Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 46


__ADS_3

Setelah demam tinggi yang menyerang ibu sepanjang malam, paginya aku membuatkan bubur untuknya dan memaksa agar mau makan.


"Ibu gak lapar, Juna," ucapnya menghalau sendok makan berisi bubur yang aku arahkan ke bibirnya.


"Makanlah, Bu, sedikit pun jadi. Biar Ibu cepat sembuh. Ada kabar gembira yang akan aku kasih tahu sama Ibu, kalau bubur habis ibu makan," ucapku menghapus pipi ibuku yang sudah banyak kerutan.


Dia lama melihat wajahku. Senyuman terbaik yang melengkung di bibirku, membuatnya ikut mengulum senyum.


Sendok pertama yang aku tawarkan ibu terima dengan baik. Hingga pada suapan ketiga, terdengar ketukan dari luar.


"Coba kamu lihat dulu, Jun, siapa yang datang," pinta ibu yang aku angguk.


Tidak terlintas dalam benak, kalau Tania lah yang datang berkunjung. Gadis itu tersenyum saat daun pintu yang menghalangi sudah aku singkirkan.


"Tania... Kamu ke sini?" pekikku pelan.


"Hai, Jun. Aku kangen."


Perkataan nyeleneh yang tiba-tiba itu buatku menelan saliva dengan berat. Apa maksud Tania mengatakan hal itu. Bukannya kami sudah bicara dan aku juga sudah terus terang padanya, tentang siapa yang kini ada di hatiku. Rasa perih di pipiku yang ditamparnya saat itu saja masih bisa ku rasakan.


Aku baru mau menanyakan tujuan dia datang, mengabaikan pernyataan rindunya, tapi tidak jadi, karena teralihkan oleh suara ibu yang batuk dari kamar.


"Itu... Ibu? Ibu lagi sakit?" tanya nya meneruskan pandangan ke arah kamar ibu. Tania sudah sering ke rumahku, jadi dia tentu ingat letak ruang di rumah ini, termasuk kamar ibu.


"Kurang enak badan. Lagi istirahat. Ini juga lagi ngasih ibu makan," ucap ku agar Tania bisa tarik diri pulang, memberi pengertian kalau saat ini aku sedang sibuk, tidak ada waktu untuk menemaninya bicara. Sebaiknya memang jangan membahas apapun lagi, biar tidak terjadi masalah.


"Aku masuk, ya. Mau lihat keadaan ibu. Lagi pula udah lama gak kemari," lanjutnya menyeruak masuk tanpa ku persilakan melewati tubuh ku di tengah jalan masuk. Tidak punya pilihan lain, aku hanya bisa mengikuti langkahnya.


"Assalamualaikum, Ibu. Apa kabar?" sapanya menerobos masuk setelah mengetuk pintu.


"Loh, neng Tania?" balas ibu yang sudah duduk bersandar di headboard ranjang.


"Kata Juna Ibu sedang sakit?"


Tania sudah duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan ibu, menunjukkan rasa prihatinnya atas keadaan ibu.


"Ibu baik-baik saja. Hanya kurang istirahat. Juna melebih-lebihkan. Kamu datang sama siapa?"

__ADS_1


"Sendiri, Bu. Oh iya, ini aku bawa, ada sedikit oleh-oleh dari Jerman."


Satu paper bag besar diletakkan di samping ibu. Selama ini Tania memang sangat peduli dan menunjukkan sikap baik pada ibu. Hal itu juga lah yang menjadi nilai tambah di hatiku, selama bersamanya. Putri konglomerat, tapi masih mau bersikap baik dan sopan pada ibu yang notabene hanya dari keluarga gak punya.


"Terima kasih, tapi ibu gak mau merepotkan kamu, Tan. Ayah ibu mu sehat?"


"Sehat, Ibu."


Aku pun meninggalkan keduanya. Biarlah mereka mengobrol, setidaknya ibu bisa terhibur dengan kedatangan Tania. Dengar saja dari tawa ibu yang terdengar lepas.


***


"Assalamualaikum..."


Panggilan seseorang dari luar membuatmu keluar dari kamar. Mungkin itu Bu Wati yang ingin menanyakan keadaan ibu. Tadi saat mampir di apotek nya untuk beli minyak cap tawon, dia sempat bertanya dan setelah mendengar penjelasan ku, dia berjanji untuk datang berkunjung melihat ibu.


"Assalamu'alaikum," ulangnya lagi hingga membuat langkahku semakin cepat.


"Wa'alaikumsalam.... Aluna, kamu kemari?" Tergagap dan susah payah menemukan lidahku kembali.


"Apa aku gak boleh masuk?"


Tak ada yang bisa ku perbuat, selain mempersilakan Aluna masuk. Kami memilih duduk di ruang tamu.


"Ibu mana?" tanya nya menoleh ke raga kamar ibu. "Lagi ada tamu?" lanjutnya menatapku.


"Itu..."


Aluna mengambil sikap. Melihat gagap yang tiba-tiba melandaku, dia memilih untuk mendatangi ibu.


"Eh, nak Aluna? Sini, Nak." Ku dengar suara ibu menyuruhnya masuk. Rasanya aku ingin sekali menghilang, karena setelah ini ku yakini akan ada perang dunia ketiga.


Baru kemarin aku mengatakan pada Aluna kalau tidak ada lagi hubungan antara diriku dan Tania, tapi sekarang, wanita itu ada di rumahku, berbincang dengan ibundaku.


Sekuat apapun aku menjelaskan pada Aluna, gadis keras kepalaku itu pasti akan sulit percaya.


Namun, demi menghindari pertengkaran di antara mereka, hanya sekadar buat berjaga-jaga, aku masuk ke kamar ibu.

__ADS_1


Ku lihat Tania dan Aluna duduk berdampingan, menatap ke arah ibu tanpa ada niat saling tegur.


"Terima kasih kalian sudah datang menjenguk Ibu. Kalau begini, kesehatan Ibu sudah cepat pulih," ucap Ibu tersenyum pada keduanya.


Aku tahu ibu hanya mencoba menenangkan keadaan meski sudah terlihat gulungan ombak dan kibasan badai yang akan menyerang.


"Tania, Aluna, terima kasih sudah datang, kalau boleh, ibu pamit untuk beristirahat. Biar Juna yang menemani kalian ngobrol, ya," lanjut ibu mendelik ke arahku.


Aku benar-benar tidak mengerti menyelami sikap wanita. Keduanya tahan saling mengunci bibir, tidak bicara sepatah kata pun.


Ku lihat keduanya serentak mengangguk, lalu keluar dari kamar ibu setelah mencium punggung tangannya.


"Kalian duduk dulu, aku buatkan minum." Ku tinggalkan keduanya di ruang tamu, sembari berdoa, semoga tidak ada barang yang mereka hancurkan atau saling baku hantam di sana.


Sengaja aku berlama-lama di dapur, berharap mereka saling ngobrol.


Namun, betapa terkejutnya aku, kembali ke ruang tamu tanpa menemukan siapapun. Ku letakkan nampan di atas meja, lalu bergegas ke luar rumah, tidak ada lagi jejak keduanya.


Apa mungkin mereka kembali ke kamar ibu? Nyatanya tidak ada setelah aku mengecek. Hanya ada ibu yang berpura-pura tidur.


"Bu, apa Tania dan Aluna pamit pulang pada Ibu?"


Mengetahui watak anaknya yang tidak akan mungkin mau menyerah sebelum mendapatkan jawaban, ibu akhirnya bangun dan kembali duduk.


"Tidak ada yang permisi pada ibu. Tapi, berhubungan karena mereka sudah pulang, Ibu ingin bicara dengan mu!"


Niat hati ingin mencari Aluna, akhirnya ku batalkan. Ibu lagi kurang sehat, jangan sampai penolakan ku buatnya kembali sakit.


"Ada apa, Bu?"


"Ibu minta kamu tentukan sikap. Jangan pernah pasang dua wanita dalam hidupmu. Jangan karena mereka mencintaimu, buat alasan untukmu mempermainkan mereka!"


"Aku gak punya niat untuk mempermainkan siapapun. Aku tulus dan serius mencintai Aluna. Dan aku juga sudah pernah bicara pada Tania, Bu. Aku jujur padanya kalau hubungan kami tidak bisa dilanjutkan lagi, karena ada gadis lain yang aku cintai."


"Lantas, kenapa bisa keduanya muncul bersamaan di sini? Putuskan pilihanmu, Juna. Kau ingin bersama Tania atau Aluna?"


"Hanya ada Aluna dalam hatiku, Bu. Aku mencintai Aluna. Sangat."

__ADS_1


__ADS_2