Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 17


__ADS_3

"Apa yang gua ceritakan itu benar, Al. Sedikitpun gak ada kebohongan di sana!" Tegas Digo, menggenggam tangan gua. Dia memaksa gua menatap matanya saat menjelaskan semua alasan kenapa dia menjauh dan gak nyariin gua selama ini.


Gua masih diam. Otak gua yang gak pintar-pintar amat, kini terasa semakin tumpul. Gua cuma bisa bengong sambil mendengarkan suara Digo yang memang selama ini gua rindukan.


Ada yang mau nge-judge gua lemah? Disakiti, dihina, terus gampang aja gitu memaafkan? Silakan!


Asal tahu aja, gua juga gak ngerti kenapa di depan anak ini gua lemah. Namun, gua mohon, mengertilah, cinta pertama itu sulit untuk dilupakan. Ungkapan first love never die, itu kayaknya benar.


Ternyata gua masih cinta sama Digo. Se-sayang itu sama dia. Mau aja memaafkan pria itu dalam sekali penjelasan.


"Terus, gimana nanti kalau Opa cariin kamu?"


"Aku gak akan takut lagi, gak akan sembunyi, asal kamu tetap bersamaku, kita berdua berjuang bersama memperjuangkan cinta kita."


Kan, gua jadi kehabisan kata-kata lagi. Se-cinta itu gua sama Digo. Hati gua luluh dan akhirnya mengangguk.


Setelah ngobrol panjang lebar, kita pergi nonton. Perasaan gua plong. Se-sayang ini ternyata gua sama dia.


Satu hal lagi, gua ngerasa nyaman jalan sama Digo, karena gua gak perlu menyembunyikan keadaan gua saat ini yang udah jatuh miskin. Digo tahu, kok kalau saat ini Opa mencabut uang bulanan gua.


"Sorry, ya, Go, jadi kamu yang bayarin semuanya," kata gua merasa gak enak hati. Biasanya semua pengeluaran kita nge-date, pasti gua yang talangi semua.


"Gak papa, Sayang. Duit aku kan duit kamu juga."


Duh, so sweet banget cowok gua. Gimana gua gak klepek-klepek sama Digo coba.


Film yang kita tonton berakhir. Baik gua sama Digo, emang gak suka film romantis, kita nyebutnya film alay. Pilihan kita lebih ke action, sih.


"Kita ke basecamp, ya?" pinta Digo saat kita keluar dari gedung bioskop, sedikit berdesakan melewati pintu karena banyak juga orang yang keluar, dan juga yang baru mau masuk gedung.


Gua lirik jam di pergelangan tangan gua. Kepala mini mouse menunjukkan angka tujuh. Di luar juga udah gelap banget.


Harusnya gua senang diajak Digo ke basecamp, pasalnya gua juga kangen, cuma ya itu, kenapa hati gua jadi gelisah, ya?


Kok wajah Juna muncul dalam pikiran gua? Belum lagi wajah ibu. Duh, kok, makin lama gua makin merasa bersalah gini?

__ADS_1


"Mmm, udah malam banget. Lain kali aja ya, gak enak sama ibu." Gua menggigit bibir bawah, sedikit takut karena menolak permintaan Digo, apa lagi karena kita baru aja baikan.


"Ibu?" Kening Digo terlihat berkerut, seperti ragu, siapa tahu dia salah dengar.


"Mer-mertuaku."


Gua lihat wajahnya berubah. Bisa gua tebak, kalau dia gak suka dengan penolakan gua, terlebih saat gua panggil ibu pada ibunya Juna.


"Jadi, kamu mau pulang?"


Gerakan lemah, gua anggukan kepala. Dalam hati berharap Digo gak marah sama gua.


"Ya sudah, kita pulang!"


***


Digo ngantar gua sampe depan gerbang. Pintu rumah tertutup, tapi warung ibu masih terbuka dan ada beberapa ibu-ibu komplek yang duduk di depan warung, ngobrol dengan ibu sembari mengunyah kerupuk .


Pandangan mata mereka tertuju pada kita berdua. Gua jadi merasa gak enak hati sama ibu. "Makasih ya, Go, udah nganterin pulang," ucap gua berharap pria itu segera pergi, agar tatapan tajam para ibu-ibu kepo segera terputus.


Anggukkan ku tampak ragu. Aku merasa semua pasang mata menyorot ku saat ini.


Langkahku sangat berat, pengen banget balik kiri dan pergi lagi, tapi gak mungkin, selain gak punya tujuan lain, aku juga gak punya uang.


"Malam, Bu," ucap gua pada semua yang ada di sana. Suara gua terdengar pelan, kikuk dan tercekat.


"Loh, baru pulang, Neng? Malam benar. Masa iya anak sekolah pulang hampir jam 8 malam." Salah satu ibu yang memiliki tahi lalat di bawah bibirnya mulai menguliti ku dengan tatapan ingin tahu.


"Iya, dari mana aja, nih? Masa udah jadi istri kelayapan kayak masih singel aja," sambung wanita yang lain.


Wajah gua semakin memerah. Kesal banget sama ibu-ibu rempong yang suka kepo ini. Pengen banget rasanya bibir mereka gua sulam.


"Eh, Al, gak baik pulang larut begini, apa lagi diantar cowok. Bisa jadi fitnah. Lagian kamu itu istri orang, masa mau aja diboncengi sama laki-laki lain, yang ada nanti berkedok sebagai sahabat, gak taunya malah pacaran!"


Wajahku semakin merah padam. Tuduhan ibu yang ketiga itu nyatanya benar. Gua memang pacaran lagi sama Digo. Aneh, kok melihat wajah dan tatapan ibu yang sedih buatku menyesal sudah bertemu dengan Digo hari ini.

__ADS_1


"Kamu baru pulang?" Akhirnya ibu mengeluarkan suara. Dia bangkit mendatangiku. "Kamu segera makan dulu ya, biar ibu panaskan air buat mandian kamu. Siap makan, baru mandi."


Duh, air mata gua mau turun. Rasanya bersalah banget sama ibu. Dengan lembur ibu mengajak ku masuk.


Baru selangkah, salah satu netizen julid tadi nyeletuk lagi. "Nanti bunting, dibilang anak Juna, padahal anak selingkuhannya. Memang beda anak orang kaya, kurang beretika. Gak paham apa, kalau suaminya itu guru?"


Wanita itu mungkin mengatakan dengan berbisik, tapi nyatanya terdengar jelas di telinga gua dan pasti ibu juga dengar.


Juna baru keluar dari kamar saat gua dan ibu masuk ke rumah. Pandangan kita sempat berlaga, lalu Juna membuang muka, masuk ke dapur.


Perasaan gua bilang, dia marah sama gua, tapi kenapa?


Kenapa sih hari ini semua orang tampak menyebalkan? Gua salah apa, sih?


"Ayo, makan." Ibu mengagetkan, spontan tatapan gua yang sejak tadi terarah mengikuti langkah Juna hingga punggung itu menghilang, beralih pada ibu.


Beberapa jenis makanan sudah terhidang di atas meja. Makanan yang sama, yang setiap hari gua makan dan gua akui enak.


"Aku gak makan, Bu. Udah makan tadi di luar."


Lagi-lagi gua mengutuk kebodohan gua yang sudah menyakiti hati ibu dengan ucapan itu. Wajah ibu semakin sendu meski dia berusaha untuk tersenyum. Samar ibu hanya mengangguk, lalu pergi ke dapur.


Gua merasa jadi orang paling jahat sedunia. Tunggu dulu, lebih gua susul ibu yang ingin nyiapin air panas.


"Bu, gak usah, aku mandi pakai air dingin aja." Gua berdiri di ambang pintu dapur, meminta perhatian ibu yang akan menyalakan kompor.


Juna menoleh ke arah ibu, lalu melewati gua menuju ruang depan. Gak terima gua diabaikan. Harusnya gua yang marah karena kemarin malam dia ingkar janji, gak jadi ngajarin gua belajar.


"Mandi, Neng. Nanti masuk angin."


"Iya, Bu. Hari gerah, gak papa pakai air dingin aja, biar segar. Bu, Juna... Mas Juna, udah lama pulang?" tanya gua asal. Tumben jam segini udah di rumah.


"Tadi siang pergi ke sekolah jemput neng Al, tapi katanya udah dijemput sama teman, terus dia balik ke rumah. Sorry pergi lagi, katanya mau nyari Neng, tapi gak ketemu."


Jadi, Juna lihat gua dijemput Digo?

__ADS_1


__ADS_2