
Dua tahun berlalu...
"Ayolah, aku kenalkan sama gadis-gadis dari negara kita. Atau kamu mau produk lokal juga ada," ucap Rizal penuh semangat. Selama tinggal di Jerman, tidak sekalipun Juna mau ikut teman-temannya ke bar. Menghabiskan malam-malam hanya berteman sepi dan penuh kebosanan. Namun, anehnya Juna tidak berniat keluar dari kenangan sang mantan.
"Kalian aja, ya," tolak Juna kesekian kalinya. Melihat ke arah Rizal dan Bram, teman sekantornya.
Keduanya sangat berbeda dengan Juna. Tiada weekend dilalui tanpa menghabiskan waktu dengan cewek cantik. Keduanya memang tampan, memiliki postur tubuh yang atletis, sama halnya dengan Juna, meski soal wajah, Juna tetap jauh lebih tampan dari mereka.
Tanpa segan, Rizal dan Bram sering membawa kekasih mereka ke rumah yang mereka tempati bersama. Kalau sudah seperti itu, akan terdengar suara-suara yang mengganggu iman.
Sudah hal biasa gaya hidup di luar negri seperti itu. Juna juga tidak keberatan dengan gaya hidup mereka. Gonta-ganti pacar yang hanya akan bertahan hanya tiga sampai lima bulan.
"Ayolah, Jun, sampai kapan kamu begini? Lupakan gadis itu. Kau berhak bahagia! Apa kau tahu kalau dia masih menunggumu? Buktinya dia gak pernah menghubungi. Jangan-jangan dia udah nikah malah!" seru Bram sedikit berteriak dari arah dapur.
Ucapan Bram sebenarnya sudah lama merasuk dalam pikiran Juna. Dia juga sudah tidak berharap. Malah, dia benci pada gadis itu yang memilih percaya pada Opanya, tidak mencari Juna sama sekali.
"Baiklah. Aku ganti baju dulu," ucap Juna bangkit dari duduknya. Meletakkan remote televisi di atas meja.
***
Suasana di Berlin Icebar begitu ramai karena merupakan salah atau bar terbesar dan bis dikatakan elit di kota itu.
Disini juga banyak warga negara Indonesia yang menghabiskan malam Minggu mereka.
"Mau minum apa, Jun?" tanya Rizal mengalihkan pandangannya dari lantai dansa ke arah temannya itu.
"Samain aja," jawab Juna singkat.
Benar kata Bram, keramaian ini setidaknya bisa menyamarkan kesepian di hati Juna. Mungkin dia tidak menikmati, tapi hiruk-pikuk sekelilingnya membuat Juna bisa mengalihkan pikiran dari Aluna.
"Kok lama, sih?" tanya gadis bernama Gisa sembari merentang tangannya ke arah Rizal. Pria itu tersenyum lalu menyambut dengan membawa kekasihnya ke dalam pelukan.
"Sorry, tadi kelamaan bujuk Juna. Oh, iya, Jun, kenalin, ini pacar ku Gisa."
__ADS_1
Juna menerima uluran tangan Gisa sembari mengingat-ingat kalau Minggu lalu, bukan gadis itu yang dibawa Rizal ke rumah mereka. Tapi sudahlah, itu bukan urusannya.
"Gisa," jawab gadis itu sedikit malu-malu, terlihat tampak terpesona dengan wajah Juna.
Tak lama, Bram yang tadi pergi memesan minuman mereka, datang menggandeng seorang gadis berambut pirang. Wajahnya oriental, pastinya bukan penduduk lokal.
"Kau tadi pergi pesan minuman, balik-balik malah udah bawa gandengan," celetuk Rizal tertawa renyah.
"Iya. Aku hoki banget malam ini bisa bertemu Meilan di sini. Dia dokter di rumah sakit umum, dan lebih keren lagi, dia orang tuanya tinggal di Surabaya," jawab Bram dengan wajah ceria, seolah dia sudah menemukan gadis yang selama ini dia cari.
"Wah, kebetulan banget. Kita semua kumpul dari satu negara yang sama," timpal Rizal, menarik Gisa untuk duduk lebih merapat padanya agar memberi tempat untuk Bram dan juga Meilan.
Juna sedikit kurang nyaman dengan cara Gisa melihat ke arahnya saat mereka ngobrol. Gadis itu suka curi-curi pandang ke arahnya tanpa sepengetahuan Rizal. Juna bisa menebak, dari cara memandang Rizal, sahabatnya itu sangat menyukai Gisa. Jangan sampai karena seorang gadis, hubungan mereka jadi pecah.
Sementara dengan Meilan, Juna merasa asyik ngobrol. Tampak kalau Meilan gadis yang cerdas.
"Sebenarnya, di apartemen masih ada teman aku yang sama-sama anak Indo. Kita juga sama-sama jadi dokter di rumah sakit yang sama," cerita Meilan pada Juna.
Rizal dan Bram pamit untuk menambah pesanan mereka. Namun, keduanya bertemu teman-teman mereka hingga jadi terhenti.
Juna yang tidak ingin ada eye contact, hanya menarik ujung bibirnya, mencoba tersenyum, tapi kaku. Anehnya, justru Gisa suka melihat sikap dingin dan pembawaan Juna yang cool, tidak heboh dan bertampang playboy seperti Rizal dan Bram.
"Dia gak mau. Cewek rumahan banget. Sebenarnya aku juga gak jauh beda sama dia, cuma tadi sepupu aku, itu tuh," ucap Mei menunjuk ke arah pria yang sedang berjoget di lantai dansa dalam kerap-kerlip lampu disko. "Dia yang ngajak, biar gak ada teman ceweknya. Lagi pdkt soalnya."
"Oh. Masih ada gitu zaman sekarang cewek yang gak doyan ke klub? Aneh, gak, sih?" ujar Gisa pada Juna. Alasan untuk mengajak pria itu mengobrol.
"Banyak. Tidak harus pergi ke klub seperti ini tolak ukur aneh atau gak nya seseorang."
Jawab Juna yang gak bersahabat membuat Gisa tutup mulut. Walau sedikit kesal, tapi dalam hatinya dia tetap masih berusaha mendapatkan simpati Juna.
"Sorry lama, kita ketemu teman. Ini minumannya."
Rizal dan Bram serentak meletakkan botol-botol yang tadi mereka pegang.
__ADS_1
"Kebanyakan, Zal, Bram," sela Juna geleng-geleng. Jangan sampai semua minuman ini dihabiskan oleh dua playboy kelas teri itu, yang repot nanti justru Juna.
Biasanya kalau sudah pulang dalam keadaan mabuk, Juna harus berlapang dada membersihkan muntahan keduanya, lalu memberikan obat pereda rasa mual.
"Santai, Jun. Gak sampai mabuk, kok." Bram mengisi kembali gelas-gelas mereka. Tangan Mei yang coba menutup permukaan gelas dengan tangan, disentak oleh Bram.
"Minum lagi dong, Mei."
Mei tak kuasa, membiarkan Bram melakukan sesukanya.
Juna hanya jadi pengamat. Mei mulai muak dengan tingkah Bram yang sok keren. Beberapa kali berusaha merangkul pundak Mei, tapi ditepis gadis itu.
"Sorry, Bram, aku pulang duluan," ucap Mei hendak berdiri, tapi gagal karena pergelangan tangannya ditarik Bram.
"Jangan, dong. Baru aja kita ketemu. Apa kita ngamar aja?"
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Bram. Mei menatap jijik pada Bram atas apa yang terlintas dalam pikiran pria itu.
Tiba-tiba semua hening. Tidak ada satu orang pun diantara mereka yang buka suara.
"Mei, kamu apa-apaan, sih?"
"Kamu yang apa-apaan. Aku mau kamu ajak ke meja kalian, karena kamu orang Indo. Aku pikir akan lebih asyik nongkrong dengan sesama pribumi di sini. Aku ke sini bukan cari cowok atau mau *****!"
Semua terdiam. Intonasi Mei meninggi. Bram yang tadi galak kini melebur. Dia menyesal. Bram mungkin buaya, otaknya tidak pernah bisa jauh dari ************, tapi dia tetap menghormati wanita. Dalam kamusnya tidak ada kata pemaksaan.
"Sorry semua, aku pamit." Sekali lagi Mei bangkit.
"Mei, aku minta maaf, ya. Aku salah. Aku mohon kita masih bisa berteman, saling komunikasi. Aku gak akan mengulanginya lagi. Pleaseee, maafin aku."
Permohonan maaf Bram terdengar tulus hingga melembutkan hati Mei. Gadis itu mengangguk dan memberikan senyum pada Bram.
__ADS_1
"Tapi benar, aku harus pulang. Teman serumah ku nitip makanan, belum makan katanya. Lain kali kita nongkrong bareng lagi."
"Jun, bisa tolong antar Mei?" pinta Bram melempar kunci mobilnya.