
"Aku mau beli buku!" Aluna berdiri di sampingku, mengenakan celana panjang dan kaos crop top. Satu tas selempang menggantung di tubuhnya. Wajahnya terlihat cantik seperti biasa dan juga ah, sangat mempesona.
"Beli buku apa?" Aku menatap dengan detak jantung yang berdetak semakin kencang, berlomba dengan tarikan napasku.
"Ya, buku pelajaran, dong!"
Aku bangkit, lalu berjalan ke arah kamar. Derap langkah di belakangku sudah pasti milik Aluna.
"Ini." Ku sodorkan tiga lembar uang seratus ribuan. Aku senang karena Aluna sudah mau meminta kebutuhannya padaku. Aku merasa semakin berguna untuknya.
Dengan begitu, aku sudah selayaknya sebagai suaminya, yang bertanggung jawab setiap kebutuhan, apalagi belakangan ini Aluna sudah tidak pernah lagi berhubungan dengan Digo, seolah nama itu sudah tenggelam dalam hidupnya.
"Aku mau ditemani!"
Gak salah dengar, nih? Dia ngajak aku jalan bareng? Dulu aja, jangankan jalan bareng, buat ngomong aja gak sudi.
"Serius, mau ditemani samaku?" Aku cuma ingin mencoba memastikan, jangan sampai ini hanya candaannya saja.
"Buruan!"
"Tapi kamu harus ganti dulu bajumu." Tentu saja dengan senang hati mengantar Aluna kemanapun dia suka, tapi aku mau buat penawaran. Jangan sampai dia keluar dengan pusatnya terlihat oleh siapapun yang bertemu dengannya nanti.
"Ini fashion, tau! Please, jangan norak!" bibir Aluna bergerak, memanjang ke depan, cemberut, tapi justru menggemaskan. Rasanya ingin menyentuh bibir itu.
"Kamu udah jadi istri ku, nurut, ya!" Kepikiran apa ya, sampai aku bisa ngomong kayak gini! Namun, itu memang tulus dari dalam hati, jadi, ya terucap begitu saja.
"Ih, nyebelin!" serunya sembari mengentak kaki ke lantai. Aku diam mengamatinya dengan tatapan sayu, sekaligus melepas pandangan memohon. Bertanya-tanya dalam hati, apa aku terlalu ngelunjak?
"Keluar!" Suaranya kencang, tapi aku yakin, tidak sampai ke telinga ibu. Aku menurut, memilih mematuhi perintah Aluna, yang ngambek dan mungkin memutuskan untuk tidak jadi membeli buku.
Aku kembali duduk di mejamu, menyiapkan bahak ajaran untuk Senin. Tidak berapa lama, Aluna tiba. Dia kembali berdiri di sampingku.
Aku menoleh padanya. Apa lagi yang diinginkan gadis ini diriku.
"Ayo!" Ku amati penampilan Aluna yang sudah mengganti pakaiannya. Kali ini cantik dan sangat pantas.
"Begini kan, makin cantik. Bentar aku ganti baju dulu."
__ADS_1
***
Teriknya matahari, tidak membuat Aluna patah semangat. Tidak sekalipun terdengar Aluna mengeluh. Dia duduk dengan tenang di atas motor, dengan tangan melingkar di pinggangku, menyandarkan dadanya di punggungku. Memberikan getaran halus yang membuat darah ku mendidih, memancing perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
"Panas, kan? Mending kamu naik taksi online aja, deh. Dari pada begini, panas-panasan, nanti kulit putih mulus dan terawat kamu jadi hitam."
"Diam, deh!"
"Ini masih lama nyampenya?" celetuk Aluna setelah 15 menit kemudian. Aku tersenyum, tapi tidak niat untuk menjawab.
"Masih lama?" Aku tetap fokus memperhatikan jalanan, lagi-lagi senyumku mengembang.
"Dengar gak, sih?" teriaknya kesal. Merapatkan posisi tubuhnya semakin dekat padaku.
"Dengar, dong," jawabku santai. Aku tersenyum lagi. Bisa ku bayangkan wajah Aluna saat ini pasti sangat kesal.
"Terus, kalau dengar, kenapa gak jawab?"
"Kan, kamu yang suruh aku diam."
Kali ini aku tidak mau lagi mempermainkannya. Dia sudah memukul puncak pundakku, tanda kekesalannya.
"Kamu udah bosan? Bentar lagi sampai."
Jarak yang harus kami tempuh tidak terlalu jauh lagi. Dua kali melewati lampu lalu lintas, kami tiba di toko buku besar.
Aluna menungguku memarkirkan motor di basemen gedung. Tidak ada canggung atau malu jalan denganku, membuatku merasa sedikit banyak dihargai olehnya. Aluna sudah berubah. Seenggaknya, tidak menjadi gadis menyebalkan seperti dulu lagi.
Artinya, tugas yang aku emban sejauh ini membuahkan hasil yang baik.
Dengan setia, aku menemaninya berjalan di belakang Aluna, singgah dari satu rak menuju rak yang lain demi mendapatkan buku yang dia inginkan.
"Aku mau beli ini." Dia menunjukkan satu buku yang tampak tebal dan lebar. Pada sampulnya tertulis Bank soal ujian nasional. Aku segera mengangguk. Apapun demi Aluna. Eh, bukan demi gadis itu bisa lulus sekolah.
Kami melanjutkan perjalanan, lalu satu buku menarik perhatian Aluna hingga memutuskan untuk berhenti lagi. Aku hanya bisa mengamati gadis itu, tampak serius membaca judul buku. Mengapa begitu menyenangkan dan menenangkan memandang wajah gadis itu, terlebih kalau bibirnya tidak mengomel apalagi cemberut.
"Apa? Kenapa ngelihat aku kayak gitu, sih?" Aluna menunduk malu setelah mendapati mataku yang tengah memandangnya. Bukan hanya dia, aku pun sama, tersipu kedapatan mencuri pandang.
__ADS_1
"Kamu cantik."
Astaga, apa yang aku katakan. Apa yang merasuki ku sampai mengatakan isi pikiran ku dengan spontan seperti itu?
"Jadi, cantiknya cuma hari ini aja?" celetuk Aluna setelah berhasil menguasai rasa malunya.
"Setiap hari cantik. Bahkan saat pertama kali kita bertemu, aku sudah mengakui kamu cantik," ucapku terhipnotis dengan sorot mata Aluna yang indah. Aku semakin mendekat, mengikis jarak diantara kami. Wangi vanila semakin menyeruak masuk hidung ku, wangi dari tubuh Aluna yang selalu membuatku berhasil terhipnotis.
Aluna segera menarik diri, saat seorang pelanggan datang, lewat dari tengah kami hingga mengharuskan kami merentangkan jarak.
"Jun... Juna, benar kamu. Ngapian di sini?" tanya gadis itu yang berhasil menghisap sisa oksigen yang berada dalam tubuhku.
"Tan... Tania!"
Kalau bisa, aku ingin sekali menghilang dari tempat itu. Ini petaka! Bagaimana mungkin aku bisa bertemu Tania di tempat ini saat aku bersama Aluna.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mungkin pura-pura tidak mengenal Tania, atau pergi menarik tangan Tania dan meninggalkan Aluna.
Tepat saat Tania meneriakkan namaku, Aluna berbalik menghadap ke arah kami. Bola mata Aluna mulai menyelidik terhadap Tania. Dalam hatinya timbul banyak tanya tentang sosok Tania.
"Kamu lagi apa di sini? Sama siapa?" Kini Tania menoleh pada Aluna. Menyelidik dari atas sampai ke bawah.
Tatapan Tania menuntut ku untuk menjelaskan sosok Aluna. "Ini... Aluna, dia..."
"Aku adik sepupu kak Juna!" Sambar Aluna mencoba mengembangkan senyum kikuk pada Tania, meski tidak bisa dipungkiri kalau Aluna menyimpan rasa tidak suka.
Sontak aku menoleh wajah Aluna. Keningku yang berkerut mencoba memikirkan apa sebenarnya alasan Aluna menyembunyikan perihal hubungan kami, tapi sejujurnya untuk sekarang, ini jalan terbaik.
Kali ini kening Tania yang tampak berkerut, matanya memicing curiga menatap Aluna.
"Adik sepupu? Kok aku gak pernah tahu?"
"Hah? Iya, Tan. Aku juga baru tahu," jawabku sambil nyengir.
"Kita ngopi dulu, ngobrol bareng. Aku juga mau kenal lebih jauh dengan Aluna."
Tania tersenyum, lalu menyambar tanganku, menarik hingga Aluna tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah kami.
__ADS_1