Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 59


__ADS_3

Tidak ada yang abadi di dunia, sekalipun rahasia yang coba disembunyikan oleh manusia...


Waktu berlalu cepat. Hembusan angin membawa kenangan silih berganti. Ada yang layak dikenang, tak sedikit harus dibuang.


Empat tahun berlalu...


Aluna menata kehidupannya. Mencoba melakukan hal baik yang bisa dia persembahkan bagi Opa Jer, setelah sekian lama hanya ada kesedihan yang menemani masa tua pria itu yang semakin renta.


Hari ini, Aluna mempersembahkan gelar sarjananya untuk sang kakek. Meski terlambat dan memakan waktu yang lama karena cuti dan gak jarang memang enggan untuk menyelesaikannya, pada akhirnya Aluna mampu menyelesaikan perjuangannya.


"Ini, kamu harus minum. Kamu harus jaga kesehatanmu." Seorang pemuda berdiri di hadapannya, setelah berhasil mendapatkan sebotol air mineral.


Opa Jer sudah berada di mobil menunggu mereka. Begitu acara wisuda selesai, Opa Jer bergegas masuk ke mobil, sementara Aluna ditarik oleh teman-temannya untuk melakukan sesi foto bersama.


"Makasih, Mas," jawab Aluna menerima botol itu, lalu meminum setengah dari isinya. Terasa sejuk mengaliri kerongkongannya yang sejak tadi terasa kering.


"Loh, mobil Opa mana?"


"Sudah lebih dulu pergi ke restoran. Tahu sendiri gimana gak sabarannya Dewa. Dia bosan, lapar, jadi minta Opa untuk tidak menunggu lagi," terang pria bernama Dimas, pria yang setiap saat selalu berada di sisi Aluna.


"Kamu juga pasti udah sangat lapar, kan, mas? Kita nyusul mereka."


***


"Kenapa Mama dan Papa lama sekali?" rengek anak kecil yang duduk di sebelah Opa Jer.


"Sorry, tadi ada hal yang harus Mama urus. Udah pesan makan?" Kalimat terakhirnya lebih pada Opa. Aluna duduk di dekat bocah itu. Penuh gemas melihat wajah cemberutnya, Aluna mencium pipi Dewa, lalu mengacak rambut lurusnya yang hitam.


"Mamaaaa..." rajuk nya lagi. Dewa tidak pernah suka kalau Aluna mengacak sayang rambut anak itu. Kalau menurut Dewa, itu akan membuatnya terlihat tidak macho.


Bahkan di sekolah, setiap Aluna minta cium seusai mengantar sampai gerbang, Dewa akan dengan sangat tegas menolak.


"Aku udah besar Mama. Jangan cium!"

__ADS_1


Kalau sudah begitu, Aluna hanya tertawa dengan riang.


Dewa menjadi anak yang introvert, cenderung sesukanya. Melakukan apapun yang dia mau, dan sangat keras kepala.


Semua itu tidak lepas karena Opa dan juga Dimas memanjakannya, dan tidak ada satupun yang berani memarahinya.


"Boleh saja sayang, tapi jangan terlalu menuruti apa kemauan anak kecil!" seru Aluna setiap memarahi Dewa tapi selalu saja ditengahi oleh Opa Jer.


"Kamu boleh melahirkan dia, tapi Opa adalah kakek buyutnya. Dia pewaris Hansya!"


Perdebatan tidak akan pernah berakhir dengan kemenangan di tangan Aluna, jadi dia memutuskan untuk meninggalkan anak itu bersama Opa.


Dewa menyantap makannya dengan yg tergesa-gesa, meskipun sudah diingatkan berulang kali oleh Aluna, agar lebih tenang.


"Ada play land di samping, aku mau main ke sana, Mama," jawabnya membersihkan tenggorokan dengan menghabiskan air mineral dalam botol kaca.


"Biarkan saja. Dia jagoan, lagi pula sangat dekat, tepat di samping restoran ini. Biarkan dia bebas," ucap Opa menengahi perdebatan ibu dan anak itu. Dimas hanya mengangguk pada Aluna, meminta gadis itu mematuhi.


"Ingat, Dewa, jangan lompat-lompat atau memanjat. Main yang benar, ya." Dimas menasehati Dewa agar lebih tenang saat bermain.


***


"Terima kasih untuk kerja samanya. Semoga semua isi perjanjian ini bisa kita jalankan dan tentu saja mendapatkan keuntungan yang besar," ucap Juna menyambut tangan pria keturunan Jepang yang sudah jadi pengusaha besar di Indo, dan kini menawarkan kerja sama pada perusahaan yang saat ini dipimpin Juna.


Sudah tiga bulan, Juna kembali ke Indo. Dia ditugaskan untuk membawahi anak perusahaan tempatnya bekerja di Jerman beberapa tahun ini dan sekarang mendirikan salah satu perusahaannya di negeri ini.


Setelah bersalaman, Juna segera berlalu dari tempat itu. Berjalan menyelusuri koridor restoran mewah itu, karena memang tempat mereka meeting tadi adalah ruangan khusus yang diperuntukkan pada para pengusaha yang menggelar pertemuan bisnis di sana.


Saat berada di lantai dua, berjalan melewati toko-toko di sana, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang anak kecil yang berlari kencang ke arahnya dan tak terkendali lagi menabrak tubuhnya.


"Hei, Boy. Ada apa ini? Kenapa kau terlihat ketakutan?"


"Aku.... Aku kehilangan Mama dan Papaku, Om. Aku gak tahu harus kemana," jawab Dewa dengan derai air mata yang turun, tapi dengan cepat dia bersihkan. Baginya hanya anak lemah yang menangis, dan dia tidak lemah.

__ADS_1


"Memangnya tadi ayah dan ibu mu dimana?"


"Seingatku kami makan di restoran seperti ini?" ucapnya menunjuk resto ramen yang terkenal di tempat itu. "Tapi, mereka gak ada. Mereka pergi tanpa membawaku." Dewa tidak bisa menahan kesedihannya. Air matanya merembes.


"Hei, kau jagoan, bukan? Jangan menangis, kita akan menemukan orang tuamu."


Satu persatu restoran yang ada di mall itu mereka datangi. Dewa meneliti satu persatu tamu yang datang, tapi tetap tidak menemukan orang tuanya.


Pada restoran ke tiga, hasilnya juga tetap sama. Hanya ada tiga resto yang menyajikan makanan Korea atau Jepang di mall ini.


Mereka keluar, kembali menyelusuri mall. Tangan Dewa menggenggam erat tangan Juna, seolah hanya tangan itu yang bisa menyelamatkannya, membawa pada orang tuanya.


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya langkah keduanya terhenti, saat Dewa memanggil ibunya.


"Mama....," teriaknya dengan sekuat tenaga hingga orang yang berada di sekitar mereka memberikan perhatian. Aluna melangkah lebar ke arah putranya.


Sama halnya dengan Dewa, Aluna juga sudah menangis sejak tadi. Ketika perasaan khawatir dalam hatinya muncul, dia segera keluar dari restoran itu mencari Dewa.


Dugaannya tepat. Dewa tidak ada lagi di sana. Panik dan takut, Aluna berusaha fokus mencari Dewa. Keluar masuk toko, siapa tahu Dewa masuk melihat mainan yang menarik hatinya, tapi tidak menemukan anak itu.


Rasa takutnya semakin besar karena tidak juga menemukan Dewa. Hingga langkahnya terhenti saat mendengar teriakan Dewa.


"Kamu kemana aja? Mama hampir mati ketakutan. Jangan pernah meninggalkan mama, Dewa!" isak Aluna memeluk Dewa dengan erat. Air matanya terus saja turun membasahi pundak Dewa.


Keduanya berpelukan, tanpa menyadari kalau seorang pria sedang menatap mereka dengan wajah pucat dan mulut menganga. Tidak menyangka bertemu kembali dengan Aluna dan... Dia sudah memiliki anak?


"Al...."


Panggilan itu membuat Aluna melerai pelukannya pada Dewa dan mengarahkan pandangannya pada pria yang ada di dekat putranya itu.


"Mama, ini Om Juna. Dia yang membantuku mencari Mama."


Kalimat Dewa terus menggema di telinga Aluna, tapi tetap dia tidak bereaksi. Matanya menatap Juna dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

__ADS_1


"Juna..."


"Apa kabar, Al?"


__ADS_2