Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 34


__ADS_3

Perjalanan yang ku lalui dengan Aluna sore ini menuju rumah seperti melewati kuburan, sangat horor dan menakutkan. Aluna menutup mulutnya mulai dari keluar dari rumah sakit sampai ke rumah.


Selepas makan siang tadi, Opa meminta kami pulang, karena beliau juga sudah memaksa dokter untuk mengizinkannya pulang. Tidak ada yang bisa membantah kalau Opa Jernal sudah angkat bicara.


"Aku gak mau pulang, Opa. Aku mau di sini, temani Opa, jaga Opa," rengek Aluna. Aku hanya bisa mingkem sembari memperhatikan kemanjaan Aluna.


"Pulang saja. Opa juga sudah mau pulang, kok!"


"Kalau gitu, biar aku ikut sama Opa pulang. Boleh, ya?" Aluna masih berusaha. Aku menilai, mungkin Aluna memang sudah sangat ingin pulang, terlalu menyiksa untuk tinggal bersamaku di rumah itu.


Aku bisa memaklumi karena sejak dulu dia tinggal di rumah mewah, semua serba ada dan selalu dilayani.


"Gak bisa. Kamu harus pulang ke rumah suamimu. Tempatmu adalah dimana suami mu berada," tegas Opa yang sama sekali tidak mempan dengan air mata kesedihan Aluna.


Lelah berupaya, Aluna kembali menerima takdirnya. Dia pulang bersamaku dengan wajah kesal dan lihat saja sampai sekarang tidak mau bicara denganku.


"Udah sampai, Al," ucapku setelah memastikan mesin motor. Aluna tak menjawab. Aku berusaha menoleh, tapi tak bisa, beban berat bertumpu di punggung ku.


"Kamu tidur, Al?" tanyanya lebih pada diriku sendiri. Mana mungkin ada jawaban, gadis itu terlelap dengan damainya.


Perlahan aku turun setelah menjatuhkan standar motor. Tidak punya pilihan lain selain menggendong Aluna ke dalam rumah.


"Baru pulang, Nak Juna?" Sapaan Bu Wati membuatku urung menggendong Aluna.


"Iya, Bu," jawabku tersenyum. Bukan pencitraan, tapi aku memang terkenal sopan di kampung ini. Tidak banyak bicara, tapi tetap pria idaman yang sopan.


"Bu Salma juga belum pulang dari Malang?"


"Lusa, Bu. Masih ada keperluan di sana," ucap Juna berharap basa-basi ini selesai. Saat sang ibu berlalu, secepat kilat aku menggendong Aluna ke rumah.


"Kamu mau apa?" Aluna mawas diri, segera duduk, mengabaikan sisa kantuknya.


"Cuma membaringkan kamu. Tadi ketiduran di motor."


"Keluar, gih. Aku mau tidur!" Tanpa belas kasih, Aluna mengusirku dan kembali berbaring. Kali ini memiringkan tubuhnya, memunggungi ku dengan cepat.


Ada yang bilang susah menyelami pikiran seorang wanita. Pernyataan itu nyatanya benar adanya, terlebih jika wanita itu masih masih pra dewasa.


Baru kemarin kami jalan, nonton bahkan seperti yang aku katakan tadi, berciuman, dan gak ada masalah apapun. Bahkan setelah kejadian tak terduga itu, kami masih berkomunikasi dengan baik, meski ada sedikit rasa canggung. Lantas, kenapa dia jadi jutek padaku?

__ADS_1


***


Sisa waktu sebelum malam menyapa, aku terus memikirkan penyebar Aluna kesal. Bukannya seharusnya dia merasa malu-malu kucing padaku, atas apa yang sudah kami lakukan saat di studio bioskop kemarin?


Aku aja sampai saat ini masih canggung kalau harus bersitatap dengan matanya.


"Junaaaaaaa!"


Teriakan nyaring dari kamar Aluna membuatku tersentak, segera bangkit menuju kamar, tapi karena lupa mematikan tv, aku kembali, hanya memutar satu langkah kaki, setelah beres, aku kembali ke kamar.


"Ada apa, Al? Kecoa, ya?" Bergegas meneliti setiap sudut kamar, apakah makhluk menjijikkan berwarna kecoklatan emas itu ada di kamarku. Padahal aku begitu rajin membersihkan kamar.


"Kamu ngapain?"


Aluna sudah duduk di tepi ranjang dengan wajah kusut dan menahan sakit. Tangannya menekan sisi perutnya, merasakan sakit yang luar biasa.


"Kamu kenapa?" kataku panik. Serius, aku benar-benar panik kalau terjadi hal buruk pada Aluna, terlebih karen gak ada ibu, dan kemampuanku yang sangat rendah dalam bidang kesehatan.


"Perutku sakit, melilit. Rasanya aku sampai sesak bernapas," lanjutnya, kali ini dia merasa kikuk setelah berhasil melihat ke dalam netraku.


"Aku ambilkan minyak." Langkah seribu aku pergi menuju meja hiasnya.


"Ini," kataku sembari menyerahkan minta telon baby.


"Aku lagi datang bulan, pembalut yang biasa ku pake dak ada lagi. Jadi, tolong beliin di depan. Aku mau ganti, kayaknya udah banyak!"


"Hah? Pembalut? Masa iya, sih, aku diminta beli pembalut ke warung?" Cuma memastikan, siapa tahu Aluna hanya bercanda.


"Jadi, kamu gak mau? Aku lagi dapat bulan."


Aku masih diam dan menimbang sesuatu. Aku bisa mati kalau harus diminta beli ke Indomart siang ini. Agak lain lah dilihat orang kalau seorang pria belanja pembalut, tapi untuk menolak permintaan Aluna juga aku gak tega. Serba salah banget jadi pria dalam posisi seperti ini.


"Mua, iya... iya... Aku pergi."


***


"Maaf, Mas, sedang cari apa?" Seorang pramuniaga toko itu mendekatiku, setelah sejak tadi mengamati ku yang hanya berdiri mematung di depan rak, memandangi berbagai merk pembalut yang ada di depanku, tanpa mengambil satu pun.


"Maaf, Mbak. Saya mau beli..." Aku gak sanggup meneruskan kalimatku. Rasa malu menjalar hingga membuat pipiku terasa panas.

__ADS_1


Namun, syukurnya wanita itu mengerti tanpa harus aku katakan secara gamblang. Hanya senyum samar di bibirnya sedikit membuat ku terganggu, merasa akulah yang membuatnya tersenyum geli seperti itu.


"Biasanya istri Mas pakai yang tipis apa tebal? Bersayap atau yang biasa?"


Ck! Mampus gua. Ada-ada aja, sih. Pembalut aja banyak jenis dan bentuknya segala! Apa katanya tadi, pakai sayap? Memangnya mau terbang?


"Mmm... Saya gak tahu, Mbak."


"Pakai merk apa, Mas?"


Aku pun menggeleng lemah. Apa iya, seorang suami harus tahu merk pembalut yang dipakai sang istri?


"Kalau begitu, saya rekomendasikan ini," jawabnya sambil mengambil satu merk pembalut dengan bungkus berwarna orange.


Sejenak aku membaca, lalu mengangguk tanda memutuskan untuk mengambil merk yang ditawarkannya. Segera membayar lalu ku bawa pulang.


"Aku beli yang ini, Al," tukas ku menyerahkan bungkusan yang sejak tadi aku bawa.


"Kok, cuma ini?" Aluna menengadah ke arah ku. Lah, aku mana tahu. Memangnya apa lagi? Bukannya tadi dia nyuruh cuma beli pembalut?


"Hah? Memangnya tadi nitip apa lagi?"


"Mana Kiran*ti nya?"


Hah? Apa lagi itu? Kayaknya tadi gadis ini gak ada bilang harus beli benda yang disebutkannya itu.


"Kamu cuma suruh beli ini, Al. Gak ada minta beli apa tadi itu..."


"Harusnya gak usah harus dibilang, kamu tahu!"


Lah, gimana ceritanya? Demi Neptunus, aku bukan dewa atau manusia jadi-jadian yang sewaktu-waktu bisa berubah jadi wanita. Aku mana tahu apa yang wanita butuhkan pada saat mereka datang bulan.


"Al, aku kan gak pernah jadi cewek, mana aku tahu apa yang dibutuhkan para wanita kala saat datang bulan," jawabku coba membela diri.


"Dih! Gak peka banget. Gak kasihan apa, perut aku lagi sakit, nih!"


"Ya udah, aku minta maaf," jawabku tidak ingin mendebat. Berdiri tegak di depannya.


"Kok masih belum gerak? Buruan beli."

__ADS_1


__ADS_2