
"Kenapa Mama meluk aku erat banget, sih? Sakit, Ma," protes Dewa menarik kepalanya agar dapat melihat wajah ibunya.
Bocah kecil itu mengerutkan kening menatap sang ibu. Sudah beberapa hari ini dia melihat tingkah ibunya sedikit aneh, sering memeluknya setiap ada kesempatan.
"Mama cuma pengen meluk Dewa, memangnya salah?" Aluna memasang wajah cemberut.
Hanya dia yang tahu kalau saat ini hidupnya terasa tidak tenang, sangat terganggu atas apa yang dikatakan Juna tempo hari.
"Ingat, satu Minggu dari sekarang, aku sudah harus mendapatkan jawaban dari mu, kalau tidak aku anggap kalau dia adalah anakku!"
Kalimat Juna terus menghantui. Aluna bersikeras mengatakan kalau Dewa anak Dimas, tapi pria itu seujung kuku pun tidak percaya.
Aluna juga sudah menolak tuntutan Juna yang tetap ingin melakukan tes DNA, tapi Juna tetap memaksa bahkan sampai mengancam.
Dewa berlari meninggalkan Aluna yang masih termangu begitu mendengar suara mobil Dimas masuk ke halaman rumah.
Pria itu sudah sangat banyak membantunya. Selalu ada di saat keadaan terburuk sekalipun. Dia tidak akan mungkin sampai hati kalau harus memberitahukan masalah ini.
"Mama, papa sudah pulang," teriak Dewa berjalan memasuki ruang tengah dengan jari kelingking Dimas berada dalam genggamannya.
Dewa sangat menyayangi Dimas, itu sudah jelas. Baginya, Dimas adalah role model bagi dirinya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat murung? Aku gak suka kalau ini berkerut," bisik Dimas membelai kening Aluna. Semesta tahu bahwa dirinya sangat mencintai gadis itu, dan siap mati untuknya.
Namun, hati tidak bisa dipaksa. Lima tahun mendekati Aluna, menanti dengan sabar agar gadis itu mau buka hati untuknya. Meski kini mereka sudah bersama, tapi Dimas tahu hati Aluna tidak sepenuhnya menjadi miliknya.
"Gak ada, Mas. Hari ini kamu pulang cepat, Mas?"
Aluna menarik tangan Dimas duduk di ruang keluarga. Diamatinya wajah penuh kasih itu, tatapan Dimas selalu bisa menenangkan, tapi kenapa dia tidak bisa jatuh cinta. Kenapa Aluna justru menginginkan sepasang mata yang dapat menghanyutkan dirinya untuk ditatap?
__ADS_1
Sial! Ayolah, Al, ini sudah lima tahun, bahkan sebelumnya dia juga sudah meninggalmu! Tujuh tahun, Al, apa masih belum cukup?
Perang batin bergejolak di dadanya. Memikirkan Juna kepalanya cenat-cenut.
"Apa ada yang ingin kamu katakan padaku?" Dimas terlalu mengenalnya. Jika Aluna sudah tampak tegang begini, dan tarikan napasnya tidak beraturan, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Kenapa kamu baik banget sama aku? Kenapa kamu sesabar itu?" tanya Aluna mengulurkan tangannya untuk menyentuh tulang pipi Dimas yang tegas.
"Kau tahu betul apa jawabannya, Al. Aku sangat mencintaimu! Sangat!"
Di sinilah kelemahan sekaligus kebodohannya. Dia tidak bisa memberikan apa yang diharapkan Dimas, cinta!
"Tapi kamu tahu betul, kalau aku.... Aku...,"
"Aku tahu." Nada suara Dimas lemah, dan tatapan matanya menunjukkan luka, tapi hebatnya dia, bibirnya masih sanggup melepas senyum untuk Aluna.
"Kenapa kamu gak menyerah saja. Kamu berhak bahagia dengan wanita lain. Aku yakin, banyak wanita yang akan jatuh cinta padamu."
Keduanya diam. Membisu. Pembahasan seperti ini bukan kali pertama mereka lakukan dan hasilnya selalu sama. Kalau memang Dimas sanggup melupakan Aluna, pasti sudah sejak dulu dia lakukan, untuk apa bertahan bertahun-tahun menyakitkan seperti ini?
"Aku tidak memaksa agar kau mencintaiku, Al. Aku bisa ada di sisi kalian berdua saja sudah buatku bahagia." Dimas membelai puncak kepala Aluna, menyelipkan sejumput rambut ke balik telinga gadis itu.
"Tapi kamu juga harus memikirkan masa depanmu, Mas. Jangan karena kami, kamu melupakan kebahagiaanmu."
"Kalian kebahagiaan ku. Kamu dan Dewa. Aku bangga menjadi ayah anak pintar itu," ujar Dimas kembali tersenyum, menenangkan Aluna.
"Bagaimana kalau ayah kandungnya muncul, dan menginginkan anak itu?"
Tubuh Dimas menegang. Posisi duduk yang awalnya santai, menyandarkan punggung ke sandaran sofa, kini duduk tegak. Aluna mengatakan hal itu tentu saja bukan sebagai candaan atau tanpa tujuan. Dimas semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya, Al? Katakan padaku!"
"Ayah Dewa ada di sini, di negara ini, di kota ini. Dia minta pengakuan atas Dewa," jawab Aluna dengan suara tercekat. Dia tahu bukan hanya dirinya yang tersakiti mendengar kabar ini, tapi juga Dimas yang sangat menyayangi Dewa dan sudah menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri.
Dimas lah pria pertama yang menggendong Dewa saat anak itu lahir. Opa yang sudah sakit-sakitan, hanya bisa menunggu di ruang tunggu, sementara Dimas menjadi wakilnya menemani Aluna di ruang operasi.
"Siapa dia? Apa dia datang mencari mu? Bagaimana dia tahu keberadaan Dewa?" Dimas tidak sabar mendengar penjelasan Aluna, mencecar gadis itu dengan banyak pertanyaan. Bagaimana pun dengan munculnya ayah biologis Dewa, kemungkinan hubungan mereka bertiga akan hancur.
Tangis Aluna pecah. Dia tidak sanggup untuk berterus-terang. Dimas yang melihat kegelisahan dan takut di wajah Aluna, menarik gadis itu masuk dalam pelukannya.
"Jangan menangis, Al. Kalau kamu gak siap berita sekarang, gak papa. Nanti kalau sudah tenang kita bahas lagi," bisik Dimas menenangkan.
Saat menenangkan Aluna agar berhenti menangis, Opa Jer yang juga baru tiba di rumah dan mendebar suara tangis Aluna, segera mencari sumber suara.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis, Al? Apa yang terjadi? Apa kalian bertengkar?" Kalimat terakhir ditujukan lebih pada Dimas.
Buru-buru Aluna menghapus jejak air matanya agar Opa tidak merasa khawatir.
"Katakan pada Opa, ada apa?"
"Ayah Dewa muncul, dan dia ingin pengakuan atas diri Dewa."
Dimas buka suara, sementara Aluna, yang sama sekali tidak menyangka kalau Dimas akan memberitahukan pada Opa hanya bisa menatap nanar wajah keriput Opa Jer.
"Untuk apa pria brengsek itu minta pengakuan? Harusnya dia ku bunuh saja waktu itu!"
"Opa mengenalnya? Siapa pria itu Opa?" desak Dimas. Mungkin secara hukum dia bukan anggota sah keluarga ini, tapi baik Aluna atau Dewa sangat penting bagi dirinya. Dia mengutuk pria yang sudah meninggalkan Aluna dengan benih dalam rahim gadis itu.
Dengan keikhlasan dia datang menawarkan bahu, tangan, seluruh tubuh dan nama belakanganya untuk Dewa dan kehormatan Aluna. Dia tidak menuntut apapun. Dan sekarang, saat kehidupan mereka sudah damai, pria itu datang menuntut haknya sebagai ayah Dewa?
__ADS_1
Opa terdiam, kala Aluna membulatkan matanya ke arah Opa. Aluna belum sanggup memberitahu Dimas perihal siapa sosok ayah Dewa.
"Aku ingin bertemu dengan pria itu, ingin bicara padanya. Meski dia adalah ayah biologis Dewa, tapi bagi anak itu, aku adalah ayah kandungnya. Tidak akan kubiarkan dia merusak kebahagiaan Dewa!"