
Aku masih merasakan sakit di kulit tanganku atas tindakan 'kekerasan' yang dilakukan Aluna, menancapkan kuku tajamnya agar aku mau melepaskan tangan dari pinggangnya.
"Aku akan melepaskan, asal kamu janji kita ngomong dulu. Aku mohon Al, sebentar aja."
Aluna menatapku kesal, tapi akhirnya luluh. Itu lah Aluna yang aku kenal, walau jutek, sebenarnya memiliki perasaan tidak tega.
Kami kembali duduk. Hanum yang tawa diri, memberi kami kesempatan dan meninggalkan kami berdua.
Sempat terdengar suara Hanum, saat keluar menjelaskan pada pengunjung yang tadi melihat kami dengan tatapan heran karena ada sedikit berdrama saat aku memeluk pinggang Aluna.
"Maklumi aja Mbak, Mas, keduanya saling mencintai tapi lagi salah paham, bertengkar deh. Cuekin aja mereka," ucap Hanum tersenyum, lalu keluar dari cafe.
"Ayo, ngomong! Katanya mau bicara!" tegur Aluna mendorong punggungnya ke sandaran sofa, menatap jengah padaku sembari melipat tangan di dada. Rasa tidak sabar jelas terlihat.
Ditatap horor begitu, tentu sedikit nyaliku ciut. Tapi aku sadar kalau tidak sekarang, aku tidak akan punya waktu lagi.
"Aku cuma mau bilang, aku gak bisa kehilangan kamu. Apa kita akan berpisah, Al? Apa semua ini akan berakhir?" tanyaku setelah mengumpulkan semua keberanian ku.
Kenapa aku begitu lemah terhadap cinta Aluna? Seperti tidak akan mampu bertahan jika berpisah dengan gadis itu.
"Kamu sadar gak apa yang kamu ucapkan?" Antara tidak percaya dan juga kesal saat mendengar ucapanku, suara Aluna naik satu oktaf.
"Aku sadar, Al. Sangat sadar."
"Kamu brengsek Juna! Ngapain kamu ngomong begini sekarang? Selama ini kamu kemana aja? Lagi pula apa kamu pikir aku percaya? Aku salah menilai mu. Aku pikir kamu pria baik-baik, kenyataan? Tidak hanya menunjukkan sikap lembut padaku, tapi juga pada Tania dan Bu Iren! Kamu benar-benar pria brengsek!" Aluna begitu marah, mungkin dia ingat kembali peristiwa di ruang guru waktu itu.
"Kamu salah paham, Sayang. Aku sama sekali gak ada hubungan apapun dengan Iren, dan masalah Tania, aku sudah menjelaskan padanya isi hatiku yang sebenarnya. Jujur, aku salah, tidak jujur dari awal padanya. Tapi yang pasti, saat ini wanita yang aku cintai adalah kamu. Hanya kamu seorang," ucapnya lembut, menarik tangan Aluna untuk aku genggam jemarinya. Ucapan kata sayang pun begitu saja mengalir dari bibirku.
Benar, aku sangat menyayanginya. Sangat. Bahkan dalam tiap tarikan napasku, hanya dia yang aku ingat, hanya dia yang aku inginkan.
__ADS_1
Dia menunduk, tapi dengan tidak menarik jemarinya, kau tahu kalau saat ini dia sudah mulai membuka diri padaku.
"Maafkan aku selama ini tidak mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya padamu. Aku bingung harus mengatakan apa, karena sudah terlanjur berjanji pada Opa untuk menjaga kamu tetap gadis selama jadi istriku, dan jangan pernah main hati dengan mu. Tapi kenyataan, aku gak bisa, Al. Semakin aku coba melupakanmu, semakin besar dorong untuk mencarimu."
"Aku mohon, bicara padaku, Al."
Aluna diam sejak tadi, padahal sudah banyak yang aku katakan padanya. Semua isi hatiku kini bisa dia ketahui jelas.
"Aku takut terluka lagi," desisnya begitu pelan. Dia menunduk, tapi tidak lama, aku menangkap satu bulir bening jatuh di punggung tangannya.
"Al, kamu nangis, Sayang?" Aku menangkup dagunya, mengangkat wajahnya agar bisa aku lihat.
Bola mata bening dan indah itu, ditutupi cairan kesedihan. Sejahat itu kan aku melukai perasaan gadis yang aku cintai ini?
"Sayang, maafkan aku, kalau kau menangis karena ku," ucapku menarik kepala Aluna mendekap di dadaku.
***
Perjuangkan cintamu dengan ketulusan hati, maka kau akan bisa meraihnya. Berkat kalimat yang aku baca disalah blok di media sosial, membuatku punya kepercayaan diri untuk kembali merebut hati Aluna sekaligus membuktikan keseriusanku.
Aluna sudah memberiku kesempatan. Setelah puas menumpahkan air mata kami bicara lagi. Kali ini penuh dengan ungkapan sayang pada dirinya, dan dia bertanya apa langkah yang akan ku ambil untuk membuktikan keseriusan ku.
"Kamu tahu sendiri Opa gimana. Dia gak akan mengizinkan kita bersama. Menentang semua usahamu, dan tidak melepaskanmu karena sudah melanggar isi perjanjian konyol kalian itu!" cibirnya memandangku kesal.
Mood anak gadis zaman sekarang sangat labil. Sebentar Aluna akan memandangku dengan penuh cinta, tapi sedikit saja ada beban pikirannya, maka dia akan memandang kesal padaku.
"Aku akan bicara pada Opa Jer. Akan mendatanginya, menyampaikan kalau aku tidak mau berpisah denganmu. Aku jatuh cinta pada istri ku sendiri, dan tidak siapapun yang bisa memisahkan kita. Kamu mau, kan, berjuang bersama ku?"
Aluna mengangguk dan ku rangkul pundaknya. Ku cium puncak kepala penuh sayang. Dalam hatiku aku memanjatnya doa, agar yang kuasa mengizinkan aku ingin berjodoh dengannya.
__ADS_1
Penuh perasaan lega, kami keluar dari cafe itu. Diskusi itu bisa kami lalui dengan baik tanpa ada barang-barang di cafe itu yang hancur.
Aku mengantar Aluna pulang dengan motor kesayangan ku yang cicilannya masih ada enam bulan lagi.
Ah, rasanya sangat indah, bisa melaju di jalan raya, melintasi jalanan dengan tangannya yang ku genggam erat, hingga Aluna memelukku hanya dengan satu tangannya yang tersisa.
"Besok aja kamu datang dan bicara pada Opa. Aku lihat dulu suasana hati Opa. Aku takut dia emosi hingga jatuh sakit kayak dulu," ucap Aluna setelah turun dari motor. Dia tahu kalau aku juga berniat masuk.
Perkataan Aluna ada benarnya. Kami juga harus memperhatikan kesehatan Opa. Jangan karena ingin hubungan kami direstui, hingga egois tidak peduli pada Opa Jer.
"Aku ikut aja, Sayang. Aku tunggu kabar baik darimu," ucap ku lembut, mengelus pipi Aluna lalu membantunya membuka helm.
***
Aku melajukan motorku dengan kecepatan tinggi. Tidak sabar lagi rasanya untuk bercerita pada ibu. Bisa ku bayangkan bagaimana gembiranya wajah ibu nantinya.
Namun, lagi-lagi aku dibuat bingung. Ibuku tidak ada di rumah. Kemana lagi ibu pergi? Walau tidak tenang, aku memutuskan untuk menunggu kepulangannya.
Kali ini sedikit lama hingga aku merasa sangat khawatir. Bukan satu jam, kali ini hampir tiga jam ibu belum kembali. Aku yang merasa lelah, ketiduran di sofa. Begitu suara adzan berkumandang, aku terbangun, dan melirik jam di pergelangan tangan ku. Pukul tiga lewat tiga puluh menit.
Bergegas aku beranjak mencari ke semua ruangan, tetap tidak menemukan ibu. Begitu aku keluar teras, lagi-lagi terkejut, ibu sudah pulang.
"Ibu dari mana aja? Aku khawatir sama Ibu," ucapkan memeluk ibu.
"Lepaskan Ibu. Kau memeluk terlalu erat!" umpatnya sembari melerai pelukanku.
Aku menurut, ku tatap wajah sendunya. "Iya, tapi Ibu dimana pergi berjam-jam. Aku khawatir dengan keselamatan Ibu. Sudah coba hubungi, tapi gak dijawab," protes ku mengutarakan kekhawatiran ku.
"Jangan khawatirkan ibu, Khawatirkan saja rumah tanggamu," balasnya ketus, lalu mengambil arah lain untuk masuk ke rumah.
__ADS_1