
"Selamat Pagi, Opa. Kebetulan kita bertemu di sini. Tadinya saya mau ke rumah Opa," sapa ku menyongsong kedatangannya.
Di balik kaca matanya, dia melihatku jengah, dan aku tidak peduli meski dia memandangku selayaknya kuman atau virus. Persoalan uang ini harus segera selesai.
"Apalagi yang ingin kau sampaikan? Bukankah kau sudah terima uangnya? Apa masih kurang? Katakan saja berapa. Akan Opa tambahi, tapi jangan pernah kamu dekati cucu Opa. Dan satu hal lagi, kamu jangan peralat ibu kamu untuk datang lagi ke rumah saya untuk mengemis-ngemis agar saya menyetujui hubungan kalian. Tidak akan pernah!"
Kali ini aku yang terkejut. Kapan ibu ke rumah mereka tanpa sepengetahuan ku? Aku ingat-ingat beberapa hari lalu ada momen ibu menghilang. Apa mungkin saat itu lah ibu pergi ke sana?
"Saya tidak pernah meminta ibu untuk datang memohon pada Opa. Tolong, Opa jangan menghina ibu saya lagi!"
"Kalian memang hina! Kalian ini keluarga miskin yang bermimpi bisa hidup kaya dengan harta saya. Ibumu dua kali datang dengan tangisan palsu, memohon agar saya menyetujui hubungan mu dengan Aluna, menjual keadaan nya yang sakit agar saya iba. Jangan menjerat cucuku dengan cinta palsu mu itu. Seharusnya kau sadar diri, kalau bukan karena kebaikan hatiku, apa mungkin kau bisa sekolah sampai strata dua? Jadi, sekali lagi Opa tegaskan, jauhi Aluna!" Opa Jer berlalu, dan aku hanya bisa menatapnya dengan penuh kebencian.
Aku terlalu marah untuk mengejarnya. Bahkan sebenarnya aku tidak sudi untuk bertemu dengannya lagi, tapi mengingat uang 1 M itu masih ada di rekeningku, langkahku berderab mengejarnya.
"Aku ingin mengembalikan uang itu. Tolong Anda berikan nomor rekening. Saya tidak sudi menerima uang Anda!"
"Tidak usah munafik. Kau membutuhkan uang itu, terima saja. Lagi pula semua itu sudah tertuang dalam kontrak. Silakan nikmati jerih payah mu. Setidaknya uang itu bisa kau gunakan menopang hidup kalian. Kau sudah tidak ada pekerjaan lagi, bukan?"
Ku tarik napasku kasar. Benar dugaanku, pria tua ini yang sudah mengatur agar aku diberhentikan.
Aku tertegun hingga hanya bisa menatap kepergiannya. Orang tua yang tidak punya hati nurani. Beruntung aku dibesarkan oleh ibu yang sangat baik, dan juga punya hati yang luas.
***
Kesialan hari itu tidak sampai disitu, ban motorku pecah, hingga harus mendorongku mencari bengkel motor terdekat.
"Mau ditambal atau diganti aja ban dalamnya, bang?"
__ADS_1
Lamunan panjangku buyar oleh pertanyaan mekanik bengkel itu.
"Ganti aja, Pak," jawab ku singkat, dan tak bergairah. Pikiranku melayang jauh. Kemiskinan membuat orang kaya seperti Opa Jer seakan punya hak untuk menghina kami.
Ibu juga entah untuk apa pergi ke sana, yang pada akhirnya buat sakit hati mendengar hinaan mereka.
Setelah ganti ban selesai, aku melaju kencang menuju rumah. Niatku pergi ke rumah Opa Jer menemui Aluna, aku batalkan. Lebih baik tidak bertemu dengan bagian keluarga Hansya.
"Kamu sudah pulang?"
Aku lihat ibu sedang duduk termenung di depan warungnya. Wajahnya seperti biasa tampak kusut dan itu membuatku semakin sedih.
Masalah demi masalah yang terjadi, semua berasal dariku dan imbasnya, harus ibu ikut bersedih hati karenanya. Aku semakin merasa bersalah. Seandainya waktu bisa ku putar kembali, aku tidak akan pernah mau mengikuti keinginan Opa Jer. Aku ditimbulkan, dan setelah semua keinginannya dia didapatkan, penghinaan yang aku terima.
"Ibu, wajah ibu sangat pucat. Aku mohon kita pergi ke dokter," aku memegang tangan ibu, menghentikan gerakannya yang sedang menimbang gula kiloan.
"Para tetangga sudah tahu kalau kau akan bercerai dengan Aluna. Mereka membicarakan ibu, dan mengatakan kalau kita bermimpi menjadi kaya dengan memikat putri jutawan," terangnya disela air mata yang berjatuhan.
Tergores lagi hatiku. Wanita yang paling ku hormati dan ku sayangi ini harus menerima cemooh dan hinaan. Selama ini dia selalu mengajarkan tentang kejujuran, dan jangan mengambil yang bukan hak, dan paling utama lakukan hal luhur, jangan semata-mata terobsesi dengan harta.
"Kenapa semua ini harus terjadi pada kita, Jun? Apa benar kata orang-orang kalau kita ini manusia serakah? Kita hanya menginginkan harta keluarga Aluna saja?" Ibu tampak kesulitan untuk menarik napasnya. Sesak di dadanya sudah sampai menjalar ke seluruh tubuh.
"Seharusnya ibu tidak perlu datang ke rumah mereka. Opa Jer adalah manusia yang tidak punya hati. Aku tidak akan pernah memaafkan pria itu. Sumpah demi apapun!"
"Ibu hanya mencoba menyelamatkan pernikahan putra Ibu, apa itu salah? Tanpa memikirkan keuntungan apapun, tidak pernah terpikirkan bisa mendapat bagian dari harta Aluna. Ibu tulus ingin melihat kalian bahagia, karena Ibu tahu kalian saling mencintai."
Pecahlah tangis ibu. Bahkan sangat keras hingga alunan tangisnya seperti belati menghujam ulu hatiku.
__ADS_1
"Ibu, aku minta maaf sudah menghancurkan hatimu. Hidup kita baik-baik saja sebelum keluarga Hansya masuk dalam dunia kita. Ini semua salahku. Aku mohon Ibu, jangan menangis. Air matamu terlalu berarti," ucapku memeluk erat ibuku. Wanita agung itu menangis di dadaku. Air matanya membasahi kemejaku.
Alam semesta sepertinya ingin bercanda dengan kami saat ini.
Mulai detik ini, aku tutup cerita sampai di sini. Aku akan membangun hidupku yang baru tanpa ada siapapun boleh masuk dari masa lalu ini. Tidak juga Aluna!
***
"Kau sudah siap?" Wajah lusuh itu semakin sendu. Keriput di garis matanya menegaskan beban hidup yang sudah dia jalani sepanjang usianya.
Ibu, aku berjanji padamu, aku hanya akan memberikan kebahagiaan padaku. Tidak akan ada lagi air mata kesedihan. Ibu, doakan anakmu ini. Aku akan berjuang, dan rasa sakit yang kita rasakan sekarang, akan ku buat jadi cambuk untuk aku jadi sukses. Tak akan ku biarkan ada orang yang akan memandang kita sebelah mata lagi.
"Sudah, Bu. Benar Ibu gak papa aku tinggal sendiri? Kenapa Ibu gak ikut saja? Aku masih punya tabungan, Bu," ucapku merangkul pundak ibuku. Kami duduk di ruang tamu, menunggu taksi yang aku pesan.
"Tidak apa-apa. Jangan khawatirkan Ibu. Lagi pula, nanti sore, Anita juga sudah sampai di sini. Syukur lah, tempat kuliah Anita dekat dengan rumah kita, jadi bisa tinggal di sini," jawab ibu.
Semua ada hikmahnya. Ketika aku meminta pada bude agar Anita, sepupuku, tinggal di rumah saja, sekalian menemani ibu, bude justru berterima kasih, karena tidak perlu membayar uang kos lagi.
"Ibu baik-baik, ya. Aku akan sering menghubungi Ibu. Jaga kesehatan, dan jangan lupa makan makanan yang sehat," ujarku lirih. Belakangan ini sudah terlalu banyak air mata yang tumpah, jangan lagi kepergian ku ini diiringi dengan air mata.
"Iya, kamu juga baik-baik di sana. Doa Ibu selalu bersamamu."
*
*
*
__ADS_1
Hai, setelah sekian lama berjuang diantara sakit yang otor derita, akhirnya, revisian selesai. Maaf sekali jadi terganggu bacanya. Kasih komen dong, ini Juna mau kemana? Bagaimana kisah cintanya dengan Aluna? Atau mungkin akan ada cinta yang baru?