Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 20


__ADS_3

Harusnya gua gak ikut ajakan Digo. Gua nyesal banget harus melihat Juna lagi jalan berdua dengan cewek cakep, modis dan pastinya seumur dengan Juna.


Gua gak masalah kalau dia mau jalan sama cewek mana pun, gua gak peduli. Yang buat gua kesal, dia ngelarang gua jalan sama Digo, sok ngatain gua gak bisa jaga martabat, gak menjaga nama baik dia, dan ngatain gua perempuan gak tahu malu, udah disakiti tapi masih mau balik sama manta.


Cuma itu alasan gua. Jadi, jangan bilang karena gua peduli, apalagi karena cemburu. Sama sekali gak!


"Nah, kan bengong, lagi. Kamu ngeliat apa, sih?"


Digo ikut mengarahkan pandangannya ke titik yang sama dengan gua lihat. "Bukannya itu, suami kamu?"


Gua melotot ke arah Digo, apa-apaan, sih, dia pake bilang suami gua. Kesannya gua ini istri yang lagi selingkuh sama dia.


"Kenapa ngelihat aku kayak gitu?"


"Gak papa. Kita pergi aja dari sini." Gua udah meninggalkan tempat itu, gak sudi bertemu dengan mereka. Terdengar derap langkah Digo yang semakin mendekat di belakang.


"Wait, Al, kenapa, sih, kamu jadi menghindar gini? Ini bukan karena kamu cemburu, kan? Pernikahan kalian cuma perjodohan yang gak penting, gak ada serius, dan seperti kata kamu semalam, selesai sekolah kamu mau minta pisah dari dia."


"Aku gak cemburu, jangan asal ngomong, deh! Udah, aku jadi gak mood. Aku pulang!"


Gua udah gak peduli apa Digo akan mengejar gua apa gak. Perasaan gua acak kadut, gak jelas. Mood yang tadi kacau kian memburuk. Saat tiba di depan mall, gua menoleh ke belakang, sedikit terkejut karena Digo ternyata tidak mengejar, tapi suasana hati yang lagi dongkol buat gua cuek dan tidak terlalu memikirkan.


***


"Udah pulang, Neng? Gak bareng Juna?"


Ibu menyambut gua, meninggalkan warungnya. Gua hanya menggeleng sebagai jawaban. Tak lupa tangan ibu gua cium, lalu melangkah masuk ke dalam rumah dengan lesu.


Mungkin ibu ingin mengajakku bicara, tapi karena gua langsung masuk ke kamar setelah buka sepatu, ibu membatalkan niatnya.


Perasaan kesal dan emosi masih menyala dalam hati gua yang sama sekali gak ngerti kenapa. Bayangan Juna dengan wanita itu mengganggu pikiran gua. Berulang kali gua tepis, tetap aja masuk dalam pikiran.


Kepala makin sakit, akhirnya gua ketiduran. Gua terbangun, kala tangan lembut menyentuh lengan gua. "Bangun, Neng, udah magrib," ucap ibu lembut, menggoyangkan badanku pelan.

__ADS_1


Gua mengerjap, menggeliat lalu memusatkan perhatian pada pemilik suara. "Udah jam berapa ini, Bu?"


"Hampir jam tujuh. Ayo, bangun terus mandi, Ibu siapkan makan malam dulu."


Lidah gua udah gatal, pengen banget nanya apa Juna udah pulan, tapi gua urungkan. Siapa banget dia, baru bangun tidur, langsung gua ingat.


Dinginnya air mampu buat gua lebih rileks, seolah hawa panas yang sejak tadi membakar jiwa gua mereda seketika.


Gua keluar dari kamar mandi dengan tubuh lebih segar. Barulah terasa lapar perut ini, terlebih saat melewati ruang makan dan mencium aroma masakan yang dihidangkan ibu.


"Ayo, makan."


"Aku jemur handuk dulu, Bu," jawab gua hendak melangkah ke kamar, tapi terhenti, kala mendengar motor Juna masuk halaman.


"Assalamualaikum." Juna masuk ke dalam rumah dengan semringah. Menghampiri ibu, lalu mencium tangan.


"Waalaikumsalam, kamu baru pulang? Dari mana aja?"


"Ada kerjaan, Bu."


Gua meninggalkan ruang itu, masuk ke dalam kamar. "Maksud kamu apa?" Juna rupanya mengikuti langkah gua hingga ke kamar. Menutup pintu kamar agar perbincangan kami tidak didengar ibu.


"Gak penting. Gua gak pengen ngomong sama lu, gua muak!"


"Kamu kenapa, sih? Masih kesal karena tadi aku kasih hukuman?"


"Dih! Gak penting. Udah keluar sana, gua mual cium bau badan lu! Bau *****!"


Kening Juna mengkerut, mengambil kursi belajar dan menempatkan di depan gua yang duduk di pinggir ranjang.


"Kamu kenapa? Kalau gara-gara menghukum mu tadi, aku minta maaf, tapi itu aku lakukan justru ingin menolong mu, pak Surya bahkan ingin menghukum bersihkan toilet," tukasnya, dan bencinya gua, dia ngomong ke gua dengan nada lembut.


"Dih, lemah banget gua, ya?"

__ADS_1


"Terus?"


"Pikir aja sendiri!"


Gua buang muka, balas banget lihat wajahnya yang sok baik ke gua. Dasar buaya! Reaksinya sama persis kayak suami yang punya selingkuhan. Pura-pura manis di depan istri, biar gak ketahuan udah punya kekasih di luar sana.


"Ngomong yang benar, aku ini suami kamu!"


"A-apa-an, sih, lepaskan!" Gua menepis tangan Juna yang tiba-tiba pegang dagu gua. Kaget dengan kedekatan ini.


"Makanya, jelasin kamu kenapa uring-uringan?"


Dih, ini cowok, tetap aja pura-pura gak bersalah. Apa iya, gua harus bilang? Tapi nanti malah dikira gua cemburu lagi.


"Kita makan, yuk," ajaknya masih terus menatap gua. Jelas, gua jadi salah tingkah.


"Gak perlu, gua gak lapar." Baru aja gua ngucap kayak begitu, perut gua bunyi. Asli, gua tengsin habis. Mana Juna tersenyum lembut ke arah gua, bukan jenis senyum mengejek, hanya saja gua kesal lihat senyumnya.


Tanpa menunggu, Juna segera menarik tangan gua keluar kamar. Gak punya pilihan lain, gua berdiri mengikuti langkah Juna.


Senyum ibu menyambut kedatangan kami berdua yang ternyata sudah berada di sana menunggu kami.


"Kita makan bersama, ya," ujar ibu mulai menyendok nasi dalam piring.


Gua menikmati makan malam itu dengan diam. Bukan karena gak enak, tapi gua gugup makan malam bareng ibu dan... Juna. Gua sendiri gak tahu kenapa gua bisa deg-degan kayak gini, mungkin karena Juna duduk di depan gua.


Gua beranikan diri melirik, kenapa wajahnya terlihat tampan? Dih, gua mikir apa, sih!


"Makan yang banyak." Gua jadi semakin kikuk, Juna meletakkan satu potong paha ayam di atas piring gua. Ingin protes dan bilang kalau gua lagi diet, akan tetapi melihat senyum gembira ibu melihat ke arah kami, membuat gua merasa tidak enak hati menolak perhatikan kecil dari Juna, dan jujur hati gua merasa hangat.


Selesai makan, gua membantu ibu mencuci piring, dan itu juga karena ingin menghindari Juna yang coba mengajakku bicara.


Keluar dari dapur, gua berpapasan dengan Juna yang mengalungkan handuk di leher menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Tunggu aku siap mandi, ya, nanti kita belajar bersama."


Nah, kan, lihat tuh, jantung gua berdebar lagi. Gua ini kenapa, sih? Gua coba meraba permukaan dada gua, merasakan debar kian kencang yang masih ada di sana, dan itu semua hanya karena senyum manis Juna yang meresahkan.


__ADS_2