
Terserah kalau dia mau bilang gua sadis atau justru ke kanak-kanakan, yang jelas, gua gak izin kalau dia Juna jadi guru privat Hanum.
"Mandi dulu." Juna menyibak gorden kamar, kepalanya muncul dan berpusat ke arah gua yang masih rebahan. Seketika kamar jadi wangi sabun.
Sial! Lagi-lagi gua terkesima melihat wajahnya. Sejumput rambut basahnya menjuntai di kening. Juna sudah masuk kamar, berjalan menuju lemari. Bagian atas tubuhnya hanya ditutupi handuk, itu pun hanya bagian dada, saat dia berjalan dan punggungnya terekspos di depan mata gua, buat gua susah payah menelan saliva.
Seperti dikomando, mata gua terus menempel pada tubuh Juna, memperhatikan setiap gerakan pria itu.
Dengan hati-hati, Juna menarik kaos untuk dia pakai. "Mandi, Al, udah malam ini. Air panas buat mandian kamu keburu dingin nanti."
Kadang gua merasa terperangkap masuk lebih jauh pada pesona Juna. Memangnya boleh se-keren itu? Gua kan jadi susah buat bersikap ketus. Udah selama di perjalanan gua ngomel, mendebat alasan dia menerima pekerjaan sebagai mentor Hanum, yang tetap aja gua tetap gak setuju, eh, sampai rumah malah masih mau masak air buat mandian gua.
Please Jun, jangan sebaik ini sama gua, takutnya nanti, gua jatuh cinta!
Tanpa menunggu perintah untuk kedua kali, gua memutuskan untuk mengikuti perkataan Juna. Turun dari ranjang dan segera menyambar handuk yang ada di dekat jendela kamar.
"Nanti pakaian kotornya masukkan ke ember yang berisi kaos kaki kamu, ya. Besok pagi aku cuci sekalian."
Hah? Tunggu, dia bilang apa? Mau nyuci pakaian gua? Gak salah?
"Kenapa kamu yang nyuci?"
"Jadi, mau siapa? Selama ini juga aku yang cuci pakaian kamu," ucap Juna tersenyum sembari melangkah menuju meja kecil yang disulapnya jadi meja riasku.
Jadi, selama ini, Juna yang udah mencuci semua pakaian gua? Lah, selama ini gua pikir ibu. Awalnya gua udah bilang mau nge-laundry aja, tapi ibu bilang, gak usah, dan menawarkan diri untuk mencuci.
Jujur, gua segan banget ngerepotin ibu, tapi mau gimana lagi, gua gak tahu cara nyuci dan menyetrika.
"Kenapa kamu yang cuci?" Suara gua tercekat, perasaan malu merajai diri.
"Lantas, siapa dong? Awalnya aku lihat ibu mau cuci pakaian kamu saat di hari kedua kamu tinggal di sini. Aku mengambilnya dan meminta ibu jangan mencuci pakaianmu lagi, dan sebaliknya, biar aku yang mengurusnya."
Lidah gua kelu, sumpah, gak bisa berkata apapun lagi. Juna kenapa lu baik banget, sih?
__ADS_1
"Aku juga gak suruh ibu. Waktu itu aku cuma tanya dimana laundry terdekat, cuma ibu maksa minta kain kotorku. Sayang duitnya, Nak, gitu kata ibu."
Dengan perasaan malu, gua keluar dari kamar. Banyak hal yang ternyata selama ini dilakukan Juna buat gua. Dia gak pernah ngomong, bertindak tanpa bicara, dan itu buat gua terharu.
Sebagai istri, harusnya tugas gua mengurus dia, bukan sebaliknya. Eh, jadi, gua sekarang udah ngakuin gitu sebagai istrinya?
Di kamar mandi, aku ambil waktu untuk bengong sembari memandangi kaos kakiku yang direndam Juna. Perasaan haru itu kembali lagi.
"Udah kelar mandinya?" Juna yang duduk di ruang tv menoleh ke arah gua. Anggukan lemah sebagai jawaban, lalu bergegas ke kamar.
"Al, aku tunggu, ya, kita belajar."
Debaran jantung gua semakin kuat tiap kali melihat mata Juna. Sebenarnya ada apa, sih, dengan hati ini?
Semua step skincare yang biasa gua oleskan di wajah sudah selesai. Pandangan lurus ke depan cermin, dengan pemikiran apa lebih baik pura-pura tidur saja agar gak jadi belajar bareng Juna? Tapi gak mungkin. Dia pasti datang buat bangunin.
Akhirnya gua memutuskan untuk keluar. Ini juga sebagai pembuktian bagi diri gua sendiri, kalau gua biasa aja di dekat dia, gak bakal salah tingkah atau deg-degan.
"Sini, Al." Juna menepuk tempat di sebelahnya. Kami duduk beralaskan ambal bulu yang lembut. Walau canggung, gua tetap memilih untuk mengikuti perkataannya.
Kembali lagi debar jantung gua berdetak cepat. Bahkan pipi terasa memanas kala napas Juna terasa di kulit wajah gua ketika mulai menyampaikan materi. Lima menit berlalu, Juna masih asyik menjelaskan, sementara gua? Sedikitpun gak bisa fokus.
Suara Juna sayup menyapa merdu gendang telinga ku. Wangi parfum Juna yang sudah melekat ramah di hidung, menjadi magnet untuk gua mendekatkan diri ke arah Juna tanpa diminta.
"Kamu ngerti?"
suara Juna membawaku kembali pada kenyataan, mematahkan sayapku yang sempat mengepak ingin terbang.
Gua harus apa? Jujur apa lebih baik bohong? Kalau gua bilang paham, nanti dia kasih soal dan bisa kerjakan, bakal berabe, kan?
Masih belum sempat memutuskan harus jawab apa, Juna sudah tersenyum, lalu kembali mencoret-coret permukaan kertas putih yang sama sekali gak bisa ditelaah otak gua.
Juna seolah paham kalau gua belum ngerti, tapi dia berusaha untuk gak mempermalukan gua dengan terus menanyakan hal itu.
__ADS_1
Dasar manusia cerdas, dengan membuat soal baru untuk ngajarin gua dan sekaligus buat latihan gua, sudah menandakan kalau dia tahu gua gak paham.
"Aku terangkan lagi, ya, Al. Kamu harus fokus, bulan depan kamu udah ujian."
Gua cuma nunduk aja. Selama ini gua gak pernah memusingkan soal ujian nasional, karena gua tahu semua akan diurus Opa. Pasti akan ada orang yang disuruh Opa buat ngerjain soal itu menggantikan gua.
Namun, entah kenapa, gua ingin banget bisa mengerjakan soal itu dan buat Juna kagum sama gua. Gak menganggap gua hanya seorang cewek manja yang otaknya kosong.
Walau ragu, gua mengambil pena yang disodorkan Juna, setelah pria itu selesai menjelaskan satu soal lagi, dan meminta gua mengerjakan soal berikutnya.
Saat menjelaskan soal yang terakhir tadi, sekuat tenaga gua fokus memperhatikan. Adalah, ngangkut walau sedikit.
Gua mulai mengerjakan, untuk dia langkah ke bawah, gua bisa mengerjakan, lalu di bagian tengah, kenapa gua jadi ragu dan justru jadi bingung?
"Kalau kamu bisa kerjakan, besok kita pergi nonton. Kamu pengen nonton film Barbie, kan?"
Sontak gua menengadahkan kepala menatap wajah Juna. Dari mana dia tahu?
Tampaknya ujung alis gua yang menyatu menjadi petunjuk bagi dia.
"Aku dengar kemarin kamu telponan dengan Hanum," ucapnya tersenyum.
Gua ingat, kemarin Hanum maksa buat nonton. Sejujurnya pengen banget karena gua suka banget tokoh Barbie, tapi gua tolak. Gua sadar, kalau gua nonton sama Hanum, habis itu pasti ngakak makan dan shopping, gua mana punya duit.
"Beneran? Tapi itu film Barbie, masa iya kamu mau nonton."
"Asal kamu senang. Tapi ini harus benar dulu ngerjain soalnya," ucapnya tersenyum, lalu tangannya naik ke atas kepala gua, mengusap dengan lembut.
Saat itu gua pengen nangis. Gua terharu, belain Juna seolah mengalirkan rasa sayang sama gua.
Lama kami saling bertatapan, karena gua gak sanggup menatap matanya yang teduh, gua balik fokus ke atas buku.
Demi apapun, gua harus bisa menyelesaikan soal ini!
__ADS_1