi nonton waktu itu. Dia bilang gak mau ngambil karena jelek, nyatanya dia menyimpannya.


Ku putuskan untuk menyimpan foto itu untuk diriku sendiri. Lalu ku seret koper berwarna pink milik Aluna ke luar.


"Ini sudah semua, Pak," ucapku menyerahkan gagang koper itu.


"Terima kasih, saya permisi dulu," sambungnya berlalu dari hadapan kami.


Aku sadar, setelah kepergian Pak Sakti akan ada muncul berbagai pertanyaan yang dilempar ibu padaku, dan satu hal yang pasti, aku tidak akan berdaya untuk menghindarinya.


"Mulailah jelaskan!" Suara ibu begitu tegas, pertanda amarahnya sudah naik.


Aku sadar kalau apa yang aku jelaskan ini pasti akan menyakiti ibuku.


"Ibu, lain waktu kita bahas. Aku harus ke rumah Opa Jer dan bicara pada beliau," ujar menanggapi permintaan ibu. Harusnya ibu mengerti kalau saat ini aku belum siap berbagi kisah.


"Sekarang! Kalau kamu masih menghargai ibumu, katakan pada Ibu semuanya. Jangan pernah mencoba membohongi Ibu!"


Aku kalah. Air mata ibu sudah turun. Inilah kelemahan ku. Jangan sampai aku melihat air mata kesedihan di mata ibuku.


"Juna!" Kali ini nadanya lebih rendah, tapi justru di situlah puncak amarahnya.


Aku mengambil tempat di samping ibu. Aku butuh kedekatan dulu, sebelum membuat ibu semakin hancur.


"Ibu tahu sendiri kalau pernikahanku dengan Aluna adalah perjodohan," ucapku membuka penjelasan.


"Lantas? To the point aja, Juna. Apa kamu mau jantung ibumu berhenti hanya karena tidak tahan menduga-duga?"

__ADS_1


"Aku dan Aluna menikah demi memenuhi keinginan Opa. Dia memintaku untuk menjaga Aluna sampai selesai sekolah dengan berkedok sebagai suami. Kami akan bercerai setelah Aluna lulus SMA, yang artinya waktunya hanya tinggal sisa satu Minggu ke depan."


__ADS_2