Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 35


__ADS_3

Mulai hari ini hingga ke tiga hari ke depan, semua anak kelas tiga libur, dengan istilah Minggu tenang, karena bulan depan akan mengikuti ujian akhir sekolah, dan terakhir nanti puncaknya menjalani ujian nasional dua Minggu berikutnya.


Harusnya Aluna memanfaatkan waktu yang tidak banyak lagi, tapi justru waktu yang dihabiskan hanya bermalas-malasan, melakukan apapun yang dia inginkan.


Hari pertama dia libur, aku harus pergi ke sekolah dan dia harus tinggal sendirian. Wajahnya cemberut seakan tidak senang aku pergi.


"Cepat pulang!" ucapnya saat aku pamit.


Walau sedikit terkejut akan pesannya, aku segera mengangguk.


Hari kedua Aluna libur, aku juga tidak ada kelas, berada di rumah, membersihkan rumah, mencuci dan menyiapkan makan siang.


Entah kenapa sampai saat ini, ibu belum juga pulang dari Malang. Kunjungannya diperpanjang, hanya dengan mengatakan kalau Pakde Karwo masih ingin ibu tinggal di sana.


Kalau dipikir-pikir, kami sudah seperti suami istri beneran. Setiap mau pergi kerja pasti pamit.


"Iya. Mau dibawain apa?" Aku masih menunggu di depan pintu kamar.


"Gak usah, kamu cepat pulang, aku gak mau di sini sendiri."


Dan hari ini wajah Aluna tampak semringah karena aku menemaninya. "Mandi, Al, biar kita sarapan," ucapnya lembut, menyentuh pipinya.


"Masih malas. Nanti aja, ah," jawabnya kembali berguling ke arah dinding, menjauh dari jangkauan tanganku.


"Ya udah, kalau gitu aku mandi dulu. Mumpung aku gak ngajar, habis sarapan kita belajar, ya. Ingat kamu mau ujian kelulusan Minggu depan." Ku coba mengingatkan gadis itu agar menggunakan waktunya dengan tepat.


Aku sudah meninggalkan kamar dan bergegas ke kamar mandi. Setelah membersihkan rumah dan masak, rasanya gerah belum mandi pagi yang biasanya aku lakukan pagi sekali setiap akan bekerja.


Rasanya tidak terlalu lama aku di kamar mandi, keluar dengan menggunakan celana pendek berwarna navy, lalu menutupi bagian atas tubuhku dengan handuk.

__ADS_1


Berjalan santai sembari mengeringkan rambutku yang masih basah habis keramas. Aku tebak, gadis itu pasti masih berguling putar sana, putar sini.


Namun, pemikiran itu terhenti saat aku tiba di ruang tengah. Langkahku dihadang oleh pandangan tajam dari dua pasang mata ke arahku.


"Ha-num?" desis ku tercekat. Aku bahkan tidak bisa menemukan cara untuk menghirup napas. Otakku beku, seperti tersihir hilang fungsi semua organ ku.


"Pak Juna?! Benarkan aku gak salah alamat!" serunya mengalihkan pandangan pada Aluna yang membeku berdiri di depannya, lalu kembali lagi melihat tajam padaku. Netra matanya turun, lalu menetap pada dadaku yang terekspos.


"Ka-kamu ngapian di sini?" ucapnya sedikit gugup, ekor mataku menangkap tatapan tajam Aluna, yang memberi isyarat agar aku masuk ke kamar, memakai pakaian yang pantas.


"Saya masuk dulu," lanjut ku berjalan cepat ke arah kamar.


Bagaimana ini? Kenapa Hanum bisa datang? Bagaimana kalau dia menceritakan pada orang-orang di sekolahan kalau Aluna tinggal di rumah ini.


Aduh! Tanpa sadar aku menepuk jidatku sendiri, baru sadar kalau di ruang tengah ibu menggantung bingkai foto kamu saat menikah. Hal itu pasti sudah dilihat oleh Hanum, dan bisa menjelaskan semuanya tanpa ada tutur kata yang keluar dari bibir kami.


Bukannya aku harus menjaga rahasia pernikahan ini dari siapapun, hingga saat kami bercerai nanti tidak ada yang tahu.


Tidak ingin membuat Aluna terperangkap sendiri menghadapi beringasnya pertanyaan Hanum, aku memutuskan untuk keluar menemui tamu yang tidak diundang pagi ini.


"Hanum, kamu ngapain ke sini?" ucapku berusaha tenang. Saat aku bergabung bersama mereka, kedua gadis itu duduk di ruang tamu saling berhadapan dengan bibir terkunci rapat.


"Ini benar rumah Bapak?" Hanum dengan gaya bengis dan penuh selidik mulai mengintrogasi ku.


Seolah terhipnotis dan sudah diwajibkan berkata yang sebenarnya, aku memilih untuk mengangguk saja. Aku harus bisa merangkai kalimat agar bisa menyelamatkan Aluna. Biarlah nama baikku yang jelek, jangan Aluna.


"Terus, Aluna ngapain di sini?" tuntutnya dengan tidak sabar. Embusan napasnya terdengar kasar, seolah tidak ingin menunggu lama dan meminta penjelasan yang dapat membebaskan hatinya dari segala macam praduga yang menyakitkan.


"Aluna... Dia, sedang ada urusan, makanya datang. Dia les di rumah saya."

__ADS_1


Aku sendiri gak yakin dengan jawaban itu bisa membuat Aluna tenang dan terpuaskan, tapi itu yang sejak tadi terbersit dengan spontan dalam kapasitas otak yang didesak untuk menemukan solusi.


"Pakai baju tidur? Gak salah, Pak?" Wajah Hanum sudah memerah. Bahkan bola matanya sudah tampak tergenang.


Aku tebak perasaan gadis itu sangat hancur saat ini. Terlukis jelas pada wajahnya, terlebih kala memandang wajah Alun, merasa dikhianati dan sangat kecewa.


Bukan merasa tampan, Aluna pernah cerita kalau Hanum menyukai ku. Itulah alasan Hanum meminta ayahnya untuk menawarkanku sebegitu guru privatnya.


Selain ingin menyenangkan hati Aluna dengan menolak pekerjaan itu, juga karena aku tidak ingin Hanum semakin berharap banyak dariku, yang sejak awal memang tidak bisa aku berikan.


Namun, maaf, sedikit pun aku tidak punya perasaan apapun pada Hanum. Juga tidak pernah membuat sikap yang seolah memberikan harapan pada gadis itu. Bagiku, Hanum, Nuka dan semua murid-murid yang ada di sekolah adalah sama, menganggap mereka seperti adik sendiri. Berbeda dengan Aluna....


Aku mengalihkan pandangan pada Aluna. Gadis itu masih menunduk. Keningnya terlihat berkerut meski menunduk.


"Iya. Mungkin buru-buru jadi gak sempat ganti. Hanum, Bapak harap kamu gak akan cerita sama teman-teman kalian kalau kamu bertemu Aluna di sini," ucapku. Dalam benakku hanya ada satu tujuan, menjaga nama baik Aluna. Jangan sampai ada kabar berhembus di sekolah kalau kami sudah menikah.


"Please, deh, Pak. Bapak pikir aku percaya? Lihat tuh, rambut acak-acakan, gaun tidur, pasti belum mandi, dan gak mungkin dari rumahnya ke sini tanpa mandi demi bela-belain belajar sama Bapak. Aku minta sama kalian jelaskan!"


"Hanum, Bapak mohon, jangan memperkeruh suasana. Bapak tahu kalian berteman baik."


"Justru itu yang paling sakit, Pak. Dua kali Aluna bohong sama aku. Ini yang namanya dianggap sahabat?" Suara itu melengking. Amarah Hanum tampaknya belum surut.


Kalau begini reaksinya, aku tebak dia sudah mulai curiga dengan keberadaan Aluna di rumah ini.


"Tega lu, ya, Al. Pantas aja pak Juna gak mau jadi guru privat gua, pasti karena lu yang suruh nolak. Lu siapa, sih, Al? Kenapa bisa sejauh ini masuk dalam kehidupan Pak Juna?" teriak Hanum, ingin kejelasan dari sahabat sendiri.


Aluna mengangkat wajahnya. Tidak ada lagi tatapan takut yang tadi bersarang di matanya. Kini gadis pemberani itu menatap tajam pada Hanum.


"Gua memang belum mandi dan gua memang tinggal di sini, karena gua sama Pak Juna udah menikah!"

__ADS_1


__ADS_2