
Gua benar-benar badmood. Sumpah! Gua pengen muntah rasanya. Nyesal gua masuk kelas. Pagi ini, jam ke dua mata pelajaran matematika. Tahu lah, kan, ya, siapa yang ngajar. Benar, Arjuna Weda!
Gua pikir, karena sekarang dia udah jadi suami gua, pasti gak akan cari masalah lagi. Lagian, status kita ini sekarang suami istri, buat lihat-lihat an aja masih ngerasa malu, canggung, dan pasti ada rasa takut, takut ketahuan teman atau guru lain kalau kita udah nikah dan tinggal satu atap.
Ternyata, pikiran gua salah, dong. Dia malah minta gua ngerjain soal lagi di papan tulis.
"Sa-ya, Pak?" Gua coba buat menyakinkan diri, kali aja dia salah nunjuk, bukan gua, tapi Hanum.
"Iya kamu, masa iya satpam sekolah?"
Lihat, tuh, gimana gua gak pengen getok aja kepalanya pakai penghapus. Dia mau mempermalukan gua ke dua kalinya apa gimana, nih?
Guru yang dulu, kagak pernah ada yang berani nyuruh gua ngerjain soal, takut bakal kena pecat. Lagian, Juna apa gak tahu, gua paling benci matematika!
"Ayo, buruan Aluna. Masih banyak materi yang harus saya lanjutkan ini!"
Duh, wajahnya, tenang banget mau mempermalukan gua.
Gak punya pilihan lain, gua terpaksa maju. Gua siap buat disembelih sama dia karena kenyataan gua gak tahu sama sekali soal itu. Jangankan buat ngerjain, rumusnya aja gua gak ingat. Otak gua tumpul kalau berhubungan dengan angka-angka.
"Loh, kok malah bengong? Ayo, teman-teman kamu lagi nungguin ini."
"Iya, Al. Buruan, dong. Masa ngerjain trigonometri aja gak tahu?"
Brengsek! Gua tebak, itu pasti suara Mario, murid paling pintar di kelas.
"Buruan, Al. Malah bengong. Jangan bilang lu gak tau soalnya. Makanya belajar, Al. Tugas anak sekolah itu ya belajar, bukan pacaran aja sama ketua geng motor!"
Bang*sat! Habis kesabaran gua. Yang ngomong pasti Nuka, musuh bebuyutan gua. Dia berani sama gua karena bokapnya juga orang kaya. Perasaan gua gak pernah ada masalah apapun sama dia, tapi sejak Carlos, gebetan alias crush forever nya naksir gua, dia jadi benci banget sama gua. Cibiran nya buat gua nutup mata nahan marah.
"Kok diam?" Suara Juna buat mata gua terbuka, lalu menoleh.
__ADS_1
"Aku... Aku gak bisa pak."
Satu kelas ngetawain gua, dan ini semua salah Juna! Dasar Juna brengsek! Bukannya seorang suami harus belain kehormatan istrinya?
"Ya sudah, kamu duduk," jawab Juna yang setidaknya bisa buat aku lega sedikit. Tawa masih menggema, seiring wajahku semakin memerah berjalan menuju bangku ku.
Sisa jam pelajaran itu, aku menatap marah pada Juna. Pokoknya aku akan minta perhitungan dengannya saat tiba di rumah nanti.
Bel berbunyi, pelajaran matematika selesai. Namun, rasa jengkel masih gua rasakan, dan semakin bertambah kala Hanum maju mencegat langkah Juna.
"Pak, ada pelajaran yang gak saya ngerti, boleh tanya Bapak? Kalau datang ke rumah juga saya siap," tukasnya dengan senyum mengembang di wajah.
Gua semakin gedeg melihat tingkah anak itu. Bukan, jangan salah, gua buka cemburu! Jangan sampai ada yang berpikir kagak gitu. Gua cuma gak suka Hanum menghalangi Juna keluar kelas, karena gua udah empet lihat wajahnya.
"Gak perlu ke rumah. Kalau ada yang mau di tanya, kamu bisa temui saya di ruang guru," jawab Juna mengemas semua buku dari atas meja.
"Oke, Pak," Hanum menyatukan ujung jempol dengan ujung telunjuk sembari tersenyum.
"Lu lihat gak, kayaknya pak Juna grogi deh, lihat gua. Semakin yakin kalau beliau ada rasa sama gua," celetuk Hanum.
Gua mengabaikan ucapan Hanum, lalu bangkit menuju meja Nuka. Dengan sekuat tenaga gua gebrak mejanya hingga dia yang sedang menghadap ke belakang terkejut, menoleh ke arahku.
"Apa-apaan, sih, lu? Udah sarap lu, ya?"
"Lu yang apa-apaan! Ngapain lu tadi ngatain gua? Suka-suka gua mau pacaran sama siapa? Kenapa? Lu masih belum move on dari Carlos? Lu jangan marah ke gua, kalau dia gak suka sama elu!"
"Heh!" Nuka berdiri, tidak terima karena harga dirinya terluka diingatkan kekalahannya waktu itu.
"Gua udah lupain masalah itu. Gua cuma risih punya teman sekelas be*go kayak elu, yang hanya bisa mengandalkan kekayaan Opa lu, tapi otak lu kosong. Kalau bukan karena opa lu yang punya sekolah ini, gua yakin, gak bakal terima murid stupid kayak elu!"
Amarah yang selama beberapa hari ini bertumpuk di dalam hati, membuat gua gak berpikir dua kali lagi, langsung rambut panjang Nuka menjadi sasaran utama gua.
__ADS_1
Jeritan mengaduh kesakitan dari Nuka gak serta-merta membuat cengkraman tangan gua melonggar. Gua tetap melintir hingga menarik kemeja Nuka.
Gak terima, Nuka juga balas, Jambak rambut gua. Ya, ampun, sakit banget, rasanya kulit kepala gua ikut tertarik.
Emosi gua menyala. Bayangan hidup gua yang hancur dan amarah sama semua orang yang udah buat gua berduka dan berada di titik terendah hidup gua, buat gua butuh pelampiasan. Sialnya, Nuka jadi samsak buat gua karena dia udah mancing emosi gua.
Entah udah berapa lama kegaduhan itu terjadi. Teman-teman sekelas gak ada yang berniat untuk melerai kita.
Nuka yang juga bar-bar, menggulingkan badan gua ke lantai, menampar pipi dan menjambak rambut gua.
Perlakuan Nuka kayak gitu, buat gua kesetanan. Habis lah dia! Gua berbalik, kini posisi gua yang ada di atas perutnya.
Kalau tadi dia nampar gua sekali, gua nampar dia sampe dua kali. Bajunya gua obrak-abrik sampe semua kancingnya terlepas dan memperlihatkan bra berwarna kulit melekat menutupi to*ket nya yang kecil.
Sorak-sorai teman sekelas yang menonton kami baku hantam buat pertarungan semakin seru. Namun, seperti hal yang biasa terjadi di film atau kisa novel, seorang siswa memanggil guru BP ke kelas untuk melerai kami.
Endingnya bisa dibayangkan. Dengan rambut berantakan, dan baju yang sudah robek dan tak berkancing, kamu berdua datang menghadap.
Kali ini para guru gak bisa langsung menyelamatkan gua kayak biasa karena rival gua Nuka, yang bokapnya juga punya power.
"Kalian ini kenapa, sih? Sudah kelas tiga, harusnya yang diperbanyak itu waktu belajar, bentar lagi mau ujian nasional, bukan malah gulat kayak berandalan!" tegur bapak kepala sekolah.
"Dia duluan, Pak. Aluna yang datang ke meja saya, terus nantang buat duel. Dia ini udah gila, Pak, sejak pacaran sama berandalan!" teriak Nuka tanpa takut. Gua mengangkat wajah menatap marah padanya. Terlihat di sudut bibirnya pecah, dan meneteskan darah segar.
"Apa, lu? Mau hajar gua lagi?"
"Dengarkan, Pak, dia yang nantang-in," tukas gua cari pembenaran.
"Sudah! Jangan diterusin lagi!" Kalian berdua bapak Skors. Besok panggil orang tua kalian!" Pak Kepsek tampaknya mau menunjukkan kalau dia bukan sekedar boneka di sekolah ini, dia juga punya power dan sudah seharusnya dihargai.
"Saya juga, Pak?" tanya gua tajam. Sekedar mengingatkan dia siapa tahu lupa, kalau gua cucu pemilik sekolah ini. Cucu tunggal!
__ADS_1
"Kamu juga, suruh wali kamu ke sekolah ini!"